Vietnam dalam Tiga Pekan: Di Hadapan Bunda Maria La Vang, Kutumpahkan Air Mataku (12)

0
3,442 views

MENANGIS tersedu-sedu kali ini menjadi solusi terbaik. Begitu saja terhadir di depan saya sebuah pemandangan yang tidak ‘biasa’ dan itu datang secara tiba-tiba menyeruak muncul di depan mata. Itulah pemandangan ketika seorang ibu muda dalam sekejap ambruk di depan patung Bunda Maria di La Vang, Hue, Vietnam Tengah.

Saya langsung terkesiap. Sepertinya saya juga tidak ‘siap’ menyaksikan pemandangan yang tidak biasa itu. Sore menjelang petang itu, kompleks peziarahan katolik Bunda Maria La Vang benar-benar sepi. Hanya ada dua peziarah mendatangi kompleks Bunda Maria La Vang yang super luas.

Mengadukan ‘nasib’

Saya lagi asyik sembahyang minta berkat rahmat kehidupan. Di belakang saya ada Thrung –pemuda tanggung Vietnam asal Saigon—yang juga datang untuk berziarah ke La Vang. Tak terasa, kedatangan dua perempuan setengah baya dari arah belakang itu sama sekali tidak saya sadari, lantaran saya sudah keburu kedinginan di tengah hawa super sejuk sekitar 5 C. Apalagi sebelumnya, kawasan ini juga diguyur hujan lebat.

Ibu setengah baya yang pertama langsung datang terseok-seok dengan tangisan haru yang membuat saya semedhot trenyuh (terharu). Ia menangis tersedu-sedu dengan nada tangisan yang super keras.

Saya jadi salah tingkah. Rasanya ingin menghibur ibu ini dari duka derita batin yang teramat dalam. Dalam tangisan itu, saya mendapat intuisi bahwa ibu ini sepertinya tidak bisa menerima kejadian malang yang baru saja melanda hidupnya. Kepada Bunda Maria di La Vang, ia menangisi jalan hidupnya yang malang.

Ternyata itu sangat benar.

Kehilangan anak tunggalnya

Baru 2 hari lalu, anak tunggal ibu ini meninggal dunia. Ibu ini tak bisa menerima kenyataan ini, setelah bertahun-tahun hidup dalam sebuah harapan besar: minta keturunan. Ketika satu-satunya keturunan yang lahir dari rahimnya akhirnya meninggal dunia, maka meledaklah duka cita yang teramat mendalam.

Kepada Bunda Maria di La Vang, ia memuntahkan kedukaan mendalam itu dengan rentetan tangis haru biru yang membuat orang yang mendengarnya jadi ikut trenyuh terharu.

Tak ada komunikasi kata antara saya  dan ibu malang ini. Namun, seorang ibu lain yang rupanya ikut menemani ‘peziarahan pelipur duka’ ini dengan bahasa isyarat memberitahu, kalau dia menangis tersedu-sedu dengan histeris itu karena sebah alasan yang sangat bisa dipahami.

Kematian menyentak

Kematian menjadi perstiwa menyedihkan yang menyentak eksistensi perempuan malang ini. Terutama menjadi hentakan eksistensial bagi dirinya sebagai ibu dari seorang anak tunggal. Ibu malang ini datang ‘mengadukan’ nasibnya kepada Bunda Maria di La Vang.

Temannya hanya bisa ‘mengampingi’ ibu malang ini dari jarak dekat. Sembari berdoa rosario, ibu pendamping ini mempersilahkan saya menyalami ibu malang ini, meski tak satu kata bahasa Vietnam pun saya mengerti.

Namun, bahasa hati telah mempersatukan kami dalam satu iman bersama: percaya akan ‘mukjizat’ Bunda Maria di La Vang, Hue, Vietnam Tengah. Dan mukjizat itu adalah hiburan batin bernama bersatu dalam iman yang sama.

Link:

Vietnam dalam Tiga Pekan: Katedral Ayam, Jejak Gereja Katolik di Da Lat (5);

Vietnam dalam Tiga Pekan: Gereja Katolik Keuskupan Da Lat Terlalu Indah Dilupakan (6)

Vietnam dalam Tiga Pekan: Proklamasi Kemerdekaan RI Bermula dari Da Lat (1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here