Puncta 21.10.19 Luk 12:13-21: Serakah Sampai Mati

0
264 views
Ilustrasi (Ist)

KETIKA mendekati ajalnya, dengan wajah babak belur tak kenal rupa lagi, Duryudana masih mengerang melampiaskan nafsu serakahnya.

Ia bergumam kepada Werkudara yang mengalahkannya:

“Anggapanmu kamu yang menang? Tidak. Akulah yang menang. Sejak muda aku menikmati segala kenikmatan duniawi. Makan dengan ajang piring kencana, dilayani pramusaji yang molek cantik. Aku hidup dalam kemewahan di istana, tidak kurang suatu apa pun. Kamu dan saudara-saudaramu hidup terlunta-lunta di hutan. Kalau aku mati, negara Astina sudah kosong mlompong, tinggal anak yatim piatu dan janda-janda yang ditinggal mati suaminya di medan perang. Harta negara Astina sudah habis untuk biaya perang. Kamu tidak bisa menikmati apa-apa lagi. Semua sudah tumpes ludes. Kamu orang bodoh, gila mengejar nilai-nilai keutamaan hidup. Aku orang beruntung bisa merasakan kenikmatan duniawi.”

Orang serakah, kendati ajal menjemput yang dipikirkan hanya kenikmatan duniawi semata.

Bacaan Injil hari ini berbicara tentang keserakahan. Ada orang datang meminta kepada Yesus agar Ia mau membagi warisan di antara mereka.

Yesus berkata, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan! Sebab walaupun seseorang berlimpah-limpah hartanya hidupnya tidak tergantung dari kekayaannya itu.”

Seluruh barang-barang di dunia ini tidak cukup memenuhi keinginan satu orang yang serakah. Nafsu orang selalu ingin yang lebih. Ia merasa selalu kekurangan. Tidak perah merasa cukup.

St. Yohanes Maria Vianney menggambarkan sifat ketamakan seperti seekor babi yang mencari makanan di kubangan lumpur kotor. Ia tak peduli dari mana makanan itu berasal. Ia membungkuk dan dengan mulutnya babi mengais-ngais mencari makan.

Seorang yang tamak hanya memikirkan dirinya sendiri.

Yesus mengingatkan kita agar menghindari ketamakan atau kerakusan. Sebab segala hal yang kita kejar itu tidak akan kita bawa saat mati.

Kita lahir tidak membawa apa-apa. Kita mati pun juga tidak membawa apa-apa. Maka janganlah kita serakah.

Lebih baik kalau kita gunakan barang-barang duniawi untuk menolong sesama kita.

Pulang piknik koper beranak pinak
Isinya botol-botol berwarna biru
Berhati-hatilah dengan sifat tamak
Sahabat akan lari menjauhimu

Cawas, malam yang indah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here