Kiong Koe Berkicau: Tempat Ini Sunyi

0
112 views
Ilustrasi - sakit by ist

Mat 14:13-21

DULU ketika masih duduk di bangku Seminari Menengah, pihak direktur Seminari memberikan kesempatan kepada saya untuk “mengalami” kehidupan pastoral di satu paroki. Di sana saya tinggal dengan seorang imam Diosean.

Saat itu, saya berpikir bahwa tinggal di paroki untuk menjalani praktik nyata sebuah karya iman akan memiliki jadwal doa yang lebih longgar dibandingkan dengan tinggal di seminari. Karena pastilah tinggal di paroki kami akan tenggelam dalam kesibukan jadwal pelayan.

Rupanya, kesan saya itu salah.

Pastor Paroki yang turut terlibat mendampingi hidup doa saya ini adalah seorang imam yang saleh, kebapakan dan rendah hati.

Di paroki, jadwal doa sudah ditata sedemikian rupa. Bahkan ketika pergi turne ke Stasi di wilayah bagian Utara, di dalam mobil wajib berdoa Rosario lima peristiwa. Dia minta saya mengangkat doa Rosario dan sambil nyetir mobil dia yang memimpin lagu Maria.

Mobil berjalan begitu pelan. Di dalam mobil kami hidup serasa seperti di hutan, sunyi dan hening. Setahun saya hidup dengan dia dan pola hidup doa harian kami sepertinya sudah baku.

Dia menasehati saya waktu itu begini, “Adek, hidup seorang imam itu, identik dengan keheningan, doa dan karya. Mungkin kamu capai, lelah, bosan dan jenuh dengan pola hidup seperti yang saya jalani ini. Itu adalah godaan. Akan tetapi, kelak ketika kamu dipanggil oleh Allah untuk menjadi seorang imam, adek tidak bisa lari lagi dari cara-cara hidup seperti yang saya jalani ini. Melalui dan dalam pola hidup seperti ini, kamu akan menemukan identitas dirimu yang sejati.”

Namun, sayangnya begitu saya menjadi imam, pastor ini jatuh sakit. Saya masih diberi kesempatan untuk merayakan misa kudus dengan dia di rumah sakit Samarinda tempat dia dirawat.

Saya memimpin misa dengan berlinang air mata. Dalam homili singkat saya berkata di depan dia:

“Saya sepertinya mau berontak dengan kondisi hidup pastor saat ini. Pastor sudah melewati hidup keheningan, doa dan karya yang begitu panjang. Namun, saya tidak habis pikir, mengapa Allah membalas semua jasa-jasamu dengan memberikan pastor penderitaan seperti ini? Saya menangis di depan dia. Dari tempat tidurnya, dia menunjukkan jarinya ke arah salib.

“Lihatlah salib itu.”

Saya tidak paham apa yang dia maksud.

Saya diam sejenak, lalu melanjutkan misa. Saat memberi komuni, saya memberikan dia komuni lengkap. Begitu selesai komuni, dia menarik tangan saya untuk di letakkan di atas kepalanya. Oh…dia minta berkat. Setalah selesai misa, saya berlutut di samping tempat tidurnya memohon berkatnya. Tangannya dia tempelkan di atas kepalaku, sejuk sekali.

Saat itu, air mataku keluar. Dan kemudian saya bangkit berdiri dan langsung memeluknya. Di telinganya saya berbisik, “Terimakasih buat semua doa dan support-mu. Engkau adalah ayah bagiku.”

Enam bulan kemudian, pastor ini meninggal dunia. Hidupnya, selesai.

Dari pengalaman ini, saya menyadari kata-kata para murid Tuhan Yesus, “Tempat ini sunyi dan hari hampir malam” adalah kata-kata yang menguraikan pergulatan spritualitas hidup manusia.

Berada “di tempat yang sunyi” berarti hidup dalam keheningan bersama Tuhan Yesus. Namun, hidup dalam keheningan ini seringkali menjadi ujian berat bagi hidup manusia.

Berada di pusat keheningan bersama Tuhan Yesus malah diseret oleh sebuah ancaman kelaparan dan kehausan. Seberapa kuat orang hidup dalam keheningan bersama Tuhan Yesus tanpa makan dan minum?

Para murid Tuhan Yesus, berkeyakinan begini, “Sehari saja orang tidak makan dan minum nasibnya, bisa berpindah haluan dari “siang menuju malam” (dari sebelumnya bisa dilihat dengan mata lalu berpindah ke tempat yang tidak bisa dilihat yaitu, hidup dalam kuburan yang gelap). Jadi bisa disimpulkan bahwa keadaan orang-orang lapar dan haus itu adalah kondisi orang yang sedang menempuh perjalanan dari “siang menuju malam”.

Kalau tidak segera ditolong…, Ya….akan mengalami “malam” selama-lamanya.

Akan tetapi, dari sudut pandang Tuhan Yesus, “Keheningan adalah momentum untuk membuka identitas siapa diri-Nya? Dalam bahasa isyarat Pastor yang menunjukkan salib tadi, “Tuhan Yesus yang tersalib adalah symbol keheningan”.

Kita semua diajak hening memandangi Dia di salib. Dengan hening sambil memandang Dia di salib, kita akan “menemukan” diri sendiri dan menemukan jalan hidup.

Renungan: “Kesadaran dan pertobatan hidup seringkali tumbuh di tempat yang sunyi dan muncul dalam perjalanan senja menuju malam.”

Tuhan memberkati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here