Kegembiraan Anak-anak

0
364 views
Indah Bermain Saat Masih Kecil. (Romo Suhud SX)

Sabtu, 26 Februari 2022

  • Yak. 5:13-20.
  • Mzm: 141:1-2.3.8.
  • Mrk. 10:13-16.

LIMA belas tahun yang lalu, waktu saya tugas di paroki pedalaman. Setiap tahun, kami rutin mengadakan perkemahan bagi anak-anak Sekami.

Biasanya sampai 30 tenda terpasang yang dipenuhi oleh anak-anak, karena setiap stasi yang berjumlah 23 stasi itu, mengirim kurang lebih 20 anak.

Aneka kegiatan dilakukan dengan tujuan memperdalam iman anak dengan penyajian yang ringan dan menarik melalui permainan dan acara kebersamaan.

Sepanjang kegiatan yang berlangsung tiga hari anak-anak jarang terlihat capai. Mereka sangat antusias, sehat dan ceria seakan kegembiraan hati itu menjadi mesin yang menggerakkan mereka hingga selalu tersenyum bahagia.

Bagi mereka kegiatan kumpul bersama dengan teman-teman sungguh menyenangkan.

Anak-anak itu punya dunianya, dan kegembiraannya.

Sayang sekali bahwa sering kali ada orangtua yang tanpa sadar merampas kebahagiaan anak-anak dengan mengganti dunia anak-anak dengan dunia orangtua yang diwarnai aturan dan aneka kepentingan.

Dunia anak yang spontan, jujur apa adanya bisa hilang, ketika orangtua memaksakan keinginan mereka.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian,

“Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.”

Anak-anak melambangkan kepolosan, keterusterangan, dan kebergantungan. Mereka sungguh menampilkan keceriaan hati dan kegembiraan yang lugas tanpa dibuat-buat.

Hidup beriman kita pun hendaknya diwarnai kegembiraan dan keceriaan yang tulus tanpa dipusingkan dengan aneka kepentingan yang hanya membuat kita tidak mampu tersenyum tulus dengan sesama.

Seperti seorang anak percaya saja apa yang dikatakan dan diajarkan orang dewasa kepadanya, demikian seharusnya iman orang dewasa kepada Allah.

Seperti seorang anak yang spontan berseru kepada orang tuanya saat membutuhkan pertolongan, demikian semestinya doa kita kepada Tuhan.

Seorang anak menyadari dirinya lemah dan tergantung kepada orangtuanya. Apakah kita memiliki ketergantungan seperti itu kepada Tuhan Yesus?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here