Kematian tanpa Tangisan

0
327 views
Ilustrasi -- Mengalami kesendirian dan kesepian saat sakit tanpa keluarga (ist)

BAPERAN – BAcaan PERmenungan hariAN.

Sabtu, 18 September 2021.

Tema: Hati baik.

  • 1 Tim. 6: 13-16.
  • Luk. 8: 4-15.

Selain animal rasionale, ciri khas manusia yang paling menonjol adalah hati. Alias kesadaran moral.

Hati yang mampu berbelarasa dan berbelas kasih. Kenangan baik akan seseorang di dalam keluarga rupanya mempengaruhi hidup orang di kemudian hari.

Belas kasih itu sendiri adalah “hati” Allah.

Allah adalah kasih. Identitas Allah yang kita percayai.

Dalam kasih Bapa, kita merasa aman dan nyaman. Karena, Ia adalah Bapa yang baik. Ia adalah penjamin kehidupan abadi.

Wajah dan hati itu tak lain adalah Yesus, Tuhan. Wujud kehadiran dan kuasa Yesus dapat menjadi jaminan bagi kita. Ia adalah jalan, hidup, dan kebenaran kita. Amin.

Kasih yang tak terduga.

Seorang umat yang sederhana, suka menolong dan rajin berdoa Rosario, akhirnya meninggal. Ia pulang ke rumah Bapa. Sudah beberapa waktu lamanya, ia sakit dan hidupnya menderita.

Penyakit itu sudah lama hidup di tubuhnya. Bahkan dia rasakan sebagai hal yang biasa, tidak istimewa. Maka ketika bapak itu akhirnya meninggal lantaran sakit, saya melihat dalam perayaan iman sekitar wafat dan kebangkitan di situ tidak ada emosi sedih.

Menangis pun bahkan tidak ada.

Iman seharusnya begitu. Percaya. Atau mungkin saja sudah sangat capai hati. Juga telah lelah untuk kemudian hanya bisa berpasrah dan percaya.

Atau juga pergulatan antara iman dan relasi yang kurang terpupuk baik, sehingga suasana sedih hari itu tidak bisa dipeluk dalam kehangatan cinta manusiawi.

Saya hadir, karena bagiku almarhum adalah sosok pribadi yang sederhana. Juga suka menolong orang lain. Ia rajin berdoa.

Karya Roh

Acara meisongan, tutup peti dan pemberangkatan ke krematorium, doa di krematorium berjalan dengan baik. Tidak ada suasana sedih dari pihak keluarga.

Sungguh, sama sekali tidak ada tangisan.

Tiba-tiba seseorang berkata begini. “Romo, almarhum ini masih saudara saya. Ia tinggal di tempat di mana menjadi bagian paroki, Romo,” katanya lirih.

“Kenalkan Romo. Nama saya …,” sambungnya.

“Tinggal di mana?” tanyaku heran.

Lalu, bapak itu menyebutkan suatu daerah.

“Oh iya. Desa itu masih jadi kawasan pelayanan saya. Setiap Minggu, kami mengunjungi, berhimpun dan ber-Ekaristi bersama,” jawabku apa adanya.

“Iya Romo, saya juga mendengar. Saya dulu antar orangtua ke Gereja Katolik. Saya beribadah di samping tempat Romo,” katanya.

“Papa mama masih? Tinggal di mana mereka?” tanyaku.

“Kalau papa sudah meninggal, Romo. Mama masih bersama kami.

Mama saya memang agak kurang sehat akhir-akhir ini. Tapi masih bisa berjalan dan beraktivitas. Masa pendemi ini tidak kemana-mana. 

Setelah papa meninggal, mama tidak begitu bergembira. Papa Katolik, Romo. Tapi Mama belum. Mama selalu bilang akan menjadi Katolik. Mama ingin seperti Papa.

Mama begitu terkesan oleh pribadi Papa dan doa-doa Gereja Katolik.

Papa sudah dibaptis.Katolik. Tetapi anak-anak tidak. Mami belum punya pegangan, tapi juga ingin bisa dibaptis,” jelasnya.

Perjalanan iman

“Mama,” kata bapak yang menyapaku, “selalu mengatakan sampai hari itu bahwa dia sekali waktu juga akan menjadi Katolik. Supaya satu iman dengan Papa. Dalam hati Mama, semangat ingin jadi Katolik tetap bernyala terus. Kami pun berharap demikian. Bisakah, Mo?”

“Segera kami kunjungi ya,” responku tangkas.

Sabda Allah mengundang kita. Iya memberikan sebuah kepastian dan harapan yang lebih besar.

Injil hari ini menasihati kita agar waspada akan godaan-godaan yang sering mempermainkan iman kita. Bahkan mencelakakan hidup kita.

Godaan mengeluh atau menyerah.

“Biji yang jatuh ke dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.” ay 14.

Iman berarti mensyukuri, menikmati anugerah-anugerah kecil, hal-hal sederhana, yang diterima setiap hari.

Tuhan, ajari kami bersyukur atas hidupku ini. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here