Selasa. Hari Biasa, Pekan Biasa XIII (H)
- Kej. 19:15-29
- Mzm. 26:2-3.9-10.11-12
- Mat. 8:23-27
- Lectio
23 Ketika Yesus naik ke dalam perahu, murid-murid-Nya mengikuti Dia. 24 Sekonyong-konyong terjadilah angin ribut yang dahsyat di danau itu, sehingga perahu itu nyaris ditelan gelombang, tetapi Yesus tidur. 25 Lalu datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya, “Tuhan, tolonglah, kita binasa.”
26 Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu ketakutan, hai kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, sehingga danau itu menjadi teduh sekali. 27 Orang-orang itu pun heran dan berkata, “Orang seperti apa Dia ini, sehingga angin dan dana upun taat kepada-Nya?”
Meditatio-Exegese
Dikeluarkan-Nyalah Lot dari tengah-tengah tempat yang ditunggangbalikkan itu
Seperti yang terjadi pada saat banjir melanda bumi dan Nuh diselamatkan (bdk. Kej. 6:8-12), Allah “menghukum kota Sodom dan Gomora, dan memusnahkannya dengan api dan menjadikannya peringatan untuk mereka yang hidup fasik di masa-masa kemudian, tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja.
Sebab, orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa.
Jadi, nyatalah bahwa Tuhan tahu bagaimana menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman, terutama mereka yang menuruti hawa nafsunya yang mencemarkan diri dan menghina pemerintahan Allah.” (1Ptr. 2:6-10).
Dalam Kitab Suci dijumpai banyak contoh penghancuran kota dan wilayah terdekat dan dipandang sebagai penghukuman ilahi (bdk. Ul. 29:22; Yes. 13-19; Yer. 49:18; etc.). Tetapi, Israel selalu diselamatkan Allah, walaupun mereka berdosa melawan Allah. Keselamatan dianugerahkan karena kesetiaan iman sedikit orang (bdk. Yes. 1:9) dan orang benar yang melarikan diri dari kejahatan (bdk. Keb. 10:6-7).
Yesus menggemakan penghancuran Sodom dan Gomora untuk membandingkan dengan penghancuran yang harus ditanggung seluruh kota, karena dosa yang lebih hebat mereka lakukan (bdk. Mat. 10:15; 11:23-24). Maka, Ia mengundang tiap pribadi untuk mengingat kisah penghancuran itu dan selalu berjaga-jaga untuk tidak jatuh dalam dosa (bdk. Luk. 17:28-30).
Allah menyelamatkan kawanan kecil (Kej. 19:21), keluarga Lot, dari tengah-tengah tempat yang ditunggangbalikkan itu. Tetapi isteri Lot menjadi tiang garam, karena menoleh ke belakang (Kej. 19:26)
Yesus pun menggunakan kasah ini untuk mengingatkan untuk tidak berbalik dari-Nya hingga pada hari Penghakiman (bdk. Luk 17:32). Tradisi Apostolik pun mewariskan sikap batin untuk bertekun dalam mengikuti jejak kaki Yesus dan memandang wajah-Nya yang penuh belas kasih dan kerahiman.
Uskup Katago dan sahabat Santo Augustinus, Santo Quodvultdeus menulis, “Istri Lot, yang berubah menjadi tiang garam, adalah contoh bagi orang sederhana. Mereka tidak boleh menoleh ke belakang dengan rasa ingin tahu dan penasaran, ketika mereka maju menuju tujuan yang suci.” (De Promissionibus, 1).
Tuhan, tolonglah, kita binasa
Jemaat yan dibina Santo Matius hidup dalam situasi sangat sulit. Mereka mengalami persekusi, yang dilakukan Sanhedrin, Mahkamah Agama Yahudi, dan Kekaisaran Romawi pada tahun 70-an.
Situasi sulit itu dilukiskan seperti perahu yang sedang ditimbus angin sakal dan harapan untuk mencapai tujuan memudar.
Dalam situasi yang demikian berbahaya, Santo Matius menyingkapkan identitas Yesus, yang mampu menaklukkan kuasa alam (Mat. 8:23-27); yang mampu mengalahkan dan mengatasi kuasa setan (Mat. 9: 28-34); dan yang mampu mengampuni dosa (Mat. 9:1-8).
Pesannya sangat kuat dalam membina jemaat: dalam situasi sulit sekali pun, jemaat tidak boleh kehilangan harapan dan tidak ada setitik alasan untuk takut.
Dibandingkan dengan perikop paralel pada Santo Markus, Santo Matius menulis secara lebih singkat. Ia hanya menggambarkan bahwa Yesus naik ke perahu dan para murid mengikuti-Nya (Mat. 8:23).
Setelah berlayar beberapa saat Danau Galilea yang dikelilingi perbukitan tiba-tiba diterpa badai ganas. Badai mengamuk dan air masuk ke dalam perahu kayu yang dikemudikan para nelayan berpengalaman.
Tetapi, di hadapan ganasnya alam, Petrus, Andreas, Yohanes dan Yakobus (Mat. 4:18-22) kehilangan seluruh keahlian mereka. Keempat orang itu gagal mengendalikan perahu untuk menerjang badai.
