31 Tahun Seminari Menengah Santo Laurenisius Ketapang: 27 Imam Merupakan Alumni

0
194 views
Mgr Pius Riana Prapdi dan para staf seminari serta KPA angkatan 2.

PADA tanggal 10 Agustus 2020, Seminari Santo Laurensius Ketapang memperingati Hari Ulang Tahun yang ke-31. Ini sekaligus memperingati Pesta Santo Laurensius, pelindung seminari.

Perayaan pesta yang setiap tahun disebut Laurensius Day ini disyukuri dengan misa pagi yang dilaksanakan di Halaman Pieta Komplek Seminari St. Laurensius yang dipimpin oleh Romo Fransiskus Suandi. Selanjutnya persiapan pentas diadakan di refter lama oleh para seminaris.

Acara syukuran Laurensius Day dilaksanakan pada sore hari pada pukul 18.00. Acara tersebut dipimpin oleh dua orang seminaris pembawa acara, Wes dan Johan.

Sebelum memasuki acara inti, pembawa acara mengajak para hadirin untuk menyuarakan slogan Seminari St. Laurensius tahun 2020 ini: cerdas, kreatif dan visioner.

Dalam acara ini turut hadir tamu istimewa Bapa Uskup Mgr. Pius Riana Prapdi, Romo Bora, Romo Teddy, Romo Indra Lamboy, Romo Chemis, Bruder Robertus, Bruder Vitalis dan tamu undangan lainnya.

Selanjutnya mars Seminari St. Laurensius dikumandangkan bersama rektor, staf dan seminaris. Barulah kemudian dilanjutkan syering oleh perwakilan dari setiap tingkat.

Syering dari perwakilan tingkat 1 (satu) dibawakan oleh saudara Ancis. Ia mengatakan bahwa saat ini sudah terhitung berada di seminari sekitar 1 bulan lebih. Banyak sekali pembelajaran serta teladan yang ia dapatkan selama di seminari.

Khususnya tentang menulis refleksi harian secara rutin. Meskipun baru satu bulan, bukan berarti tidak ada masalah sama sekali. Namun, semua masalah tersebut dapat diatasi dengan saling memaafkan. Di seminari, ia merasakan pembinaan yang sangat baik dari staf.

Hanya di seminari saja, ia bisa mendalami bahasa Inggris dan bahasa Latin. Selain itu, ia belajar untuk menjadi rendah hati, saling melayani agar kelak mampu mengemban misi Gereja serta bangsa.

Syering pengalaman

Selanjutnya, syering dari perwakilan tingkat 2 dibawakan oleh Jeano.

Dalam masa pembinaan dan naik di tingkat 2, ia merasakan perkembangan di dalam kepribadiannya. Hal yang paling menarik baginya adalah ikut ambil bagian dalam Sidang Akademi.

Melalui Sidang Akademi, ia belajar untuk percaya diri dalam mengemukakan pendapat. Ia merasa bersyukur meskipun keadaan masih mengalami pandemi Covid-19, para seminaris dan semua tamu undangan bisa berkumpul bersama.

Mgr Pius Riana Prapdi dan para kelas KPA 1

Harapannya semoga di tahun berikutnya, kegiatan Laurentsius Day bisa lebih meriah dan lebih bersemangat serta pengembangan intelektual, jasmani dan rohani dapat ditingkatkan lebih baik.

Syering dari perwakilan tingkat 3 dibawakan oleh Johan yang bertugas sebagai Pembawa Acara. Ia menceritakan bagaimana sebelumnya ia tidak memiliki niat untuk menjadi imam atau seminaris.

Selain itu, oran tuanya berencana akan menyekolahkannya ke sekolah negeri, namun harus tinggal di kos. Ia berpikir bahwa tinggal di kos pasti tantangannya akan sangat besar.

Namun suatu hari, ia dan kedua orangtuanya memberikan opsi lain untuk tinggal di seminari. Awalnya kedua orang tuanya mengalami perdebatan karena perbedaan pendapat ini, setelah itu ia memutuskan untuk bersedia dan tinggal di seminari, barulah kedua orangtuanya berdamai kembali.

Johan sempat terharu menceritakan kisahnya ini. Selanjutnya, ia mengatakan bahwa penerimaan siswa di SMA PL St. Yohanes telah ditutup tiga hari yang lalu. Oleh karena, ia telah menjadi seminaris, Kepala Sekolah menerima Johan sebagai siswanya.

Ia menyimpulkan bahwa hal tersebut merupakan campur tangan Tuhan bagi dirinya. Di seminari, ia mengalami perubahan yang sangat drastis. Di rumah biasanya ia malas-malasan atau tidur-tiduran, di seminari ia mulai diajarkan disiplin dan hidup doa pribadi yang rutin.

