Bapa Penuh Kasih yang Dikecewakan tapi Tetap Menunggu

1
703 views
Ilustrasi: Drama perjalanan hidup dua orang 'Anak yang Hilang"yakni Markus dan Cindy. Karena pengalaman akan kasih, keduanya lalu meninggalkan pola hidup lama dan meniti hidup baru. Inilah inti kisah pergelaran drama seni teater berjudul "Anak yang Hilang" oleh Teater Angela besutan Panti Asuhan St. Angela Delitua - Medan bersama Teater Katak dan EforD dari Jakarta. (Mathias Hariyadi)

Minggu Prapaska 4/C, 27 Maret 2022

  • Yos. 5:9a.10-12;
  • 2Kor. 5:17-21;
  • Luk. 15:1-3.11-32

CERITA dalam Kitab Suci yang paling banyak dibahas adalah perumpamaan Anak Hilang yang kita dengar hari ini. Memang ceritanya sangat indah.

Kita tahu, si bungsu membuat dosa besar. Ayahnya belum mati, dia sudah minta warisan. Biasanya warisan itu berupa tanah yang merupakan milik pusaka. Tanah ini dijual dan lalu diboroskan untuk foya-foya.

Dalam bencana kelaparan di negeri itu, ia jatuh dalam situasi yang sangat buruk. Kerja dengan orang kafir, harus jaga babi, binatang najis, sampai harus berebut makan makanan babi yang najis itu.

Ini kemerosotan yang paling hebat yang dapat dibayangkan untuk orang Yahudi. Dan ia menyadari kesalahannya, menyesal, tahu bahwa dia tidak pantas diampuni, dan toh tetap pulang untuk menyerahkan diri kepada bapanya, terserah akan diapakan oleh bapa.

Pertobatannya menjadi sempurna dalam kasih bapanya. Ia dipulihkan kembali menjadi anak. Pertobatan kita tidak hanya ditentukan oleh sikap hati kita. Anak bungsu itu bersedia hanya menjadi orang upahan. Tetapi bapanya membuat ia kembali menjadi anak.

Ada si sulung, yang rajin bekerja, tapi tidak bahagia. Ia kecewa pada bapanya yang tidak pernah memberinya anak kambing untuk pesta. Tetapi adiknya yang sudah begitu kurang ajar dan berdosa, malah dipestakan.

Ia menolak mengakui saudaranya; dengan menyebut dia: anak bapa… mungkin ia irihati kepada adiknya yang sempat “menikmati hidup” dalam kesenangan total seperti itu.

Biasanya perhatian kita terpusat pada si bungsu atau si sulung. Tetapi apakah kita seperti si bungsu yang lari meninggalkan bapanya dan lalu mengalami tobat sempurna itu?

Atau apakah kita memang orang setia yang tidak bahagia seperti si sulung?

Kebanyakan dari kita, ada di antara keduanya. Ada kesalahan dan dosa, tapi kita pada umumnya juga baik-baik saja.

Dan memang bukan tujuan Tuhan Yesus untuk mengajak kita membandingkan diri dengan si bungsu atau si sulung.

Tuhan Yesus mengajak kita untuk memperhatikan Bapa-Nya. Bapa dalam perumpamaan itu sungguh sangat baik. Dia dengan hati sakit mau membagi warisannya.

Dia membiarkan anaknya menjual warisan tanah itu dan membiarkan anaknya pergi. Tetapi tiap hari ia menunggu anaknya pulang. Karena itu dari jauh, dia sudah melihat anaknya datang.

Hatinya sesak oleh belas kasihan. Ia tidak menunggu anaknya datang; ia lari mendapatkan anaknya. Orang Israel memakai jubah.

Untuk lari, ia harus mengangkat jubahnya. Itu bukan tindakan terhormat; tetapi bapa itu tidak perduli dilihat semua pegawai dan orang upahannya. Ia memeluk dan mencium anaknya.

Ia tidak perduli dengan pengakuan dosanya, ia tidak menegur, menasihati (tidak seperti kita kalau ada yang minta maaf pada kita), malah sibuk dengan jubah, cincin dan kasut untuk anak itu; ia dipulihkan kembali sebagai anak dan berpesta menyambutnya.

