Romo Pertapa Martin Suhartono: Mengembara tanpa Bentuk, Wajah, dan tanpa Nama (7)

0
3,133 views

MENGEMBARA tanpa bentuk, tanpa wajah dan tanpa nama. (Baca: Romo Pertapa Martin Suhartono: Dari Kaul Privat ke Kaul Publik Menjadi Eremit Diosesan KAS (1)

Banyak yang bertanya pada saya, sesudah tidak memakai singkat SJ (Serikat Jesus atau Jesuit) lagi di belakang nama saya (kecuali bila diartikan “Sanjoyo” atau Sandal Jepitan), singkatan apa yang akan saya pakai? Apakah “PR” (Praja)?

Saya tak berani memakai singkatan PR, meskipun saya imam tanpa tarekat yang diinkardinasikan atau dimasukkan ke KAS.

Ada beberapa alasan.

Alasan pertama, dalam Dekrit Inkardinasi, Bapa Uskup menulis “I incardinate you perpetually and absolutely as a diocesan hermit and priest for the service of the Archdiocese of Semarang”.

Yang pertama disebutkan di situ adalah pertapa keuskupan dan baru kemudian imam, bukan sebaliknya. Saya melihat diri saya sendiri, pertama-tama dan utama sebagai pertapa, dan baru kemudian imam.

Pernah saya mengatakan pada Rm Sindhunata, bahkan andaikata pun tak ada Uskup yang mau menerima saya sebagai imam, saya akan tetap hidup sebagai pertapa. Rm Sindhunata SJ waktu itu mencegah, “Wah, jangan gitu Martin! Itu namanya mlincur!”

Alasan kedua, para imam diosesan (imam praja) tidak mengikrarkan tiga kaul hidup bakti kemiskinan, kemurnian dan ketaatan sebagaimana para biarawan/wati dan eremit diosesan. Tentu saja karena tahbisan imamat, mereka diwajibkan hidup selibat dan taat kepada Uskup; namun mereka bukanlah biarawan/wati meskipun sering kali hidup lebih suci dari biarawan/wati.

Alasan ketiga, saya tak ingin merepotkan Bapa Uskup. Kalau banyak imam diosesan/imam praja lalu ingin hidup juga seperti saya, pelayanan pastoral jemaat akan terbengkelai. Eremit, andaikata ia juga imam, tidak punya kewajiban reksa pastoral di paroki seperti pastor paroki; ia berpartisipasi pada imamat Kristus dalam kesendirian-Nya di taman Getsemani dan Bukit Golgota. Eremit hanya boleh melayani orang di pertapaan dan tak boleh sembarangan keluyuran ke luar meski untuk melayani umat.

Sebenarnya, para imam diosesan, terutama di pelosok-pelosok sudah hidup dalam kesendirian, hanya saja dengan melayani paroki. Saat purna tugas, mereka juga akan menjadi “emerit(us/i)”, tak banyak beda dengan eremit yang dilihat dari kacamata umum adalah orang yang “doing nothing and being nobody in a nowhere place”. Sungguh tepat bahwa pembawa acara di Sendangsono mengumumkan bahwa saya akan mengikrarkan kaul kekal sebagai emerit!

Alasan keempat, sekarang ini istilah PR sudah mulai ditinggalkan. Di Majalah Hidup biasa dituliskan RD (Reverendus Dominus) (Tuan yang Terhormat) bagi para imam diosesan (imam praja), dan RP (Reverendus Pater/Bapa yang Terhormat) bagi imam anggota tarekat/ordo. Ini suatu gejala yang mengundang kontroversi pula, di kalangan umat maupun para imam diosesan sendiri.

Er.Dio atau ED

Di USA dan Kanada dipakai singkatan dari bahasa Latin bagi eremit diosesan, yaitu Er.Dio atau Erem.Dio atau E.D. (Eremita Diocesanus).

Singkatan ini dipakai oleh Uskup Purwokerto, Mgr. Julianus Sunarka SJ untuk menyebut para eremit beliau yang dengan subur bermunculan di Keuskupan Purwokerto sejak setahun yang lalu. Saat itu Rm Irwan Djunaedi SJ (angkatan novisiat dan tahbisan saya sebagai SJ di tahun 1985) dan Rm Maximilianus Rukminto (dari CSE dan menjadi imam diosesan Keuskupan Purwokerto) berikrar publik sementara selama 5 tahun sebagai Er.Dio di Pertapaan Cardoner di kaki Gunung Slamet, yang diresmikan juga pada hari itu, 8 September 2014. Ucapan Rm Sunarja dulu tidak terbukti. Sebelum saya, sudah ada eremit-eremit diosesan lebih dulu di tlatah Keuskupan Purwokerto.

