Home BERITA Dari Kesembuhan Menuju Pengabdian

Dari Kesembuhan Menuju Pengabdian

0
694 views
Ilustrative.

Jumat, 19 September 2025

1Tim. 6:2c-12
Mzm. 49:6-7,8-9,17-18-20
Luk. 8:1-3

KETIKA kita sungguh mengalami kasih Allah, hati kita disentuh oleh kebebasan yang sejati: kebebasan dari rasa takut, dari belenggu ego, dan dari kelekatan pada harta.

Kasih itu membebaskan kita untuk menjadi siapa kita sebenarnya, anak-anak Allah yang dikasihi. Dari pengalaman inilah lahir rasa syukur yang mendalam, bukan hanya kata-kata di bibir, tetapi sikap hidup yang nyata.

Syukur sejati tidak berhenti pada doa dan pujian. Syukur menyalakan keinginan untuk berbagi. Kita mulai melihat kekayaan, talenta, dan waktu bukan sebagai milik pribadi yang harus dijaga, melainkan sebagai anugerah yang dipercayakan Allah.

Apa pun yang kita miliki menjadi sarana untuk menolong dan membangun sesama: kemampuan bekerja untuk mengangkat yang lemah, harta untuk menolong yang berkekurangan, bahkan telinga yang siap mendengar bagi yang terluka.

“Saya hanya bisa bersyukur pada Tuhan atas berkat yang melimpah pada keluarga kami,” kata seorang ibu.

“Saya ditinggal suami dan harus membesarkan anak-anak seorang diri. Tidak ada satu keluargaku yang peduli, bahkan di mata mereka saya dipandang sebagai penganggu kehidupan mereka khususnya soal ekonomi.

Hingga saya terpaksa hidup jauh dari mereka. Saya tidak ingin anak-anakku rusak mentalnya jika mendengar omongan mereka.

Mungkin sikap keluargaku menjadi pendorong semangat anak-anakku, hingga mereka belajar dan kerja keras dan berhasil studi mereka.

Semuanya ini karya kasih Tuhan, maka saya dan anak-anak berusaha melayani Tuhan sebagai bentuk jawaban cinta Tuhan kepada kami,” ujarnya

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat,

Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana, dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.

Injil Lukas mencatat nama-nama perempuan yang menempuh jalan iman yang mendalam: Maria Magdalena yang dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana istri Khuza bendahara Herodes, Susana, dan banyak perempuan lain.

Mereka bukan hanya penerima kasih Allah, tetapi juga pelayan yang setia. Dari hati yang telah disentuh dan disembuhkan, mereka memilih untuk ikut mendampingi Yesus dan para murid, bahkan menopang pelayanan-Nya dengan harta dan kemampuan mereka.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa setiap pengalaman disembuhkan, dari luka batin, kebiasaan buruk, atau belenggu dosa; selalu mengandung undangan untuk menanggapi.

Kasih yang memulihkan tidak dimaksudkan berhenti pada diri sendiri. Syukur yang lahir dari pemulihan sejati akan mengalir keluar, menggerakkan kita untuk memberi dan melayani.

Para perempuan ini menentang batasan budaya zamannya. Mereka melayani secara nyata, menggunakan kekayaan, relasi, dan tenaga mereka bagi misi Kerajaan Allah. Bukan karena paksaan, melainkan karena cinta. Mereka tahu: apa pun yang mereka miliki hanyalah titipan Tuhan.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah rasa syukur saya sudah tampak dalam tindakan nyata, bukan hanya dalam doa atau kata-kata?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo