Jangan Ukur Mutu Pewartaan Iman dari Jumlah Baptisan (1)

0
1,881 views

TENTANG bagaimana harus mengukur tingkat “keberhasilan” kegiatan pewartaan iman, jangan sekali-kali mengukur itu dari jumlah babptisan.

Harus kita akui, Gereja kurang berani dan piawai menjalankan misi pewartaan. Gereja memang tidak pernah memakai jasa layakan SPG dan SPB. Tapi untuk mewartakan kebaikan Tuhan dan akan datangnya “Kerajaan Surga”, Gereja tidak perlu ragu dan kalah dengan kiprah super gesit dari para SPG/SPB.

Tentu mewartakan iman harus disertai dengan kesaksian. Tanpa sebuah kesaksian atau contoh baik tentang penghayatan iman, maka pewartaan iman juga akan mengecewakan. Hasil pewartaan iman jangan sekali-kali diukur dari banyaknya baptisan, melainkan justru dari mutu penghayatan iman dari sang pewarta dan subjek yang disapa dengan pewartaan iman itu sendiri.

Salib harus dipikul dan di situ ujian menghadang langkah di depan. Kalau hanya mengandalkan iklan iman atau “gaya sebakul” omongan motivator, maka menjadi katolik bisa hanya berlangsung dalam sekejap. Hari ini katolik, hari besok sudah menjadi “kastolik” alias bekas katolik.

Zaman sekarang rasanya juga tidak harus semua orang “jadi katolik”. Yang lebih penting justru hati dan tindakannya harus bernafaskan semangat kristiani. Ingat sejarah Gereja Perdana: di sana tidak pernah muncul istilah “katolik”, yang ada hanyalah menjadi “murid-murid Tuhan”.

Seruan menjadi “murid Tuhan” barangkali juga terdengar kuno, lantaran hal sama pernah disuarakan gencar oleh mendiang Romo Mangun. Pun pula juga pernah digemakan oleh Monsinyur Albertus Sugijapranata SJ dengan ucapannya yang sangat masyur yakni “100 persen katolik, 100 persen Indonesia”.

Abraham –yang dikenal sebagai model bapa orang beriman—juga tidak pernah menyebut diri atau disebut orang lain sebagai “katolik”. Abraham hanyalah “penyiap” kedatangan Tuhan.

Bunda Maria juga tidak pernah disebut sebagai “Bunda Orang Katolik”, melainkan lebih kita akrabi dengan sebutan Maria, Bunda Sekalian Orang Beriman.

Iman dan beriman itu inti harus menjadi nafas katekese atau penyiaran/pengkabaran iman. Katekese adalah soal membuat, memfasilitasi, me-iklan-kan, menjual semangat iman. Maka ukurannya jelas bukan jumlah orang yang (sudah) dibaptis. Kendatipun itu pasti mengembirakan, tetapi lebih penting adalah jumlah sekian orang yang sudah dibuat teguh dalam beriman.

Bagi saya, katekese bukan soal pewartaan sabda (huruf kecil), tetapi pewartaan Sabda (dengan huruf besar). Kendati Monsinyur Sugijopranata dan Romo Mangun sudah kuno, namun mereka itu saya anggap benar dalam memaknai arti katekese iman.

Saya salut pada seorang Romo yang berani masuk pasar dan ikut melestarikan wayang sebagai warisan budaya. Ia melakukan itu bukan untuk mengajak orang lain jadi katolik, melainkan melakukan iman.

Maka orang lain jadi tertarik beriman dan tidak harus menjadi katolik. Yang diarah adalah sikap beriman dan bukannya menambah data administratif.

Yang penting adalah istilah pewartaaan iman daripada pewartaan agama.

Fundamentalisme merupakan wujud mengkotak-kotakan agama. Orang fundamentalis cenderung membenci kelompok lain, mengeksklusi agama yang bukan miliknya.  Namun manusia beriman justru berbuat sebaliknya: merangkul semua orang, bahkan yang tidak baik sekalipun. Sebab hujan turun untuk semua orang; dan begitu pula panas menyinari semua orang.

Maka kata Yesus, ampunilah musuh-musuhmu. Iman dan pengampuan adalah dua sisi mata uang. Iman tanpa pengampunan, maka kita kembali menjadi fundamentalis.  (Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here