Kepada si sulung yang ngambek dan tidak mau masuk, ia tidak menyuruh panggil anaknya, tetapi ia keluar menemuinya. Ia tidak memarahi anaknya karena bicara kasar kepada orang tua. Dengan sabar dan sedih hati, ia mengajak anaknya melihat bahwa ia bersama bapanya setiap waktu.

Mengapa kebersamaan ini tidak membahagiakannya?

Kita memang bukan si bungsu atau di sulung. Kita orang biasa, sedikit berdosa, sedikit bersyukur dan tidak jelek-jelek amat.

Kalau kita mandi, apakah kita membersihkan dinding kamar mandi sesudahnya? Biasanya tidak.

Lama kelamaan porselen dinding mulai kotor atau kaca dinding mulai buram oleh percikan air sabun.

Begitulah hati kita dihadapan Allah.

Kotoran di hati kita, entah sedikit, entah banyak melukai hati Allah yang Mahasuci. Tetapi Yesus menutup ceritanya dengan menyisakan sejumlah pertanyaan:

  • Apakah si sulung bertobat?
  • Bagaimana nasib si bungsu?
  • Apakah dia akan pergi lagi?

Memang akhir cerita ini adalah suatu tawaran bagi kita. Allah itu maha murah. Pengampunan Allah adalah kesempatan untuk tinggal dalam pemeliharaan Allah dalam kelimpahan kasihNya.

Kita bebas untuk pergi meninggalkan Allah (seperti si bungsu) atau hidup tanpa sadar akan kebaikan Allah (seperti si sulung). Allah adalah Allah yang siap dikecewakan oleh anak-anak yang dikasihi-Nya. Dan kasih-Nya tidak berubah.

Saat kau bangun di pagi hari, Aku memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepada-Ku, walaupun hanya sepatah kata, meminta pendapat-Ku atau bersyukur kepada-Ku atas sesuatu hal indah yang terjadi di dalam hidupmu kemarin, tetapi aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja.

Aku kembali menanti.

Saat engkau sedang bersiap, Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapa-Ku, tetapi engkau terlalu sibuk.

Di satu tempat, engkau duduk di sebuah kursi selama lima belas menit tanpa melakukan apa pun. Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu.

Aku berpikir engkau ingin berbicara kepadaKu tetapi engkau mengambil telepon dan menelepon seorang teman untuk mendengarkan gosip terbaru.

Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku menanti dengan sabar sepanjang hari. Dengan semua kegiatanmu, Aku berpikir engkau terlalu sibuk untuk mengucapkan sesuatu kepadaKu.

Sebelum makan siang, Aku melihatmu memandang ke sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepada-Ku.

Itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu, Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara kepadaku dengan lembut sebelum mereka makan, tetapi engkau tidak melakukannya.

Tidak apa-apa.

Masih ada waktu yang tersisa. Dan Aku berharap engkau akan berbicara kepada-Ku, meskipun saaat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.

Setelah beberapa hal tersebut selesai engkau kerjakan, engkau menyalakan televisi, Aku tidak tahu apakah kau suka menonton televisi atau tidak, karena engkau juga mengambil gadget-mu; dan menghabiskan banyak waktu setiap hari, tanpa memikirkan apa pun.

Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menonton TV dan menikmati makananmu, tetapi kembali kau tidak berbicara kepada-Ku.

Saat tidur Kupikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ke tempat tidur dan tertidur tak lama kemudian.

Tidak apa-apa, karena mungkin engkau tidak menyadari bahwa Aku selalu hadir untukmu.

Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari. Aku bahkan ingin mengajarkanmu bagaimana bersabar terhadap orang lain. Aku sangat mengasihimu, setiap hari Aku menantikan sepatah kata, doa atau pikiran atau syukur dari hatimu.           

Baiklah… engkau bangun kembali dan kembali Aku akan menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberiKu sedikit waktu.

Semoga harimu menyenangkan. Yang selalu menyertaimu setiap saat, ALLAH.

Allah terus mengasihi kita. Allah terus menunggu kita datang.

Masa Prapaskah adalah saat terbaik untuk menerima ampun-Nya dan datang kembali kepada Bapa.

Maukah kita?

Amin.

1 COMMENT

  1. Terimakasih banyak Romo Hans, saya tersentuh dan kagum dengan karya Anda.
    Semoga ini punya daya untuk menggerakkan hati banyak pembaca untuk kembali bertobat. Salam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here