Mgr.Julianus Sunarka SJ memakai juga istilah Rev. Er. (Reverendus Eremita) (Pertapa yang Terhormat) bagi Rm Irwan ErDio dan Rev. Xen. (Xenobit yang Terhormat) bagi Rm Maximilianus ErDio, yang setelah mendirikan Pertapaan Awam Oasis Sungai Kerith (OSK) dengan restu Mgr. Sunarka SJ tak jauh dari Pertapaan Cardoner, mulai hidup secara cenobit/senobit/kenobit dalam komunitas bersama para pertapa lain, pria maupun wanita.

Saya ingin menghindari memakai gelar-gelar atau pun singkatan-singkatan belakang nama seperti itu. Biarlah tak ada singkatan yang menggantikan singkatan SJ di belakang nama saya. Er.Dio biasa disingkat di Barat sana menjadi E.D.

Repot juga, bisa-bisa dikira Enjakulasi Dini atau juga Erectile Dysfunction, meskipun andaikata para eremit, atau para imam, menderita kedua hal itu mungkin tidak akan sampai merepotkan diri sendiri, atau pun kadang sampai merepotkan umat tertentu juga. Dan tak perlu sampai harus memotongi jari tangan seperti poustinik Rusia yang saya kisahkan di atas.

Di kalangan para eremit diosesan pun terdapat perbedaan pendapat. Ada yang mau memakai singkatan Er.Dio untuk membedakan diri dari umat awam dan biarawan/wati lain. Tapi ada juga yang tidak mau.

Saya termasuk golongan kedua ini. Menurut hemat saya, Kanon 603 itu membuka peluang bahwa seseorang beriman kristiani bisa menghayati hidup berdasarkan tri- prasetya injili kemiskinan, kemurnian, ketaatan secara publik dalam Gereja Katolik lepas dari institusi/tarekat mana pun.

Pada dasarnya, seorang eremit itu tak bisa diikat dalam institusi, lembaga, mana pun, karena ia hidup digerakkan semata-mata oleh Roh yang mendorongnya ke padang gurun, yang memang bisa didengar bunyinya dan dirasakan geraknya, tapi tak diketahui dari mana datangnya dan ke mana perginya (bdk. Yoh 3: 8).

Maka dari itu usaha menandai diri sendiri dengan singkatan istimewa, melembagakan, atau bahkan mengkomunitaskan eremit, justru bertentangan dengan jiwa eremit itu sendiri, yang mau hidup dalam eremos, padang gurun, yang dikenal sebagai tempat yang tanpa bentuk. Seorang teman Itali mengomentari bahwa eremit adalah seorang anarkhis.

Karena itu pula teks tertulis, resmi disetujui Uskup, yang menjadi pegangan hidup seorang eremit diosesan, tidak disebut Konstitusi seperti dalam Lembaga/Tarekat Hidup Bakti, bukan juga Regula Vitae (Aturan Hidup) seperti dalam biara monastik, melainkan sekedar Ratio Vivendi (Program Hidup, Corak Hidup), yang harus selalu diperbarui, disesuaikan dengan hidup nyata yang digulati seorang eremit.

Saya bahagia bahwa para bapak ibu di dukuh memanggil saya “Pak Romo” atau sekedar “Pak” dan anak-anak “Mbah Romo”, dan Karangtaruna malahan cukup mengistilahkan saya sebagai “Mbah-e” bila membicarakan saya.

Hanya saja secara humoris, sejak kaul kekal ini saya mengubah signature di bawah email saya, bukan lagi “Ma®tin-on-d’Hill” (bisa diplesetkan jadi ondhel-ondhel karena kepala gundul saya ini yang sering diejek anak-anak dukuh sebagai ondhel-ondhel), melainkan “Ma®tin d’hermit” (dari ‘diocesan hermit’ dan dibaca: dhemit!). (Baca:   Romo Pertapa Martin Suhartono: Mengembara dalam Pencarian Batin Terus-menerus (8)

Kredit foto: Misa syukur Tahun Hidup Bakti sekaligus menandai kaul ikrar publik Romo pertapa Martin Suhartono Sanjoyo sebagai eremit diosesan KAS (Coutesy of  Romo Antonius Dadang Hermawan/KAS)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here