1.000 Hari Peringatan Linus Putut Pudyantoro: Va pensiero Sull’ali Durate (3)

0
418 views
Almarhum Linus Putut Pudyantoro bersama teman-teman alumni Seminari Mertoyudan tahun 1980-an, sehari menjelang tahbisan episkopal Uskup Agung KAS Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Bapak Uskup Agung KAS juga alumnus Mertoyudan di tahun yang sama. (Ist)

INGATANKU  kembali ke Ketapang. Hanya sepekan sebelum dia dipanggil Tuhan, almarhum Mas Putut Pudyantoro menyempatkan diri telah datang ke Ketapang.

Ini dalam rangka memberi pelatihan koor dan organis se-Keuskupan Ketapang, Provinsi Kalbar.

Waktu itu, saya tengah bertugas di Paroki Simpang Dua. Sekitar 6-7 jam perjalanan menuju Ketapang. Ya, tentu saja sangat tergantung musimnya. Kalau musim hujan. Waktu tempuh perjalanan akan bisa lebih lama.

Saya mengantar sendiri semua peserta dari Paroki Simpang Dua ke Kota Ketapang. Hanya karena saya pribadi sangat kenal dan ingin bertemu dengan Mas Putut.

Almarhum adalah kakak kelasku di Seminari Mertoyudan. Ia sudah menjadi orang top, terkenal karena lagu-lagunya dinyanyikan banyak orang.

Keahliannya tak disangsikan lagi. Maka Keuskupan Ketapang, waktu itu Vikjen Keuskupan Ketapang Romo Sutadi Pr, lalu berprakarsa mengundang dia untuk memberi pembekalan bagi aktivis yang berkecimpung di koor gereja dan petugas organis juga.

Rasa hormat

Saya langsung menemui almarhum Mas Putut di Rumah Bina Umat di Payak Kumang, Ketapang — tempat pembinaan dilangsungkan. “Romo Joko ini ya…,” sapanya renyah dan penuh semangat.

Senyumnya khas dengan mulut yang lebar.

Ternyata dia masih mengingatku. Dia menyebut aku romo, bukan memanggil nama, yang biasa dilakukan oleh kakak kelas kepada adiknya.

Ini adalah rasa hormat dan sikap rendah hati yang sering ditunjukkannya.

Ya, dia sangat menghormati para klerus, biarawan-biarawati. Kendati hidupnya sudah melanglang buana dan relasinya sangat luas serta punya pergaulan dengan orang hebat-hebat, para uskup, kardinal, baik dalam maupun luar negeri, tetapi sikap hormat dan kerendahan hatinya tetap muncul.

Bilamana berjumpa dengan kami, yang adalah imam di pedalaman dan bahkan adik kelasnya sekalipun.

Rasa hormat itu pasti sudah tertanam sejak di keluarga. Bapak Padmabusana dan Ibu Padmabusana juga sangat hormat dengan kami para imam yang pernah bertugas di Paroki Pugeran.

Saya pernah bertugas di Paroki Pugeran selama delapan tahun dan sering bertemu dengan pasutri top ini .

Pak Padmabusana kalau berbicara dengan para rama selalu memakai bahasa Jawa krama inggil. Sikap hormat dan rendah hati itu juga tertanam dalam diri alm. Mas Putut yang nampak dalam pergaulannya.

Almarhum Linus Putut Pudyantoro (baris depan, kedua dari kanan) bersama teman-teman seangkatan alumni Seminari Mertoyudan, termasuk juga Mgr. Robertus Rubiyatmoko. (Ist)

“Enthengan”

Kami berkumpul dengan beberapa teman alumni Seminari Mertoyudan yang ada di Ketapang, sambil makan di refter Payak Kumang. Di sana ada Vikjen Keuskupan Ketapang Romo Laurentius Sutadi, dan Romo Pamungkas “Lastsendy” Winarta Pr.

Kami semua larut dalam perbincangan hangat, sambil mengenang saat-saat indah di Seminari Mertoyudan. Kami ngobrol penuh sukacita layaknya teman lama yang tidak pernah bertemu. Apalagi bertemu di tempat yang tidak terduga seperti ini, terasa sangat menggetarkan.

Tertib waktu

Pembinaan bagi para dirigen, organis paroki dilakukan selama tiga hari. Almarhum Mas Putut bisa membagi waktu dengan tertib dan padat ketat.