Kalau mereka mengira akan tenggelam, berarti situasi yang dihadapi sangat sulit dan berbahaya. Sebaliknya, Yesus sangat tenang, tidak mengalami kekhawatiran, bahkan Ia terus tidur (Mat. 8:24-25).
Maka mereka berseru kepada Yesus untuk minta diselamatkan, karena akan binasa (Mat. 8:25), “Tuhan, tolonglah, kita binasa.”, Domine, salva nos, perimus.
Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?
Yesus bangun dari tidur, bukan karena Ia takut pada bahaya tenggelam, tetapi dibangunkan para murid yang ketakutan. Ia berseru kepada mereka, “Mengapa kamu ketakutan, hai kamu yang kurang percaya?”
Lalu Ia menghardik angin dan danau. Alam pun taat pada-Nya dan menjadi teduh (Mat. 8:26).
Tindakan Yesus meredakan badai dan gelombang mengingatkan pada kisah umat Israel tanpa takut menyeberangi Laut Teberau (Kel. 14:22). Ia menciptakan kembali kisah bersejarah itu sekarang.
Ia juga mengingatkan akan sabda Allah melalui Nabi Yesaya, “Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau.” (Yes. 43:2). Yesus memenuhi nubuat yang dikidungkan pemazmur :
“Ada orang-orang yang mengarungi laut dengan kapal-kapal, yang melakukan perdagangan di lautan luas; mereka melihat pekerjaan-pekerjaan Tuhan, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di tempat yang dalam. Ia berfirman, lalu membangkitkan angin badai yang melambungkan ombak-ombak lautan.
Mereka diangkat sampai ke langit dan dihempaskan ke samudera dalam, hati mereka kecut karena malapetaka itu; mereka pusing dan terhuyung-huyung seperti orang mabuk, sehingga mereka kehabisan akal.
Maka berseru-serulah mereka kepada Tuhan dalam kesesakan mereka, dan Ia mengeluarkan mereka dari kesusahan mereka, dibuat-Nyalah badai itu reda, sehingga ombak-ombak tenang. Mereka bersukacita, sebab semuanya teduh, dan dituntun-Nya mereka ke pelabuhan yang didambakan.” (Mzm. 107:23-30).
Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?
Para murid seperti kehilangan akal ketika menyaksikan kuasa Yesus yang mampu mengatasi badai. Mereka bertanya-tanya tentang siapakah Dia sebenarnya. Yesus sepertinya menjadi orang asing bagi mereka. Ia nampak amat jauh.
Mereka hanya berani berkata (Mat. 8:27), “Orang seperti apa Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?”, Qualis est hic, quia et venti et mare oboediunt ei?
Ia selalu mengundang, “Ayo, dekatlah pada-Ku dan Aku menjadi sahabatmu.”
Katekese
Latihan keberanian dan daya tahan. Santo Yohanes Chrysostomus, 347-407:
“Yesus mengajak para murid menyertai-Nya. Ia mengajak mereka bukan tanpa tujuan dan tidak sekedar untuk menghadapi bahaya yang tak masuk akal sehat. Tetapi Ia menjadikan mereka saksi atas mukjizat yang terjadi di laut.
Karena, seperti pelatih yang hebat, secara bertahap Ia melatih dan mendidik para murid memiliki daya tahan yang kuat.
Ada dua tujuan yang ada di benak-Nya. Ia ingin mengajar mereka untuk tetap tidak tergoyahkan dalam bahaya dan sederhana saat dimuliakan.
Maka, untuk menjaga diri mereka sendiri dari pemusatan pada kepentingan diri sendiri, setelah mengutus mereka menjumpai banyak orang, Ia tetap meminta mereka dekat pada-Nya dan membiarkan diombang-ambingkan dalam badai. Dengan cara inilah Ia mendidik mereka untuk menanggung setiap pencobaan dengan keteguhan hati.
Mukjizat-mukjizat yang telah dibuat-Nya tentu saja sangat bermakna, tetapi mukjizat ini memuat pelajaran unik dan sangat penting. Karena mukjizat ini merupakan tanda yang serupa dengan yang terjadi di masa lalu [karena mengacu pada saat Musa membelah Laut Teberau].
Dengan membuat mukjizat ini, Yesus mendekatkan para murid dengan diri-Nya. Ia memungkinkan orang lain untuk menyaksikan mukjizat yang lain, namun ketika pencobaan dan ancaman menerjang, Ia tak akan mendekatkan siapa pun kecuali mereka yang telah dilatih-Nya untuk menjadi pemenang Injil.” (The Gospel Of Matthew, Homily 28.1.2)
Meditatio-Missio
Tuan, tambahkanlah imanku dengan kuasa dan kasih-Mu dan kuatkanlah aku untuk menghadapi setiap kesulitan, pencobaan dan tantangan. Amin.
- Apa yang perlu kulakukan menghilangkan kekhawatiran, ketakutan dan ketidak-percayaan pada-Nya?
Qualis est hic, quia et venti et mare oboediunt ei? – Matthaeum 8: 27












































