Sekilas tentang Kardinal: Pentingnya Indonesia bagi Vatikan dan Semangat Deklarasi Abu Dhabi (3)

0
1,804 views
Para Uskup Indonesia tengah menunggu giliran waktu melakukan kunjungan ad limina menghadap bersama-sama bertemu muka dengan Paus Fransiskus di Vatikan, Juni 2019. (Ist)

MARI kita mulai dari sisi mana sehingga –katakanlah—Uskup Agung KAJ Mgr. Ignatius Suharyo sampai diangkat menjadi Kardinal.

Dengan Mgr. Suharyo menjadi Kardinal, maka kini Gereja Katolik Indonesia telah memiliki tiga orang Kardinal.

  1. Justinus Kardinal Darmojuwono (alm) diangkat menjadi Kardinal pada tahun 1967. Pada saat yang sama, beliau menjabat Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang (KAS).

Bapak Kardinal Justinus Darmojuwono menjadi Uskup Agung KAS mulai tahun 1963. Beliau mengisi sede vacante yakni lowoknya kekuasaan pemerintahan gerejani di Keuskupan Agung Semarang. Itu lantaran Mgr. Albertus Soegijapranata SJ meninggal dunia di Belanda, di sela-sela rehat mengikuti Sidang Konsili Vatikan 2 di Roma.

Justinus Kardinal Darmojuwono menjadi Kardinal pertama untuk Gereja Katolik Indonesia.

2. Julius Kardinal Darmaatmadja SJ diangkat menjadi Kardinal pada tahun 1994, saat mana beliau masih menjabat Uskup Agung KAS.

Sebelumya akhirnya berkarya di KAJ dan kemudian pensiun karena usia lanjut, beliau adalah Uskup Agung KAS (1983-1994).

Sebelum menjabat Uskup KAS, beliau menjadi Provinsial Ordo Serikat Yesus (Jesuit) Provinsi Indonesia (1981-1983) dan tahun-tahun sebelumnya menjabat Rektor Seminari Mertoyudan (1978-1981).

3. Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo akan dilantik menjadi Kardinal dalam Sidang Para Kardinal yang disebut Konsistori pada tanggal 5 Oktober 2019.

Saat ini, Mgr. Ignatius Suharyo menjabat Uskup Agung KAJ yang mulai diembannya sejak tahun 2000.

Sebelumnya, Mgr. Ignatius Suharyo menjabat Uskup Agung KAS sejak tahun 1997.

Sampai hari ini, beliau masih menjabat Ketua KWI sejak tahun 2012. Jabatan ini beliau ampu selama tiga kali periode.

Ini merupakan hal yang tidak biasa di KWI, karena jabatan itu seyogyanya dua kali periode masa jabatan saja.

Namun, sesuai statuta KWI sebagaimana dikatakan Romo August Surianto Pr– masa jabatan Ketua KWI melebihi “ketentuan umum” itu tetap saja dimungkinkan. Dan itu terjadi melalui suara sekian prosen pada putaran pertama.

“Tentu sebelumnya harus harus diberi pertimbangan-pertimbangan penting yang menjadi alasannya,” tulis Romo August Surianto Pr menjawab Sesawi.Net hari Sabtu pagi (7/9/19).

Dalam Sidang Sinodal 2018 diajukan beberapa alasan sehingga Mgr. Ignatius Suharyo sampai menjabat Ketua KWI untuk ketiga kali periode.

  1. Tahun 2019 menjadi Tahun Elektoral, sehingga KWI merasa perlu tetap mempertahankan soliditas kepemimpinan. Kalau mengangkat Ketua KWI baru, tentunya akan mengalami kegamangan mengemban tugas berat ini.
  2. Perlu konsistensi menjaga kebijakan yang sudah dibuat, mengingat KWI baru saja mengambil keputusan akan membangun gedung baru.
  3. Para uskup senior rata-rata berusia menjelang akan pensiun. Sementara, para uskup tahbisan anyar masih berusia sangat muda dan juga baru tune in dengan dinamika KWI.

Selama beberapa tahun sejak 1981, Mgr. Suharyo dalam kapasitasnya sebagai dosen Kitab Suci berkarya di bidang formatio (pendidikan dan pembinaan para frater calon imam) di Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan Yogyakarta. Selama kurun waktu yang lama pula, beliau menjabat Dekan Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Yang menarik perhatian kita semua adalah fakta bahwa ketiga Kardinal di atas itu semuanya adalah alumni “lulusan” Keuskupan Agung Semarang. Masing-masing dalam kapasitasnya sebagai Uskup Agung KAS.

Bukan “ad hominem”

Sekarang kita kembali kepada pertanyaan di awal artikel ini.

