Buku “Pemimpin”, Kotak Kelabu yang Memberi Pencerahan

0
90 views
Buku “Pemimpin”, Kotak Kelabu yang Memberi Pencerahan

MILENIAL. Generasi Y kelahiran 1981-1997 sering dikeluhkan ‘beda, sulit dimengerti, sulit diatur’. Bagaimana memahami dan selanjutnya mempengaruhi mereka supaya searah dengan tujuan perusahaan?

Ada satu buku yang bisa membantu: Pemimpin, Menciptakan Budaya Unggul Generasi Milenial itu judulnya.

Buku ini menarik karena ditulis oleh praktisi, direktur HRD salah satu perusahaan Food Beverage besar di Indonesia. Selalu menarik membaca kasus yang benar terjadi dan solusi yang benar teruji.

Buku 5 Bab

Buku setebal 256 halaman itu terbagi dalam lima bab.

I. Pemimpin Itu Mempengaruhi

Menurut Heri Soesanto, sang penulis, fungsi utama seorang pemimpin dalam suatu organisasi itu adalah mempengaruhi.

Organisasi sebagai struktur atau kesatuan sosial dimana orang-orangnya diatur, digerakkan, dan dikoordinasi supaya mencapai tujuan bersama. Nah, untuk mencapai tujuan tersebut, pemimpin yang bertugas mempengaruhi untuk mencapai kinerja terbaik organisasi.

II. Hakekat Pemimpin: Adanya Tujuan

Setiap organisasi memerlukan seorang pemimpin untuk mencapai tujuan organisasi. Maka, tanpa adanya tujuan, seorang pemimpin bukanlah seorang pemimpin.

III. Pemimpin: Menciptakan Ikim Kerja

Tugas pemimpin untuk  mempengaruhi dan mencapai tujuan organisasi, tidak akan dapat dicapai tanpa kepatuhan tim pada arahannya. Bab ini membahas metode pemimpin menciptakan iklim kerja yang sesuai untuk mencapai tujuan yang digariskan.

IV. Budaya, Bagaimana Mengimplementasikan pada Generasi Milenial?

Strategi perusahaan dalam mengelola karyawan milenial akan menentukan kesuksesan perusahaan. Heri membahas bagaimana penerapan strategi di perusahaan yang dipimpinnya.

V. Budaya, Bagaimana Mengukurnya?

Bagian ini membahas cara memastikan budaya yang perusahaan miliki selaras dengan kinerja yang diinginkan. Di samping itu juga sesuai dengan perilaku dan kebiasaan generasi milenial.

Dalam bab ini Heri juga memberikan instrumen pengukuran budaya organisasi melalui OCAI (Organizational Culture Assessment Instrument). Tabel dan penjelasan tiap bagian metode ini bisa diaplikasi langsung oleh para manajer SDM di perusahaannya.

Kotak-kotak abu yang mencerahkan

Heri Soesanto memberikan contoh-contoh nyata berdasarkan pengalaman hidupnya yang telah menjadi manajer SDM perusahaan-perusahaan papan atas Indonesia sejak tahun 1996. Seperti Modern Group, Kalbe Farma dan Mayora Group.

Heri yang menjabat sebagai Corporate Human Resources Director Mayora Group memegang pengelolaan SDM baik domestik maupun mancanegara Mayora Group sejak 2008.

Maka kasus-kasus yang diangkat dalam buku ini menjadi menarik karena riil dan juga ada penjelasan atau solusinya. Semua contoh kasus tersebut ditempatkan dalam bagian khusus dengan format abu-abu dan font yang lebih kecil.

Kotak-kotak abu-abu yang berisi contoh kasus terkait topik yang dibahas terdapat di setiap bab. Sungguh menjadi tidak membosankan membaca buku manajemen terbutan Kanisius ini dengan kehadiran kotak-kotak abu yang bukan membawa kelabu tetapi mencerahkan tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here