Anggur Kehidupan, Anggur Kana

0
397 views
Ilustrasi: Menu aneka makanan khas Asia untuk para peserta seminari di Universitas Urbaniana di Roma, Italia. (Dok. KBRI untuk Vatikan)

Puncta 16.01.22
Minggu Biasa II/C
Yohanes 2: 1-11

PESTA perak perkawinan berlangsung di sebuah keluarga. Tamu-tamu datang mengikuti misa dengan tenang. Setelah misa diadakan acara potong tumpeng dan makan-makan.

Semua menikmati dengan sukacita.

Tiba-tiba pelayan datang kepada ibu tuan rumah, “Bu, tadi waktu doa, keluarga bapak dari kampung datang satu bus langsung makan. Sekarang persediaan menipis. Sedang tamu-tamu masih banyak.”

Ibu itu bingung dan cemas, langsung bilang sama anak laki-lakinya. “Mas, tolong pikirkan bagaimana caranya supaya kita tidak malu sama tamu-tamu karena jamuan sudah hampir habis.”

Ibunya menggerutu.

“Papamu ngundang semua orang tidak bilang-bilang. Katanya hanya orang-orang tertentu dan lingkungan saja. Ternyata semua kolega, teman kuliah, teman kantor dan keluarga di kampung diundang tanpa beritahu mama.”

“Tenang Mah, aku sudah hubungi beberapa restoran teman aku, supaya bawa ke sini semua makanan dan minuman yang ada,” kata anaknya yang langsung cari solusi supaya pesta tetap berlangsung meriah.

“Terimakasih ya bu, pestanya luar biasa, hidangan “mbanyu mili” tiada habis-habisnya.” Kata mereka sambil berpamitan. Semua merasa senang dan puas.

Hidangan habis saat perjamuan berlangsung adalah aib besar yang memalukan. Bisa dibayangkan bagaimana keluarga di Kana yang kehabisan anggur.

Minum anggur adalah hidangan utama pesta. Kalau anggur habis, tamu-tamu pasti kecewa. Keluarga itu akan menjadi bahan pembicaraan di mana-mana.

Maria sebagai seorang ibu peka melihat situasi. Ia langsung berkata kepada Yesus, “Mereka kehabisan anggur.”

Yesus sebetulnya belum waktunya menunjukkan kemuliaan-Nya, namun karena permintaan Sang Ibu, Ia mengubah air menjadi anggur.

Yohanes menulis ini adalah tanda-tanda pertama yang dibuat Yesus sehingga murid-murid percaya kepada-Nya.

Anggur kemanisan hidup berkeluarga bisa habis. Kehidupan yang indah dalam keluarga bisa luntur, hilang.

Bulan madu yang manis itu hanya sebentar. Selanjutnya adalah perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan itu kadang disertai dengan kemarahan, sakit hati, luka yang dalam.

Pada saat itu anggur dalam keluarga sudah menipis.

Seperti Maria yang tanggap melihat situasi, ia langsung datang kepada Yesus. Kalau tidak, keluarga ini akan tercoreng dan menanggung malu.

Maka kalau kita mulai kehabisan anggur dalam keluarga; kasih sayang, kelembutan, kedamaian, pengampunan, kerendahan hati, kita diundang datang kepada Yesus.

Yesus akan mengubah air menjadi anggur kehidupan kita. Ia akan mengubah dukacita menjadi sukacita, kebencian menjadi kasih dan pengampunan, kekerasan hati menjadi kelembutan, percekcokan menjadi kedamaian.

Maka undanglah Yesus dan Maria masuk ke dalam kehidupan keluarga kita. Kita pasti dibantu-Nya.

Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang oaling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga

Cawas, Tuhan berkati keluarga anda semua….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here