Mengapa dan kira-kira atas alasan apa sehingga Gereja Katolik Indonesia memikat perhatian Vatikan?

Ini menarik, karena Vatikan telah memilih Mgr. Ignatius Suharyo –dan bukan yang lain- menjadi Kardinal baru.

Padahal, sampai sekarang Gereja Katolik Indonesia masih “punya” Kardinal Julius Darmaatmadja SJ.  Beliau kini menikmati masa purna karya di Wisma Emmaus Girisonta dengan tugas baru yakni mendoakan Ordo Jesuit dan Gereja.

Dalam konferensi pers dengan 60-an media dari dalam dan luar negeri di Gedung Pastoral KAJ hari Kamis tanggal 5 September lalu, Mgr. Ignatius Suharyo memberi semacam “latar belakang” mengapa kira-kira Vatikan tertarik melirik Gereja Katolik Indonesia dan kemudian “mengganjarnya” dengan pengangkatan Kardinal baru.

Mgr. Suharyo dengan kerendahan hatinya menampik kesan umum bahwa pilihan Vatikan yang “jatuh” kepadanya itu lantaran karena dia telah “berprestasi”.

Bukan itu, begitu jawabnya kepada media. Bukan persona, namun kiprah Gereja Katolik Indonesia

Mgr. Suharyo mengajak media lebih melihat perspektif “cara pandang” Vatikan dalam melihat Indonesia dan Gereja Katolik Indonesia.

Deklarasi Abu Dhabi di Uni Emirat Arab (UEA), Februari 2019

Di Abu Dhabi, pada bulan Februari 2019 terjadi peristiwa penting dalam sejarah Gereja Katolik Semesta di era modern ini. Di Ibukota UEA pada tanggal 7 Februari itulah Paus Fransiskus bertemu dengan Imam Besar Al Azhar Syeikh Ahmed Al Tayeb dari Mesir.

Kedua pemimpin agama dengan jumlah anggotanya sangat besar ini bertemu untuk menandatangani Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama.

Dokumen penting ini kemudian dikenal sebagai Dekarasi Abu Dhabi.

Lalu apa kaitannya dengan Indonesia dan Gereja Katolik Indonesia?

Tentang ide besar ini, Mgr. Suharyo menjelaskan perspektif dan “cara pandang” Vatikan dalam melihat Indonesia dan Gereja Katolik Indonesia.

  1. Indonesia adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia.
  2. Indonesia memiliki dua organisasi muslim moderat yang peran pentingnya dalam membangun NKRI dan menjaga Pancasila sudah tidak diragukan lagi. Yakni, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.
  3. Gereja Indonesia melalui para pemimpinnya –baik uskup maupun para pastor paroki atau para pastor karya kategorial- senantiasa menjalin komunikasi baik dan hubungan kerjasama yang konstruktif dengan kedua organisasi Islam terbesar di Indonesia dan kelompok-kelompok lintas agama lainnya.
  4. Indonesia menjadi contoh riil dan baik tentang sebuah masyarakat super pluralis dalam banyak hal kehidupan (keyakinan religius, budaya, etnis, bahasa, sistem tata nilai sosial, adat-istiadat) berbeda satu sama lain namun tetap bisa hidup rukun dan damai dalam bingkai sebuah negara kesatuan Republik Indonesia.
  5. Di situ, Gereja Katolik Indonesia telah menunjukkan ambil peran yang sangat dinamis dalam hubungannya menjaga NKRI dan kerjasama lintas iman dalam menyikapi beberapa masalah aktual di bidang HAM, kerusakan lingkungan, program mengatasi human trafficking, isu-isu kemanusiaan lainnya seperti pengungsi migran dari LN, tanggap kemanusiaan atas bencana alam, dan masih banyak lagi.
  6. Gereja Katolik Indonesia menunjukkan diri hidup dan berkembang secara sangat dinamis. Bukan karena soal pertambahan jumlah, melainkan lebih karena semakin banyak orang Katolik ikut terlibat aktif dalam hidup bermasyarakat di bidang politik (menjadi anggota partai politik, pengamat, pejabat publik), sosial dan lingkungan (gerakan-gerakan cinta lingkungan, go-green activities), pemerhati isu-isu kemanusiaan (persamaan jender, peduli dengan kaum tersisih, dan lainnya).
  7. Secara liturgikal, Gereja Katolik Indonesia selalu “ramai” dan full house manakala berlangsung peribadatan. Baik itu Perayaan Ekaristi maupun kegiatan misa Jumat Pertama atau Novena. “Ada tujuh kali Perayaan Ekaristi di Gereja Katedral Jakarta dan itu selalu penuh sesak. Sementara, pemandangan semacam ini semakin langka di Eropa. Bahkan saat Hari Raya Pentakosta di Roma pun, gereja di sana hanya ada 20-an orang yang ikut misa,” papar Mgr. Ignatius Suharyo.