Harapannya pada seminari adalah semoga semakin hari semakin banyak kaum muda yang terpanggil untuk menjadi Imam di Keuskupan Ketapang.

Mgr Pius Riana Prapdi dan para frater Tahun Orientasi Rohani.

Syering dari perwakilan Kelas Persiapan Atas (KPA) tingkat 1 yang dibawakan oleh Charlin.

Charlin ini sebelumnya bekerja di Keuskupan Ketapang. Ia dengan jujur mengatakan bahwa sebulan ini ia telah mengalami banyak perubahan.

Dahulu ia dijuluki si “Bujang Penidok” (baca: tukang tidur). Namun, ketika ia memutuskan untuk menyemai diri di seminari, ia tidak lagi sering mengalami ngantuk dan tidur. Ia mengisahkan perubahan kebiasaan yang dialaminya ketika ia masih di Keuskupan.

Waktu makan, ia biasanya mengenakan kaus T-shirt tetapi di seminari harus mengenakan pakaian yang rapi dan berkerah. Tidak hanya saat makan, tetapi juga saat ibadat pagi, misa, dan belajar.

Pernah pengin mundur

Syering dari perwakilan Kelas Persiapan Atas (KPA) tingkat 2 dibawakan oleh Hendrik. Sewaktu ia masih di KPA 1, ia sebenarnya kurang betah dan pernah berpikir untuk mengundurkan diri. Namun ketika ia mulai mengenal para seminaris, belajar hal-hal baru, dikuatkan maka ia mampu bertahan hingga saat ini.

Yang menjadi tantangan bagi dirinya adalah ketika ia harus belajar bangun tidur jam empat subuh. Kesan selama di seminari baginya adalah rasa bahagia, punya banyak teman dan mengalami banyak sekali pengalaman dan kebersamaan.

Mantan pengacara, calon imam praja Keuskupan Ketapang

Syering terakhir dari perwakilan Frater Tahun Orientasi Rohani (TOR) yang dibawakan oleh Frater Reginald.

Frater Regi ini merupakan warga dari Jakarta yang pernah bekerja sebagai pengacara. Ketika ia tiba di Ketapang, ia agak kaget karena keadaan yang dibayangkan awalnya berbeda dari kenyataan yang ia lihat sendiri.

Namun ketika mengalami perenungan sewaktu ia diwawancarai oleh Bapa Uskup, ia teringat pada pesan untuk “Mencintai Tuhan lebih dari apa pun”.

Kemudian ia mendalami perenungan itu dengan berdoa rosario dan novena pribadi. Saat ini, ia telah merasa kerasan dan betah mengikuti segala aktivitas dan rutinitas sehari-hari di Seminari St. Laurensius ini.

Ia merasa bersyukur mendapatkan teman-teman seangkatannya, Frater Fransesco dan Frater Lipo yang senantiasa memberikan semangat serta kekuatan untuknya.

Serta melalui teman-teman seminaris yang sangat bersemangat menjalankan tugas hariannya.

Kegiatan di Seminari ini membuat Frater Regi berkembang, ia belajar memasak, ber-opra dan aktivitas-aktivitas lainnya.

Ia berharap, dengan usia 31 tahun ini, Seminari St. Laurensius dapat meningkatkan kualitas para calon imam dan khususnya teman-teman yang sudah bekerja semakin banyak yang terpanggil menjadi calon imam meskipun harus meninggalkan pekerjaannya dan juga pendidikannya.

Potong kue dan nonton pentas sitcom.

Harapan ke depan

Setelah memberikan beberapa syering serta pengalaman selama berada di Seminari St. Laurensius, acara dilanjutkan dengan peniupan lilin pada kue ulang tahun. Romo Andreas Setyo Budi Sambodo yang biasa disapa dengan sebutan Romo Busyet bersama perwakilan yang tadinya memberikan syering maju kembali untuk meniup lilin bersama-sama.

Sebelum itu, Romo Busyet memberikan beberapa wejangan yang sangat menguatkan para seminaris. Beliau berharap semoga semakin banyak yang terpanggil sebagai imam di Keuskupan Ketapang.

Ia juga memberikan informasi bahwa sudah sekitar 27 imam yang sudah berhasil ditahbiskan dan pernah belajar di Seminari St. Laurensius ini. Jika hitung sejak awal hingga saat ini, alumni Seminari sudah berkisar 290 orang.

Diasumsikan jika semuanya yang ada saat ini lanjut hingga tahbisan, ada sekitar 31 Imam yang akan dtahbiskan 10 tahun mendatang.

Setelah mengheningkan cipta di dalam doa, lagu selamat ulang tahun dinyanyikan dan lilin-lilin ditiup bersama-sama. Dan dilanjutkan dengan santap bersama dengan doa yang dipimpin oleh Wendi (Seminaris KPA 2).

