Seminaris St. Petrus Kanisius Mertoyudan Juarai Lomba Menulis

0
1,601 views
Judha (kanan) bersama Pamong Umum Seminari Mertoyudan, Pastor Saptana Hadi Pr
Judha (kanan) bersama Pamong Umum Seminari Mertoyudan, Pastor Saptana Hadi Pr

JAKARTA, SESAWI.NET – Dua orang remaja memenangkan hadiah utama pada acara Lomba menulis nasional pada “UNICEF Award” yang diumumkan hari ini. Penghargaan yang diselenggarakan oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) dan UNICEF ini telah menyeleksi lebih dari 1.100 anak muda usia setingkat SMP dan SMA dan karya-karyanya dari seluruh Indonesia.

Pemenang utama tingkat SMP diraih oleh siswa SMPN 1 Jember, Citi Rahmawati Serfiyani yang esainya berjudul “Pancasila Tak akan Tegak Tanpa Kejujuran dan Kerja Keras”. Sementara pemenang utama tingkat SMA diraih siswa SMa Seminari Mertoyudan, Magelang, Johanes Baptis Judha Jiwangga yang esainya berjudul “Bambu dalam Filsafat Jawa.”

“Anak dan Nilai-nilai Luhur” diangkat menjadi tema ribuan tulisan yang masuk ke dewan juri karena, kata Lily situasi negara kita saat ini serba kurang kondusif bagi kemajuan bangsa. Nilai-nilai luhur seperti kejujuran, keberanian, keteladanan, ketulusan dan lain-lain merosot saat ini.

“Pentingnya penanaman nilai-nilai luhur menjadi perhatian YKAI. Melalui lomba ini kita seakan-akan menjaring jawaban atas pertanyaan bagaimana remaja memandang situasi bangsa yang karut marut ini. Anda akan terpukau atas pemikiran anak sekolah menengah yang mengaitkan falsafah Jawa yang harus dipegang bagi kita semua demi memajukan bangsa ini.” ujar Presiden YKAI Profesor Rilantono Lily, Senin (21/11/2011), di Hotel Le Meridien, Jakarta.

Karya Judha Jiwangga yang disapa Jeje misalnya mengajak masyarakat terutama anak muda untuk belajar dari bambu. Ide yang kata pria yang gemar membaca ini diambil dari tulisan karangan GP Sindhunata SJ berjudul “Ngelmu Pring” yang kemudian dijadikan lagu hip hop oleh kelompok musik Jogja Hip-Hop Foundation ini menyiratkan banyak nilai luhur.

Bambu, katanya merupakan tanaman yang sangat dekat dengan kehidupan orang Jawa. Kita bisa belajar dari hal yang akrab dengan hidup kita. Satu contoh frase yang menyebut “Pring wuluh, urip iku tuwuh, aja mung embuh, ethok-ethok ora weruh” (bambu wuluh, hidup itu bertumbuh, jangan cuma bilang tidak tahu, pura-pura tak tahu) menyatakan bahwa sebagai makhluk sosial, kita hidup saling melengkapi.

Dewasa ini banyak dari kita yang hidup sebagai makhluk individualis. Kita menganggap bahwa kita bisa hidup sendiri dan bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Kita diciptakan Tuhan untuk saling melengkapi. Kita diciptakan dengan kelemahan dan ketidaksempurnaan. Ketika ada yang mengalami susah, maka sudah selayaknya kita membantunya. Kita hendaknya peduli dengan sesama dan jangan bersikap acuh tak acuh.

Ekspresi
Meski kali ini peserta yang lomba tidak mengalam lonjakan yang begitu luar biasa, menurut Lily bukan hal yang menggelisahkan. Kali ini bahkan ada anak siswa SMP Sekolah Indonesia Mekkah di Arab Saudi yang ikut lomba. Artinya, meski berada di luar negeri perhatian remaja akan kondisi bangsa menjadi hal yang patut dihargai.

“UNICEF sangat bangga telah mendukung suatau sarana bagi orang muda di Indonesia untuk mengekspresikan pandangan mereka, pendapat dan berkontribusi untuk proses pengambilan keputusan yang memengaruhi mereka,” kata Perwakilan UNICEF di Indonesia Angela Kearney.

Karya para pemenang bersama 18 orang finalis lainnya selanjutnya akan disusun dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang menyajikan pembaca dengan pikiran-pikiran dan ekspresi kreatif dari generasi muda Indonesia.

Diharapkan, kegiatan ini akan memungkinkan orang muda berpartisipasi sebagai anggota aktif dari masyarakat dan berkontribusi terhadap proses pembangunan negara, kata Lily.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here