Etika, Kok Perlu Jadi Mata Kuliah?

0
150 views
Ilustrasi: Perjalanan menyusuri aliran Sungai Laur dari Sepotong menuju Randau Limat di wilayah pastoral Keuskupan Ketapang, Kalbar, akhir Desember 2016. (Royani Ping)

PERGURUAN tinggi memiliki mata kuliah umum terkait Etika, dengan nama yang beraneka ragam. Kemudian ada juga mata kuliah etika terapan untuk jurusan-jurusan tertentu. Contohnya Etika Profesi untuk jurusan akuntansi dan kedokteran, Etika Bisnis untuk jurusan Manajemen.

Pasti ada yang mempertanyakan, kok perlu ada mata kuliah etika, kenapa tak diganti dengan mata kuliah yang lebih ‘canggih dan keren’?

Artikel ini mau membahas keberatan tersebut.

Asal kata etika

Etika (Ethos – Bahasa Yunani) yang merupakan bagian dari ilmu filsafat adalah kajian tentang baik buruknya manusia sebagai ciptaan Tuhan.

Etika mengajak kita bertindak benar secara moral. Sedangkan ajaran moral secara singkat bisa dijelaskan sebagai serangkaian petunjuk konkrit bagaimana manusia harus hidup sebagai manusia yang baik. Ajaran moral berfungsi membentuk perilaku baik seseorang dlm relasi sosial.

Manusia punya suara hati

Apa yang membedakan hewan dengan manusia sebagai sama-sama ciptaan Tuhan?

Secara prinsipil perbedaannya adalah manusia punya rasio dan suara hati, sedangkan hewan dikendalikan oleh insting.

Maka manusia memiliki kemampuan dalam hal pikiran, perasaan, tindakan, dan berkehendak bebas.

Kalau dari sejak diciptakan, manusia sudah dibekali dengan suara hati, mengapa harus belajar terus tentang etika?

Belajar etika sepanjang hayat

Ada satu mitos tentang etika yang dijadikan salah alas an menolak pengajaran mata kuliah etika yaitu kita belajar tentang etika ketika anak-anak, bukan ketika dewasa.

Benarkah? Jawaban singkatnya: tidak.

Alasannya ada dua yang utama.

Pertama, kedewasaan etika bertumbuh sejalan dengan kedewasaan pikiran. Ketika anak-anak daya cerna berbeda dengan ketika dewasa. Maka pemahaman tentang baik benar terkadang lebih sebatas pada ‘tidak baik karena dilarang orangtua’.

Kedewasaan didapat ketika sang anak akhirnya mengerti dan memahami alasan di balik penolakan atau pelarangan suatu tindakan yang disebut tidak benar.

Alasan kedua, logis dan terkait dengan yang pertama yaitu membuat keputusan etis perlu kemampuan berpikir. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat menghasilkan penemuan-penemuan baru yang membantu kehidupan manusia tetapi berbarengan dengan itu membawa konsekuensi baru yang dulu belum pernah dihadapi.

Contohnya internet membantu penyebaran informasi secara cepat dan massif tetapi juga membawa masalah seperti perlindungan data pribadi dan munculnya hoax. Kemajuan rekayasa genetika selain membantu menciptakan tanaman kualitas baru juga menimbulkan pertanyaan etis tentang dampak buruk konsumsi produk genetika buatan tersebut.

Maka etika itu perlu dipelajari seumur hidup, karena kehidupan itu dinamis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here