Selasa, 29 Juli 2025
1 Yoh. 4:7-16
Mzm. 34:2-3.4-5.6-7.8-9.10-11
Yoh 11:19-27
PENGALAMAN Marta ketika menghadapi kematian saudaranya, Lazarus, adalah sebuah teladan iman yang begitu dalam.
Dalam situasi yang sangat berat, kehilangan orang yang sangat dikasihi, Marta tidak terjebak dalam kekecewaan yang gelap, tidak hanyut dalam kesedihan yang membuatnya menjauh dari Tuhan, dan tidak pula tenggelam hanya dalam keramaian orang-orang yang datang menghibur.
Sebaliknya, Marta justru segera pergi menemui Yesus. Ia menjadikan Yesus sebagai tujuan pertama dan utama di tengah dukanya. Marta membawa segala kesedihan, harapan, bahkan keputusasaannya kepada Tuhan.
Marta mengajarkan kepada kita bahwa iman sejati tidak hanya tampak ketika segala sesuatu berjalan baik. Justru iman yang murni dan teguh teruji saat kita menghadapi kehilangan, kesedihan, dan kekecewaan.
Dalam momen-momen seperti itulah kita ditantang untuk tetap menaruh kepercayaan sepenuh hati pada Allah, meski keadaan tampak tidak sesuai harapan.
Bersama dengan St. Marta, kita diajak untuk selalu mendatangi Tuhan Yesus dalam setiap peristiwa hidup, baik saat kita bergembira maupun saat kita hancur hati. Bahkan ketika kita merasa sendiri, ketika jarak kita dengan Tuhan terasa begitu jauh, janganlah kita menyerah untuk mencari-Nya.
Karena justru dengan keberanian untuk terus datang kepada-Nya, kita akan mengalami kehadiran dan kasih Tuhan yang menguatkan dan memulihkan.
Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?”
Perkataan Yesus kepada Marta ini adalah salah satu pernyataan iman yang paling dalam dan paling menggetarkan hati dalam Injil.
Di tengah duka yang mendalam karena kematian saudaranya, Marta mendengar Yesus menyatakan sesuatu yang jauh melampaui harapannya: “Akulah kebangkitan dan hidup.”
Yesus tidak hanya menawarkan penghiburan, atau janji bahwa suatu hari Lazarus akan hidup kembali di akhir zaman. Yesus menyatakan bahwa Dialah sendiri Kebangkitan dan Hidup. Kehadiran-Nya memberi hidup yang tak akan dapat dikalahkan oleh maut.
Pertanyaan Yesus, “Percayakah engkau akan hal ini?” adalah pertanyaan yang sama yang ditujukan kepada kita semua.
Bukan hanya di saat hidup terasa nyaman dan tenang, melainkan justru di tengah kehilangan, kekecewaan, kegagalan, atau rasa putus asa yang paling gelap.
Percayakah kita bahwa di balik semua kerapuhan dan kefanaan hidup, ada Pribadi yang menjadi sumber kehidupan abadi?
Bagaimana dengan diriku?
Apakah imanku hanya sebatas harapan akan pertolongan, atau sungguh iman yang terpusat pada pribadi Yesus?












































