“Wis Ngoyot” (Sudah Berakar)

0
630 views

“Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.” (Luk 8, 13)

DI kalangan para imam, “wis ngoyot” atau sudah berakar merupakan istilah yang ditujukan untuk para imam yang tinggal di sebuah paroki dalam kurun waktu yang lama. Ada romo yang pernah bertugas dalam sebuah paroki selama delapan belas tahun. Bahkan ada seorang misionaris yang bertugas di sebuah paroki lebih dari empat puluh tahun. Dalam kurun waktu yang lama, mereka bertugas di sebuah paroki dan jarang atau tidak pernah berpindah ke paroki yang lain. Hidupnya sudah berakar di suatu tempat, sehingga bisa mengenal umatnya dalam beberapa generasi, mulai dari eyang sampai cucunya.

Sekelompok warga desa yang tinggal di tempat yang rawan bencana juga tidak mau dipindah ke tempat lain. Hidup dan mati, mereka lebih memilih tinggal di tempat tersebut. Sebab mereka sudah tinggal di tempat itu turun temurun. Mereka sudah berakar di suatu tempat, sehingga tidak mudah untuk direlokasi ke tempat lain.

Sebatang pohon yang sudah berakar biasanya juga sulit untuk dicabut. Kalaupun bisa dicabut, hal itu memerlukan usaha yang kuat. Sebaliknya, sebatang pohon dengan mudah dicabut, karena pohon tersebut tidak berakar secara mendalam.

“Wis ngoyot” tidak hanya berlaku bagi manusia atau pepohonan, tetapi juga berlaku terhadap firman Tuhan. Firman Tuhan bisa didengar dan diterima banyak orang. Banyak umat beriman bisa terpesona dan kagum dengan firman Tuhan yang mereka dengar. Mereka merasa gembira dan suka cita mendengar firman Tuhan yang mengena dan menguatkan. Bahkan tidak jarang mereka tersenyum dan tertawa, saat pengkotbah mewartakan firman Tuhan dengan lucu dan jenaka. Namun demikian, firman Tuhan itu rupanya sering tidak tumbuh subur dan tidak berakar secara mendalam dalam diri semua orang. Firman itu mulai kabur setelah kaki melangkah keluar gereja. Bahkan firman itu cepat lenyap ditelan emosi, iri dan kedengkian. Firman itu tidak membekas lagi, karena tersapu oleh kekerasan, kejahatan dan penderitaan.

Bagaimana firman itu tumbuh dalam diriku: berakar atau tidak? Teman-teman selamat malam dan selamat beristirahat. Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here