Pagi hari, dia memberi pelatihan para dirigen. Kemudian mereka diajak latihan praktik. Sore harinya, para organis dikumpulkan untuk diberi pengarahan. Malam harinya mereka tampil bersama.

Jadwalnya sangat padat, karena waktu juga sangat terbatas. Keahlian Mas Putus sungguh  dimaksimalkan untuk membantu para petugas liturgi di paroki.

Mendengar yang hadir memberi pelatihan adalah pencipta lagu gereja yang andal.

Romo Budi Setya Pr yang waktu itu menjadi Rektor Seminari Menengah Santo Laurensius Ketapang menyodorkan teks kepada Mas Putut.  Untuk dibuatkan notasinya. Agar Seminari Laurensius mempunyai lagu mars.

Permintaan itu diterima dengan senang hati. Tidak berapa lama, Mas Putut mencoret-coret kertas dan terciptalah lagu mars Seminari Ketapang. 

Di sela-sela acaranya yang padat memberi pembekalan, dia masih bisa menghasilkan lagu untuk  Seminari Payak Kumang. Dia memang “enthengan”, suka membantu tanpa banyak alasan.

Va pensiero Sull’ali Durate

Kepiawaiannya menyanyi dan main musik sudah kelihatan sejak di Seminari Mertoyudan. Tiap tahun di Seminari Mertoyudan selalu ada kegiatan tahunan yang disebut “Mamuri”.

Inilah Malam Musik Seminari.

Tiap Medan (kelas) menampilkan kelompok koor untuk diperlombakan.  Aku menjadi dirigenn untuk medanku.

Medannya Mas Putut –kakak kelas kami– dikomandani oleh Wayan Mustika. Waktu itu, Mas Putut mengiringi dengan piano. Aku ingat medan mereka sudah tampil dan banyak tepuk tangan. Wah rada grogi juga.

Giliranku bersama angkatanku tampil membawakan lagu wajib Va Pensiero Sull’ali Durate karangan Giussepe Verdi. Lagu pertama baik dan tepuk kagum penonton terdengar. Mereka sudah merasa medanku yang akan menang. Tepuk tangan masih membahana, aku terburu-buru mengambil nada untuk lagu pilihan.

Nampaknya teman-teman tidak mendengar kunci nada karena gemuruhnya penonton. Ketika aku memberi aba-aba mulai, suara yang muncul tidak sesuai.

Aku menyetop dan mulai dari awal lagi.

Piala akhirnya jatuh di tangan Mas Putut dan teman-temannya. Tetapi dia masih datang dan menyalami aku, “Tadi kami sudah menyerah mendengar kalian menyanyikan lagu wajib, bagus banget….suatu saat, pasti kalian juara.”

Dia sangat sportif dan selalu mendukung serta memberi semangat yang lain.

Tahbisan Uskup

Perjumpaan pertama di Ketapang dengan Mas Putut adalah waktu tahbisan Uskup Keuskupan Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi.

Saya didapuk panitia harus  mengurusi tim liturgi tahbisan. Almarhum Mas Putut ikut datang mempersembahkan lagu mars tahbisan uskup. Titelnya Serviens in Caritate.

Ia juga membawa banyak CD lagu-lagu ciptaannya dan dibagi-bagikan kepada paroki-paroki se-Keuskupan Ketapang.

Dia melatih koor pengiring tahbisan di Katedral Ketapang. Kami berdecak kagum dengan kemampuannya. Kami yang sudah bertahun-tahun di pedalaman mengalami kesulitan melatih orang Dayak untuk menyanyi.

Tetapi berkat sentuhannya, orang-orang itu dapat menyanyi dengan bagus. Setiap kali turne ke stasi-stasi, saya melatih satu dua lagu bersama umat. waktu diajari, mereka bisa bernyanyi.

Tetapi sebulan kemudian saya datang lagi, lagunya sudah berubah tak karuan.

 Mas Putut bilang, ”Harus bisa menyelami karakter dan teknik suara mereka.” 

Bisa menyelami dan memahami karakter orang lain itulah pelajaran berharga yang kudapatkan dari kakak kelasku di Seminari Mertoyudan ini.

Terimakasih semoga engkau menjadi pendoa bagi kami para imam yang masih harus berjuang di dunia ini.

Nyanyikan lagu-lagumu di surga dan para malaikat pun bergembira.

Adik kelasmu di Seminari Mertoyudan –Romo A. Joko Purwanto Pr

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here