Salam Hormat untuk Guru

0
92 views
Ilustrasi: Suster ADM mengajar di kelas. (ist)

TADI pagi pukul 08.16, masuk pesan Whatsapp dari seorang sahabat dekat yang lama tak jumpa. Saya memanggilnya “Dokter Doddy”.

Beliau seorang dokter senior, Spesialis Mata. Pernah berkiprah sebagai anggota TNI. Pernah malang melintang di perusahaan tambang besar dan terkenal.

Jangan ditanya jam praktik beliau di RS atau Klinik Mata. api mengapa Dokter Doddy, pagi-pagi mengirim pesan kepada saya?

Terimakasih telah diingatkan, hari ini adalah tanggal 25 November 2019. “Hari Guru Nasional”. Tak pernah absen, beliau selalu mengucapkan “Selamat Hari Guru Nasional” kepada saya.

Tapi apa relevansinya? Simak saja pesannya.

“Selamat Hari Guru. Karena guru saya bisa sehat, mengerti dan mandiri. Guru memang patriot tanpa tanda jasa. Betul.”

Hormat saya untuk almarhum Pak Susmono dan almarhumah ibu Susmono. Keduanya memberi kemampuan untuk sehat, mengerti dan mandiri.

Semoga beliau berdua berada di sana penuh kedamaian abadi. Amin”.

Pak dan ibu Susmono adalah guru-guru SMP beliau di kota Semarang. Pak Susmono adalah guru Ilmu Alam dan Kesenian, ibu Susmono Ilmu Ukur. Kebetulan, kedua guru Dokter Doddy itu adalah bapak dan ibu saya.

Sudah sering Dokter Doddy menceritakan “kehebatan” guru-gurunya semasa di SD (dulu SR), SMP dan SMA. Tentang kemampuan mengajar yang sangat jempolan, tentang penguasaan materi yang dalam dan merata, plus hubungan yang sangat baik, tidak hanya dengan muridnya saja, tetapi juga dengan orangtua murid.

Sang guru menganggap murid-muridnya seperti anak-anaknya sendiri. Bapak dan ibu guru adalah orangtua mereka saat berada di sekolah.

Kunjung-mengunjung adalah hal yang lumrah. Setiap Hari Raya Keagamaan, “ucapan selamat” berseliweran ke rumah sang guru.

Yang paling spesial adalah Dokter Doddy bercerita tentang guru Ilmu Ukur-nya yang mengambil cuti melahirkan saat kelas 2 SMP, lebih 60 tahun lalu.

Diam-diam saya bergumam, “Ibu guru cuti untuk melahirkan saya.”

Kini, cerita indah Dokter Doddy akan guru-gurunya sudah tinggal kenangan. Jangan coba-coba membayangkan itu terjadi di zaman sekarang.

Proses belajar–mengajar sudah sangat jauh berbeda. Guru dan murid bukan lagi menjadi “subjek bersama”, tetapi “objek bersama”.

Lantas siapa “subyeknya”?.

Berubah-ubah, tergantung kebutuhan. Kadang menterinya, kadang peraturannya, kadang kurikulumnya, lebih sering industri atau bisnis yang melingkupi sistem pendidikan itu.

Kalau konteksnya demikian, bagaimana mungkin si murid dapat begitu terkesan dengan gurunya, sampai diingat 60 tahun kemudian?

Pesan yang saya terima tadi pagi membuat saya bangga, terharu, bahkan merinding. Tidak hanya kepada kedua orang tua saya, tetapi juga kepada teman-teman sejawat mereka yang hidup pada zaman lampau.

Kepada profesi guru yang saat itu begitu mulia. Masyarakat dan negara menghormati “GURU” sebagai “patut digugu (diteladani, diikuti) dan ditiru”.

Murid-murid zaman dulu lebih beruntung mempunyai guru-guru yang tidak hanya berperan sebagai pendidik, (bukan hanya pengajar) tapi sekaligus orang tua kedua, dan “sahabat”.

“Kemewahan” yang sudah terbang entah kemana, ditelan kemajuan zaman yang sering didendangkan dengan “ndakik-ndakik”.

Bersamaan dengan perayaan “Hari Guru Nasional”, sebagai iringan salam hormat kepada seluruh guru di Indonesia, saya akan mengutip hasil deklarasi yang dihasilkan oleh “World Innovation Summit for Education (WISE) ke-5”, 28-31 Oktober 2013 di Doha, Qatar.

Judulnya: “Guru Kaku Sudah Tak Laku” (Kompas, 25 November 2013, halaman 14).

Guru ideal bila dia kreatif, inovatif, penuh semangat, empati, dan luwes berperan sebagai fasilitator.

Simak pula pendapat Mr. Denise Vaillant, Ketua Umum “PGRI Uruguay”.

”Jangan hanya guru yang disuruh berubah, seiring kemajuan teknologi”.

Jangan hanya guru yang harus meningkatkan kepandaiannya, sampai setaraf Einstein. Jangan hanya guru yang harus memperbaiki moralnya, sampai selevel sufi. Jangan hanya guru yang harus mau mengabdi, sampai setara Bunda Teresa.

Perbaiki dulu sistemnya. Ubah dulu sikap masyarakatnya. Bangun negara yang menghargai guru sebagai seorang pejuang.

Untuk seluruh bapak dan ibu Guru Indonesia, saya mengucapkan : “Selamat Hari Guru Nasional”. Kami mengakui bahwa profesi guru identik dengan kepeloporan dan kejuangan. Tetapi, jangan terlena.

Izinkanlah saya mengutip penggalan pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Makarim, menyambut Hari Guru Nasional 2019.

“Lakukan perubahan kecil di kelas anda. Apa pun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama ‘Indonesia’ ini pasti akan bergerak.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here