Belajar dari Viktor Frankl

0
281 views
Viktor Frank

Puncta 25.09.21
Sabtu Biasa XXV
Lukas 9: 43b-45

VIKTOR Frankl dihadapkan pada pilihan sulit. Ia mendapat visa untuk bermigrasi ke AS, ketika Austria dijajah Nazi. Ia bimbang apakah harus pergi mengungsi ke AS sendirian atau tetap tinggal di Wina dengan kedua orangtuanya.

Dalam kebingungan itu, dia menemukan sebuah potongan marmer di apartemennya. Marmer itu adalah bagian dari potongan rangkaian huruf Hibrani dari Sepuluh Perintah Tuhan yang ada di Sinagoga Yahudi di Wina.

Ia bertanya kepada ayahnya apa arti potongan huruf itu. Ayahnya menjawab, “Hormatilah ayah ibumu agar lestari hidupmu di tanah yang diberikan Tuhan padamu.”

Frankl memutuskan untuk tinggal bersama orangtuanya dan membiarkan visanya melayang.

Beberapa bulan kemudian, Gestapo menutup rumah sakit tempatnya bekerja. Frankl dan seluruh keluarganya pun dikirim ke kamp konsentrasi di Auschwitz.

Ibunya meninggal di kamar gas Kamp Auschwitz. Kakaknya meninggal di sebuah tambang batubara dekat Auschwitz. Ia melihat langsung ayahnya meregang nyawa karena sakit pneumonia.

Ia mengalami penderitaan dan kematian orang-orang yang dicintainya. Frankl selamat sampai Nazi dikalahkan.

Dari Kamp Konsentrasi lahirlah ilmu yang dikembangkannya yakni Logotherapi. Terapi untuk memaknai hidup.

Menurut Frankl, penderitaan tidak punya makna. Penderitaan bukan untuk dimaknai, tetapi hiduplah yang bermakna. Kita bisa mengambil sikap atas penderitaan dan kematian.

Setiap orang akan menghadapi penderitaan dan kematian. Justru ketika manusia menghadapi penderitaan itu ia diberi kesempatan mewujudkan nilai tertinggi dan mengisi makna terdalam dari eksistensinya.

Manusia mampu memaknai hidupnya dalam penderitaan.

Yesus berkata, “Dengarkan dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.”

Orang banyak tidak mengerti perkataan itu. Mereka tidak dapat memahaminya.

Yesus tahu bahwa Ia akan menghadapi penderitaan dan kematian. Ia tidak sedih, kecewa atau mundur tetapi Yesus siap menghadapi penderitaan.

Menurut Frankl, penderitaan adalah batu uji yang paling baik untuk mematangkan eksistensi diri dalam menjawab makna kehidupan.

Keberanian menghadapi penderitaan adalah sebuah keutamaan dan kecerdasan pribadi. Kecerdasan mengubah derita menjadi peluang dan bencana menjadi kesempatan mematangkan diri.

Dengan memandang positif atas penderitaan, orang punya alasan kuat untuk memaknai hidup di masa depan.

Hanya dengan melihat ke depan pada tugas perutusan dan manusia yang dicintai Allah, penderitaan dapat dimaknai dan dihadapi dengan penuh martabat secara manusiawi.

Yesus memandang penderitaan demi tugas pengutusan Allah dan demi kehidupan seluruh umat manusia.

Dengan demikian penderitaan-Nya punya arti keselamatan bagi seluruh ciptaan.

Maka dengan tegas Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.”

Yesus siap menderita demi kesetiaan-Nya pada kehendak Bapa dan demi keselamatan umat manusia.

Sengsara dan derita itu bukan aib,
Bermakna bagi keselamatan masa depan.
Karena kematian-Mu di kayu salib,
Kami diselamatkan dan dihidupkan.

Cawas, derita yang membahagiakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here