Home BERITA Baksos dengan Gethek di Sungai Parjalihotan, Pinangsori, Sibolga (3)

Baksos dengan Gethek di Sungai Parjalihotan, Pinangsori, Sibolga (3)

0
141 views
Menyeberang Sungai Parjalihotan dengan gethek guna membawa barang-barang donasi untuk masyarakat lokal di seberang sungai. (Mathias Hariyadi)

HARI Minggu siang tanggal 18 Januari 2026, panas matahari terasa sangat menyengat di kulit dan wajah, ketika rombongan kecil Keuskupan Sibolga datang membawa barang-barang donasi amal kasih untuk umat Stasi St. Lucia, Paroki Pinangsori, Keuskupan Sibolga.

Tim baksos Keuskupan Sibolga

Dibawa oleh Vikjen Keuskupan Sibolga Romo Purwosuranto OSC, rombongan kecil itu terdiri dari:

  • Para Suster Kongregasi OSF Sibolga dari Biara “San Damiano” Pandan, Tapanuli Tengah.
  • KBKK (Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan) dari Jakarta dan Medan.
  • Vivi Ashali dari Grup “Askara Buwana” Lions Club Jakarta “Askara Buwana” Distrik 307 A1.
  • Penulis.

Dengan menggunakan empat unit mobil -dua di antaranya bak terbuka- rombongan kecil ini buru-buru meninggalkan Biara OSF “San Damiano” menjelang tengah hari.

Butuh satu jam perjalanan dari Pandan menuju Pinangsori dan berikutnya menuju permukiman penduduk di wilayah Parjalihotan.

Namun akses utama menuju kawasan ini sudah tidak ada, karena Jembatan Gantung di atas Sungai Parjalihotan itu sudah kadung hanyut ditelan banjir bandang yang menggasak semua hal tanggal 25 November 2025 lalu.

Alhasil, mau tak mau semua harus rela naik gethek hasil rakitan masyarakat setempat.

Bayar Rp 5.000,00 sekali naik

Sebelum ada gethek berbahan baku drum-drum plastik dengan papan tripleks di atasnya tersedia di situ, maka setiap orang mesti membayar Rp 5.000,00 untuk bisa menyeberangi sungai ini dengan menggunakan jasa “tukang perahu”.

Sekarang, rakit gethek ini menjadi satu-satunya moda transportasi yang menghubungkan komunikasi dan jalinan relasi antara masyarakat Parjalihotan dengan Pinangsori.

Mau tak mau, semua barang donasi ini juga harus ikut diseberangkan ke sebelah sungai dengan naik rakit gethek ini.

Syukurlah, semua orang turun tangan bahu-membahu membawa barang-barang donasi ini ke seberang sungai.

Rakit gethek ini baru bisa jalan, kalau banyak orang berjibaku menarik tali di seberang.

Sementara di sisi seberang sungai lainnya, orang lain ya harus mau terjun ke sungai guna mendorong “badan” rakit ini agar tidak lagi kandas menerjang dasar sungai lantaran keberatan beban muatan penumpang dan barang.

Kredit: Mathias Hariyadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo