Surat Gembala Prapaskah 2019 Keuskupan Ketapang: “Bijak Berteknologi Menuju Kalimantan Baru”

0
208 views
Uskup Keuskupan Ketapang - Mgr. Pius Riana Prapdi. (ist)

“Bijak Berteknologi Menuju Kalimantan Baru”

Dibacakan hari Minggu Biasa VIII Tahun C/1, tanggal 2-3 Maret 2019

SAUDARI-saudaraku yang terkasih dalam Kristus,

Pada hari Rabu, tanggal 6 Maret 2019, kita memasuki Masa Prapaskah.

Masa Prapaskah adalah waktu untuk memperdalam iman, membeningkan hati dan memperbanyak amal.

Masa Prapaskah tahun ini adalah istimewa karena dalam Pekan Suci, tepatnya tanggal 17 April 2019 kita menentukan pilihan untuk Presiden, Wakil Presiden, dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat serta Dewan Perwakilan Daerah.

Sedangkan tema Aksi Puasa Pembangunan Regio Kalimantan adalah: “Bijak Berteknologi Menuju Kalimantan Baru”.

Kita bersyukur karena Injil mengingatkan kita untuk tidak mencari kesalahan orang. Kita diajak untuk berani mengakui kesalahan sendiri.

Pengakuan yang jujur mengukuhkan martabat kita sebagai citra Allah. Pengakuan yang jujur membuat hati kita bening, menyuburkan kerendahan hati dan bekerja dengan giat.

“Mengapa kamu melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui.”

Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik sedangkan pohon yang tidak baik akan menghasilkan buah yang tidak baik.

Demikian juga orang yang baik hatinya akan menghasilkan karya-karya yang baik. Tetapi bila dalam hatinya tersimpan yang tidak baik, akan mengeluarkan yang tidak baik pula, entah dalam kata-kata maupun tindakan. Sulit membayangkan dari hati yang tidak baik, menghasilkan kebaikan.

Logo Keuskupan Ketapang

Saudari-saudaraku terkasih,

Marilah kita melihat diri kita secara bening dan menyingkirkan hal-hal buruk dari hati kita. Hanya dalam hati yang bening dan pikiran jernih, kita dapat menentukan pilihan.

Dalam bacaan, kita mendapat nasihat: “Jangan memuji seseorang sebelum ia bicara, sebab justru itulah batu ujian manusia.”

Dengan nasihat itu,  kita uji para calon kita. Calon yang kita pilih adalah yang bicara dengan jujur, mendengarkan dengan rendah hati, bekerja dengan tulus dan tidak mencari-cari kesalahan orang lain.

Orang yang sibuk mencari-cari kesalahan, tidak mempunyai waktu untuk bekerja. Karena itu, pilihlah yang “selalu dalam pekerjaan…!”

Kejujuran, kerendahan hati, mendengarkan dan bekerja dengan tulus tidak cukup kalau hanya kita tuntut pada calon pemimpin dan wakil kita.

Kita pun harus mewujudkannya, lebih-lebih untuk membangun Kalimantan baru. Teknologi sudah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita. Teknologi memudahkan kita menjalani kehidupan.

Sebagai orang beriman kita harus jujur, rendah hati dan tulus dalam menggunakan teknologi agar tidak merendahkan martabat manusia.

Data survei mengatakan bahwa pengguna telepon genggam di Indonesia, tahun 2016 berjumlah 69,4 juta, kemudian tahun 2017 berjumlah 86,9 juta dan tahun 2018 sejumlah 103 juta.

Data itu membuktikan bahwa makin banyak orang menggantungkan hidupnya pada teknologi. Hampir semua sendi kehidupan semakin ditentukan dengan tenologi.

Di sisi lain, kita harus jujur melihat bahwa pembabatan hutan untuk perkebunan dan pertambangan di bumi Kalimantan juga telah memunculkan kerusakan, seperti banjir, kekeringan sumur, danau dan sungai, suhu udara dan iklim semakin tidak menentu.

Saudari-saudaraku terkasih,

Paus Yohanes Paulus II mengingatkan kita dalam penggunaan teknologi. “Kita tidak menolak ilmu pengetahuan dan teknologi modern, tetapi ilmu pengetahuan dan teknologi yang merusak lingkungan hidup harus ditolak, karena merusak lingkungan adalah melanggar moral sedangkan melestarikan lingkungan adalah kewajiban moral.”

Meskipun teknologi sangat membantu kita, namun tetap harus sadar bahwa harus berbicara dan bertindak dengan moral yang kuat. Orang yang berbicara dan bertindak dengan moral yang kuat akan membuahkan tindakan yang benar dan baik bagi semua (bdk. LS 102-105).

Sebab, “Tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik. dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik.”

Buah tindakan moral adalah berdamai dengan Allah, dengan sesama dan dengan bumi. Hanya dengan berdamai kita benar-benar hadir dan tinggal bersama sebagai citra Allah.

Bapak Uskup Keuskupan Ketapang Mgr. Pius Riana Prapdi menerima kesediaan postulan menjadi novis suster OSA. (Dok. Kongregasi Suster OSA Ketapang)

Bijaksana dalam berteknologi adalah cerminan hati yang damai. Kalau dalam Perang Dunia II manusia gagal mengendalikan teknologi sehingga melahirkan penderitaan, kini di zaman now kita gunakan teknologi secara bijak untuk melahirkan Kalimantan baru.