Kreativitas dalam mengolah komedi situasi

Sembari menyantap makanan, Romo Fransiskus Suandi menyampaikan kata sambutan selanjutnya.

Pertama-tama ia mengucapkan terima kasih kepada para seminaris yang bersedia dibina serta dibentuk. Kehadiran para seminaris di sini merupakan rencana Tuhan dan bukan suatu hal yang kebetulan.

Dahulu, waktu Romo Frans, sebelum masuk ke Seminari St. Laurensius, beliau tidak mengetahui apa itu seminari. Dan ketika beliau mengetahui bahwa seminari adalah tempat pembinaan calon Imam, ia mengatakan kepada ayahnya bahwa beliau tidak ingin menjadi Imam.

Pikirnya saat itu hanyalah ingin menjadi seorang petani saja. Sampai suatu hari beliau mengalami perenungan dan memutuskan untuk lanjut ke tingkat selanjutnya hingga ditahbiskan sebagai imam.

Ia berpesan kepada seminaris untuk mengingat ke dalam diri motivasi masing-masing. Karena seminari merupakan tempat penyemaian, maka para staf bertanggung jawab untuk membudidayakan rahmat panggilan itu.

Ia meminta maaf apabila selama menjadi staf menjadi pribadi yang kurang sabar selama membina seminaris. Lebih lanjut lagi, ia menggambarkan pribadi para seminaris yang harus seirama dengan prubadi Santo Laurensius yang empati, murah hati dan melayani.

Tidak mungkin menjadi murah hati apabila tidak memulai dari hal-hal kecil. Sebagai contoh, apabila tugas-tugas di seminari sudah selesai dikerjakan, seorang seminaris tidak berhenti begitu saja, melainkan menawarkan diri dengan pertanyaan,”Apa yang bisa saya bantu?”

Maka ia berharap semoga semua siapa saja yang bersedia disemai di seminari, harus bisa meneladani pribadi Santo Laurensius.

Tuhan memampukan

Bapak Uskup sendiri juga memberi beberapa nasehat bijaksana serta gambaran masa depan seminaris masa kini. Beliau menyadari bahwa panggilan itu seirama dengan Injil yang mengatakan bahwa banyak yang terpanggil tetapi sedikit yang terpilih. Namun Tuhan Yesus tidak pernah kehabisan cara untuk memanggil umat-Nya.

Tuhan tidak memanggil orang yang mampu, orang yang pandai tetapi memampukan orang yang dipanggil-Nya sebagai pelayan. Setiap orang harus mengerti mengapa Tuhan memanggil meskipun kita tidak ada yang sempurna.

Di satu sisi, ada orang yang memiliki banyak talenta, di sisi lain ia juga memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. Namun itu bukanlah alasan untuk mengatakan bahwa kita tidak mampu, melainkan

Tuhanlah yang memampukan orang yang dipanggil itu. Mgr. Pius teringat ketika ia masih seorang Seminaris sebagai sosok yang pemalu, tetapi seminaris di St. Laurensius ini memiliki kecerdasan untuk tampil, kecerdasasn sosial, bisa mengekspresikan ide-ide.

Bapa Uskup juga memaklumi dengan adanya teknologi-teknologi yang membuat anak-anak muda semakin belajar dengan cepat. Karunia untuk mampu mennggunakan teknologi dengan bijak adalah rahmat Tuhan sendiri.

Karena ketika setiap orang memiliki kecerdasan, ia tentu mampu melihat ke masa depan. Beliau pernah memiliki mimpi untuk menahbiskan 40 orang Imam di Keuskupan Ketapang suatu saat nanti.

Melihat jumlah seminaris dan calon Imam yang dibina, beliau optimis bahwa hal tersebut tidaklah mustahil sehingga kekurangan Imam baik di Paroki hingga stasi dapat diatasi. Beliau juga berharap agar Imam-imam nantinya memiliki kreativitas-kreativitas untuk melihat jiwa-jiwa yang semakin banyak dan penuh tantangan.

Dengan adanya Covid-19, semua tatanan kehidupan berubah. Maka, Imam yang akan selalu dicari oleh umat adalah Imam yang kreatif membaca situasi.

Sebagai penutup, beliau mensyukuri Hari Ulang Tahun Seminari sebagai kesempatan untuk semakin mampu memeluk masa lalu dengan penuh iman, menjalani saat ini dengan penuh harapan dan memandang masa depan dengan penuh kasih.

 Acara Laurensius Day kemudian ditutup dengan doa bersama dan dilanjutkan dengan foto bersama Bapa Uskup dan setiap angkatan.

Fransesco Agnes Ranubaya Frater TOR Seminari St. Laurensius Ketapang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here