Artikel Kesehatan: Hari Obesitas Dunia

0
132 views
Obesitas alias kegemukan by Ist

PADA hari Rabu, 4 Maret 2020 dirayakan sebagai Hari Obesitas Dunia (World Obesity Day), untuk mendorong solusi praktis dalam membantu orang mencapai dan mempertahankan berat badan yang sehat, melakukan perawatan yang tepat, dan membalikkan krisis obesitas.

Tema peringatan tahun 2020 adalah Obesitas dan akar akarnya (Obesity and its root causes).

Apa yang perlu disadari?

Tingkat obesitas hampir tiga kali lipat sejak tahun 1975 dan bahkan telah meningkat hampir lima kali pada anak dan remaja. Obesitas mempengaruhi semua orang, dari segala usia, dari semua kelompok sosial, baik di negara maju maupun berkembang.

Obesitas merupakan faktor risiko utama untuk berbagai penyakit tidak menular atau Non Communicable Diseases (NCD), seperti diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, hipertensi dan stroke, dan berbagai bentuk kanker.

Anak, remaja dan orang dengan obesitas terus menerus dipermalukan dan disalahkan. Hal ini karena banyak orang, termasuk dokter, pembuat kebijakan, dan lainnya, tidak sepenuhnya memahami akar penyebab obesitas.

Pada umumnya merupakan campuran kompleks dari faktor makanan, gaya hidup, genetik, psikologis, sosial budaya, ekonomi dan lingkungan. Sudah saatnya kita memutus siklus rasa malu dan menyalahkan, juga mengevaluasi kembali pendekatan kita untuk mengatasi masalah kesehatan publik global yang kompleks ini.

Bersama kita bisa membuat perbedaan (together we can make a difference). Ada banyak hal yang dapat kita lakukan, termasuk membatasi pemasaran untuk anak-anak, menu makanan dan minuman yang tinggi lemak, gula dan garam. Juga mengenakan pajak yang lebih tinggi atas minuman manis, dan menyediakan akses yang lebih baik ke menu makanan yang terjangkau dan sehat.

Di berbagai kota besar perlu disediakan ruang untuk berjalan kaki, bersepeda, dan rekreasi. Selain itu, orang tua harus mengajari anak tentang kebiasaan sehat sejak dini, agar anak tumbuh lebih sehat dengan lebih sedikit duduk dan bermain lebih banyak.

Saran tersebut dimuat dalam Pedoman WHO tentang aktivitas fisik, perilaku menetap dan tidur untuk anak balita, yang dikeluarkan pada hari Rabu, 24 April 2019 (WHO guidelines on physical activity, sedentary behaviour and sleep for children under 5 years of age).

Pola keseluruhan aktivitas anak selama 24 jam kuncinya adalah mengganti waktu memandangi layar gawai (screen time) yang lama atau tubuh yang diam, menjadi bermain yang lebih aktif, sambil memastikan anak mendapatkan tidur yang cukup dan berkualitas.

Waktu tubuh kurang aktif tetapi berkualitas, adalah waktu yang dihabiskan dalam kegiatan interaktif langsung (non-screen-based) dengan pengasuh, seperti membaca, bercerita, bernyanyi dan mengisi teka-teki, juga terbukti sangat penting untuk perkembangan anak.

Rekomendasi WHO untuk bayi (kurang dari 1 tahun) adalah:

Pertama, aktif secara fisik beberapa kali sehari dalam berbagai cara, terutama melalui permainan di lantai yang interaktif, dengan lebih banyak dan lebih sering adalah lebih baik. Bagi bayi yang belum dapat bergerak mandiri, setidaknya 30 menit dibantu dalam posisi tengkurap yang dilakukan sepanjang hari saat bayi terjaga.

Kedua, tidak boleh lebih dari 1 jam setiap kali saat berada di kereta bayi, kursi tinggi, atau digendong di punggung pengasuh.

Ketiga, waktu layar (sedentary screen time) tidak disarankan.

Keempat, saat bayi tidak banyak bergerak, sangat dianjurkan dibacakan cerita oleh pengasuh.

Kelima, tidur secara berkualitas selama 14-17 jam (usia 0–3 bulan) atau 12–16 jam (usia 4–11 bulan) sehari, termasuk tidur siang.

Rekomendasi WHO untuk anak usia 1-2 tahun adalah:

Pertama, meluangkan setidaknya 3 jam atau 180 menit untuk melakukan berbagai jenis aktivitas fisik pada intensitas apa pun, termasuk aktivitas fisik intensitas sedang hingga kuat, merata waktunya sepanjang hari, dan lebih banyak tentu lebih baik.

Kedua, tidak boleh lebih dari 1 jam pada suatu waktu duduk dalam kereta bayi, kursi tinggi, atau digendong di punggung pengasuh. Untuk anak berusia 1 tahun, waktu layar yang membuat badannya tidak aktif bergerak, seperti menonton TV atau video dan bermain ‘game’ di komputer, tidak dianjurkan.

Bagi mereka yang berusia 2 tahun, waktu tayang (sedentary screen time) tidak boleh lebih dari 1 jam, dan lebih sebentar terbukti justru lebih baik. Ketika anak tidak banyak bergerak, sebaiknya dilibatkan dalam aktivitas membaca dan bercerita dengan pengasuh.

Selain itu, sebaiknya tidur berkualitas baik selama 11-14 jam, termasuk tidur siang, dengan waktu tidur dan bangun dilatih agar teratur.

Rekomendasi WHO untuk anak usia 3-4 tahun seharusnya pertama, menghabiskan setidaknya 180 menit dalam berbagai jenis aktivitas fisik pada intensitas apa pun, di mana setidaknya 60 menit merupakan aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga kuat, menyebar sepanjang hari dan lebih banyak lebih baik.

Kedua, tidak dianjurkan diam selama lebih dari 1 jam pada suatu waktu, misalnya di dalam kereta bayi atau duduk untuk waktu yang lama. Waktu tayang tidak lebih dari 1 jam, dan lebih sebentar, tentu lebih baik. Ketika anak tidak banyak bergerak, sebaiknya juga dilibatkan dalam aktivitas membaca dan bercerita dengan pengasuh.

Selain itu, sebaiknya tidur berkualitas secara baik selama 10-13 jam sehari, termasuk tidur siang, dengan waktu tidur dan bangun dilatih agar lebih  teratur.

Momentum Hari Obesitas Dunia (World Obesity Day) pada Rabu, 4 Maret 2020, mengingatkan kita untuk mencegah obesitas sejak usia dini, termasuk mengkoreksi akarnya (obesity and its root causes). Orangtua wajib mendorong anak agar aktif bermain, sekaligus menjamin tidur yang cukup.

Sudahkah anak di sekitar kita aktif bermain?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here