Buah penggunaan teknologi secara bijak adalah semakin peka terhadap kebaikan bersama. Mari kita mulai sekarang.

Kita menggunakan telepon genggam untuk menyebarkan sabda Allah, mewartakan kisah-kisah inspiratif adat kebiasaan kita, menggali pepatah petitih yang menguatkan perilaku moral dan seterusnya.

Kita kurangi penggunaan plastik, selofon dan kertas; kalau berbelanja ke toko atau pasar, kita bawa tas, penangkin atau keranjang yang bisa kita buat dari bambu atau rotan; kalau pergi ke kapel atau ladang atau kerja atau sekolah, kalau hanya 1-2 km, ayolah berjalan kaki; kalau mencari ikan di sungai pakailah jala, pancing atau bubu yang menjadi kekhasan kita, dan masih banyak yang lain.

Kearifan lokal seperti alat pertanian, alat perangkap tikus, penangkap ikan, memasak dalam bambu, membangun rumah, cara berkomunikasi secara adat, dapat dipadukan dengan teknologi.

Penggunaan penyedap rasa daun sengkubak, mentega dari buah tengkawang, penggunaan warna dari akar atau daun merupakan teknologi yang tidak kalah canggih dibandingkan dengan telepon genggam tipe mana pun dan sudah teruji ratuan tahun tetapi sayang dilupakan orang.

Menghidupkan secara baru teknologi adat Kalimantan merupakan tindakan moral yang menghasilkan kebaikan bagi lingkungan.

Marilah kita lakukan gerakan bersama: menghidupkan teknologi lokal yang dipadukan dengan teknologi milenial, agar Kalimantan benar-benar baru.

Semoga Tuhan memberkati segala usaha baik kita. Amin.

Ketapang, 22 Februari 2019

Salam, berkat dan doa selalu,

† Pius Riana Prapdi
Uskup Keuskupan Ketapang

————

Peraturan Puasa dan Pantang 2019 Keuskupan Ketapang

Mengacu pada Kitab Hukum Kanonik, kanon 1251 maka pantang dan puasa diatur sebagai berikut:

A. Masa Prapaskah berlangsung mulai Hari Rabu Abu, tanggal 06 Maret 2019 sampai dengan Hari Sabtu Suci tanggal 20 April 2019. Masa Prapaskah kita jalani dengan:

  • Tobat: tinggalkan dosa dan kebiasaan buruk yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.
  • Puasa: kendalikan diri dan kurangi makan-minum.
  • Pantang: hindari atau tidak makan atau minum makanan tertentu demi pengolahan diri.
  • Amal: bicara baik, bekerja dengan tulus perbanyak kebaikan bagi sesama.
  • Latihan Rohani: adakan pendalaman iman, renungkan sengsara Tuhan, terimalah sakramen (terutama Ekaristi dan Tobat).
  • Hindari pesta, hura-hura, foya-foya dsb.

B. Hari Puasa dan pantang tahun 2019 adalah hari Rabu Abu, tanggal 6 Maret dan hari Jumat Agung, tanggal 19 April 2019. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh kali hari Jumat selama Masa Prapaskah sampai dengan Jumat Agung.

C. Yang wajib berpuasa adalah semua orang Katolik yang berumur 19 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang berumur genap 14 tahun ke atas.

D. Cara puasa: mengurangi porsi atau jumlah makan dan makanan. Selama satu hari atau 24 jam hanya boleh makan kenyang satu kali saja dan tidak makan makanan lain (cemilan, snack).

E. Cara pantang: menghindari atau tidak makan suatu makanan atau minuman tertentu, misalnya tidak makan daging, ikan, garam, gula, snack, manisan, jajan, merokok. Pilihlah secara pribadi atau bersama-sama, misalnya satu keluarga, atau satu lingkungan, atau satu stasi, cara puasa dan pantang yang lebih sesuai dengan semangat tobat dan matiraga. Pantanglah dari makanan atau minuman yang paling disenangi.

F. Salah satu ungkapan tobat bersama dalam masa Prapaskah ialah Aksi Puasa Pembangunan atau APP, yang diharapkan mempunyai nilai dan dampak pembaharuan pribadi, serta mempunyai nilai dan dampak peningkatan solidaritas pada tingkat paroki, keuskupan dan nasional.

G. Semua dana yang diperoleh dari aksi pengumpulan dana selama Masa Prapaskah dari paroki, lembaga hidup bakti, lembaga gerejawi, sekolah dan kelompok kategorial lain, termasuk kolekte Sabtu-Minggu Palma tanggal 14 April 2019 DITETAPKAN sebagai berikut: 30% dikelola oleh paroki untuk menyelenggarakan kegiatan karitatif dan 70% dikirim kepada: Panitia APP Keuskupan Ketapang.

H. Selanjutnya, dana yang dikirim ke Panitia APP Keuskupan Ketapang: 40% dimanfaatkan oleh Panitia APP Keuskupan Ketapang untuk kegiatan pemberdayaan; 30% untuk pastoral keutuhan ciptaan; dan 30% dikirim ke KWI di Jakarta.

Ketapang, 22 Februari 2019

Salam, berkat dan doa selalu,

† Pius Riana Prapdi
Uskup Keuskupan Ketapang

Ref: Surat Gembala Prapaskah 2019 Keuskupan Ketapang “Bijak Berteknologi Menuju Kalimantan Baru”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here