Apakah Tuhan itu Benar-Benar Ada (Bersamaku)?

0
300 views
Perempuan Samaria bersama Tuhan Yesus

Bacaan 1: Kel 17:3-7

Bacaan 2: Rm 5:1-2. 5-8

Injil: Yoh 4:5-42

Kehidupan hari ini tentu sudah sangat jauh berbeda dibandingkan tiga tahun belakangan. Hampir dua tahun lebih seluruh dunia mengalami pandemi Covid-19. Banyak orang kehilangan pekerjaan, harapan dan bahkan orang-orang terdekat karena meninggal.

Saat itu, dalam keputusasaan hidup tak sedikit yang mempertanyakan keberadaan Tuhan.

Hal ini juga dialami oleh Bangsa Israel saat keluar dari Mesir dan harus melewati padang gurun kering selama hampir empat puluh tahun. Beratnya perjalanan membuat banyak diantaranya kehilangan harapan dan iman.

Saat mereka kehausan dan berpikir tak mungkin mendapatkan air di gurun, mereka sempat mempertanyakan dimana keberadaan Tuhan.

“Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?”

Namun sejatinya, Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka.

“Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum.”

Orang beriman harus percaya bahwa Tuhan senantiasa menyertai kehidupannya. Sebab Allah begitu mengasihi dan rela memberikan Anak-Nya untuk menebus semua dosa kita agar mendapatkan kasih kemuliaan-Nya.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”

Demikian pesan Rasul Paulus kepada Gereja di Roma.

Dalam kisah di injil, seorang perempuan Samaria merasa bahwa hidupnya tak lagi bermanfaat bagi orang lain. Hidup perkawinannya betul-betul berantakan, lima kali cerai dan saat bertemu Yesus, ia pun sedang hidup dengan laki-laki tanpa ikatan perkawinan.

Sehingga ia harus menunggu hingga jam dua belas siang, untuk mengambil air di sumur menghindari para perempuan yang biasanya berada di sumur saat pagi hari.

Orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria karena mereka dianggap sebagai Yahudi yang tidak murni (kawin campur dengan bangsa Asyur).

Meski ia merasa sebagai pendosa, Yesus mampu men-transformasinya secara perlahan. Ia mulai mengenal Yesus sebagai Nabi dan kemudian Mesias serta Kristus bahkan menjadi pewarta bagi orang-orang Samaria disitu, untuk bertobat dan mengenal Yesus sebagai Tuhan.

“Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.”

Pesan hari ini

Tuhan tidak pernah meninggalkanmu, seburuk apapun dirimu asal mau bertobat maka Ia sanggup mengubahkan hidupmu.

“Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang yang berdosa untuk bertobat.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here