Gerak perkembangan Gereja Katolik Indonesia yang sangat dinamis itu menarik perhatian Vatikan. Pun pula, hal yang sama terjadi di sejumlah negara di Afrika sehingga ada dua Kardinal baru dari kawasan Afrika juga akan dilantik di Vatikan nanti tanggal 5 Oktober 2019.

Kunjungan ad limina

Ada tiga poin penting yang disampaikan Mgr. Suharyo tentang hasil pertemuan dengan Paus bersama para Uskup Indonesia dalam kunjungan resmi ad limina sowan menghadap Bapa Suci di pertengahan bulan Juni 2019 lalu.

Salah satu pesan penting Paus Fransiskus adalah agar para Uskup, para imam dan kaum religius Indonesia –termasuk kaum awam– segera mempelajari isi Deklarasi Abu Dhabi itu dan kemudian mempraktikkan semangatnya.

Terkait dengan Deklarasi Abu Dhabi itu, Mgr. Ignatius Suharyo mendapat pesan dari Bapa Suci agar isi dokumen penting itu dipelajari dengan seksama dan dipraktikkan oleh Gereja Katolik Indonesia, termasuk oleh segenap Umat Katolik sampai di wilayah akar rumput.

Paus Fransiskus juga berpesan agar semangat dasar yang tersaji dalam Deklarasi Abu Dhabi itu bisa dijadikan “watak” Gereja Katolik Indonesia di mana pun Umat Katolik itu berada.

“Karena hal-hal yang dikatakan di dalam Deklarasi Abu Dhabi itu adalah tentang masalah-masalah kemanusiaan umum,” tutur Mgr. Suharyo dalam audiensi bersama para religius yang tergabung dalam forum IRRIKA Italia di Rumah Generalat Ursulin di Roma, pertengahan Juni 2019 lalu.

Kepada Paus saat kunjungan ad limina itu, Mgr. Ignatius Suharyo menjawab bahwa Sidang Tahunan KWI di bulan November 2019 mendatang –seperti biasa—akan diawali dengan Hari Studi. Nah, pada Hari Studi KWI itulah para Uskup akan mempelajari teks Deklarasi Abu Dhabi bersama para narasumber yang berkompeten di bidangnya.

Lebih lanjut, kata Mgr. Ignatius Suharyo mengatakan di forum IRRIKA Italia itu demikian.

“Yang menarik lagi di negara kita Indonesia ini, dokumen Deklarasi Abu Dhabi itu malah sudah ramai diperbincangkan bukan oleh Umat Katolik atau Gereja Katolik. Melainkan, yang mengambil inisiatif untuk mendiskusikannya itu adalah organisasi-organisasi Islam, di antaranya Wahid Foundation, Maarif Insitute, dan Universitas Paramadina.”

“Justru kita, Gereja Katolik Indonesia, sering mendapat undangan agar bersedia hadir dalam perbincangan itu. Bukan kita –Gereja Katolik dan Umat Katolik– yang telah berprakarsa ingin mengadakannya, melainkan kita semua selalu menunggu untuk diundang pihak lain,” papar Mgr. Ignatius Suharyo.

“Bahkan pesantren-pesantren juga sudah menjadikan dokumen Deklarasi Abu Dhabi itu menjadi bacaan wajib bagi para santri setiap hari selama bulan Ramadhan lalu,” terangnya lagi.

Sejarah diplomatik Vatikan-Indonesia sejak tahun 1946

Faktor lainnya adalah sejarah panjang hubungan diplomatik Indonesia dan Vatikan yang sudah terpatri sejak tahun 1946.

Tercatat Presiden pertama RI Ir. Soekarno alias Bung Karono pernah sebanyak tiga kali datang berkunjung ke Vatikan.

Dalam kunjungan tiga kali yang berbeda-beda waktu itu ke Vatikan itu, Bung Karno bertemu dengan tiga Paus berbeda: Paus Pius XI, Paus Johannes XXIII, dan Paus Paulus VI.

Kesimpulan Mgr. Ignatius Suharyo atas pengangkatannya menjadi Kardinal itu bukan karena prestasinya. Melainkan banyak faktor yang kiranya telah menjadi minat dan perhatian Vatikan –terutama Paus Fransiskus—dalam langgamnya memimpin Gereja Katolik Semesta masa depan.

Karena itu, Mgr. Ignatius Suharyo memaknai pengangkatannya sebagai Kardinal itu sebagai bentuk penghargaan Vatikan kepada Gereja Katolik Indonesia dan NKRI.(Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here