Home BERITA Berjuang dalam Badai

Berjuang dalam Badai

0
483 views
Badai

Selasa, 1 Juli 2025

Kej. 19:15-29.
Mzm. 26:2-3,9-10,11-12.
Mat. 8:23-27

HIDUP sering kali terasa seperti lautan luas yang tenang di satu waktu, lalu mendadak bergelora diterpa badai.

Masalah datang silih berganti, kadang kecil seperti riak ombak, kadang besar dan dahsyat, membuat kita limbung dan hampir tenggelam.

Kesehatan yang menurun, kehilangan orang tercinta, tekanan ekonomi, konflik dalam relasi, atau kekosongan batin, semua itu bisa datang tanpa aba-aba, seperti badai yang tak terduga.

Namun, justru di tengah badai itulah kita belajar. Seperti seorang pelaut ulung tidak dilatih di lautan yang tenang, demikian juga iman, harapan, dan karakter kita tidak dibentuk dalam kenyamanan, melainkan dalam pergumulan.

Badai mengajarkan kita bahwa kita tidak bisa mengandalkan kekuatan sendiri. Kita mulai menengadah, berseru kepada Tuhan, mengakui kelemahan, dan membuka diri bagi kasih karunia-Nya.

Kita menyadari bahwa di balik semua gelombang itu, ada tangan yang tetap memegang kendali, tangan Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.”

Dalam kisah ini, kita diingatkan bahwa Yesus tidak pernah benar-benar jauh. Meskipun Ia tampak diam, Ia hadir. Dan ketika waktu-Nya tiba, badai pun tunduk pada-Nya.

Kita sering mengukur kasih Tuhan dari situasi kita: saat semuanya berjalan baik, kita berkata Tuhan itu baik; tetapi saat badai datang, kita mulai bertanya, “Di manakah Engkau, Tuhan?”

Kasih Tuhan tidak berubah oleh badai. Justru dalam badai, kasih-Nya menjadi nyata, seperti jangkar yang tidak terlihat tapi menahan kapal agar tidak hanyut.

Maka, saat badai hidup datang silih berganti, jangan kehilangan harapan. Tetaplah berlayar. Pegang teguh jangkar imanmu.

Mungkin kita tidak bisa menghindari badai, tapi kita bisa memilih untuk bertahan di dalamnya bersama Tuhan. Karena badai tidak datang untuk menghancurkan, tetapi untuk membentuk dan menguatkan.

Tangan Tuhan bukan hanya tangan yang kuat, tetapi juga tangan yang penuh kasih. Ia menggenggam kita bukan karena kita layak, tapi karena kita dikasihi. Bahkan saat kita lemah, kecewa, atau ragu, tangan-Nya tetap terulur. Kita hanya perlu percaya dan berserah.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku berjuang dan bertahan bersama Tuhan, kala badai menerpa hidupku?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo