Lectio Divina 01.08.2021 – Makanlah Roti Hidup

0
203 views
Inilah Roti Hidup by Hermel Alejandre.

Minggu. Pekan Biasa XVIII (H)

Peringatan Wahib Santo Alfonsus Maria de Liguori           

  • Kel. 16:2-4.12-15.
  • Mzm. 78:3.4bc.23-24.25.54
  • Ef. 4:17.20-24
  • Yoh. 6:24-35

Lectio Yoh. 6:24-35

Meditatio-Exegese

Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu

Manna di padang gurun mempralambangkan Ekaristi (bdk. Katekismus Gereja Katolik, 1094). Mukjizat manna dan burung puyuh membuktikan Allah menjamin hidup umat ketika mengembara di gurun setelah peristiwa keluaran. Dalam Perjanjian Baru Allah justru menganugerahkan Roti Hidup.  

Mukjizat itu dikisahkan dalam Kel. 16:2-4.12-15 dan Bil. 11. Keduanya dijalin erat dan diramu dengan kisah nyata, refleksi iman atas peristiwa nyata dan cara hidup yang sesuai dengan tuntutan hukum Tuhan.

Beberapa ahli menerangkan manna berasal dari getah tanaman  tamarisk, tamarix mannifera.

Getah yang terasa manis menetes setelah batang ditusuk oleh serangga tertentu yang endemik di pegunungan Sinai. Tetesan getah kemudian menjadi padat dalam udara malam dan kemudian jatuh ke tanah.

Manna berwarna putih dan bentuknya seperti damar bedolah (Bil. 11:8). Bahan tepung itu harus digiling dengan batu kilangan atau ditumbuk dalam lesung, dimasukkan dalam periuk dan diolah seperti roti.  Roti ini dimakan di gurun (Kel. 16:4-35; Bil. 11:6-9; Mzm. 78:24) sampai bangsa Israel tiba di Kanaan (Yos. 5:12).

Tiap keluarga memungut satu gomer, kira-kira 3,6 liter tiap hari selama 6 hari. Karena pada Sabat manna tidak turun, mereka diijinkan mengambil dua kali lipat.

Bila disimpan bermalam, tepung itu berulat dan berbau busuk. Maka, untuk makan di hari Sabat, setelah dimasak atau dibakar, roti itu disimpan (Kel. 16:4.5.16-30).

Allah menyediakan manna dalam waktu terbatas, agar bangsa itu belajar tunduk kepada perintah-Nya. Sayang, mereka menentang Dia, yang membebaskan dari Mesir (Kel. 16:19; 20:25-30).

Sebagai burung rantau, puyuh selalu singgah di Semenjanjung Sinai saat migrasi bolak-balik antara Afrika dan Eropa atau Asia. Kawanan itu menyeberangi Laut Tengah untuk kembali ke Afrika, pada bulan Mei dan Juni. 

Dalam kelelahan setelah menyeberangi laut yang panjang, kawanan itu beristirahat di Sinai. Saat kelelahan itulah, mereka mudah sekali ditangkap.

Burung puyuh dan manna yang mudah didapatkan bagi para penulis suci menjadi tanda kemurahan hati Allah.

Allah memberi karunia yang cukup bagi bangsa yang suka menggerutu, bahkan melawan-Nya. Sikap Allah yang murah hati tentu berlawanan dengan sikap beberapa anggota umat yang tamak  (Kel. 16:20).  

Dengan cara unik, disingkapkan sikap Allah yang tidak sesuai dengan harapan manusia. Bila mengikuti cara pikir manusia, Allah seharusnya menghukum umat yang memberontak pada-Nya.

“Ah, kalau kami mati tadinya di Tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang. Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.” (Kel. 16:3).  

Ia tidak menjawab ketidakpercayaan umat pada-Nya dengan penghukuman, tetapi dengan belas kasih, mendengarkan keluhan dan pemberontakan umat-Nya, serta menganugerahkan apa yang dibutuhkan. Ia juga memberi kesempatan umat untuk belajar mengimani Dialah Allah (Kel. 16:12), “Akulah TUHAN, Allahmu.” ego sum Dominus Deus vester.

Tentang belas kasih Allah pada umat yang memberontak pada-Nya, Origenes, Bapa Gereja dari Mesir, menulis, “Meskipun Allah dapat menjatuhkan hukuman pada orang-orang yang pantas Ia hukum, bahkan, tanpa mengucapkan sepatah sabda pun, Allah tidak melakukannya.

Sebaliknya, sampai pada saat ketika Ia seharusnya menghukum mereka, Ia berbicara dengan orang yang berdosa pada-Nya dan mengizinkannya berbicarapada-Nya, karena Ia membantunya menghindari penghukuman.” (dikutip dari Homiliae in leremiam 1, 1).

Dalam tradisi Gereja, mukjizat manna sarat dengan makna iman. Mukjizat ini menyingkapkan (Ul. 8:3), “bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.” non in solo pane vivat homo, sed in omni verbo, quod egreditur de ore Domini.

Menggunakan alasan alkitabiah itu, Yesus menolak setan yang meminta-Nya mengubah batu menjadi roti di gurun Yudea (bdk. Mat. 4:4; Luk. 4:4).

Pemazmur menyingkapkan bahwa manna sama dengan dengan roti dari surga, roti malaikat, panis caeli, panis angelorum (Mzm. 78:24.25) yang dikirim secara berkelimpahan.

Bukan karena kamu telah melihat tanda

Setelah Yesus menggandakan roti, orang banyak mencari dan mengikuti-Nya. Mereka telah menyaksikan tanda atau mukjizat. Telah makan dan kenyang. Dan ingin diulang lagi! Mereka tidak memiliki minat untuk mencari makna dibalik tanda heran dan menemukan Allah yang mengundang mereka untuk mengsihi-Nya.

Sebagian telah pergi naik perahu ke arah Tiberias. Yang lain mendarat di Kapernaum. Kemudian mereka berkumpul dan mencari sosok Nabi Musa lain yang mampu memberi manna.

Ketika berjumpa dengan Yesus mereka bertanya-tanya, “Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?” (Yoh. 6:25).

Sama seperti ketika dijumpai Nikodemus, Yohanes mengabaikan pertanyaan mereka. Ia langsung menukik ke pokok persoalan yang dihadapi mereka.

Mereka tidak mencari Yesus untuk menemukan makna tanda, tetapi mereka didorong oleh kebutuhan dasar manusia, pemenuhan kebutuhan perut.

Bekerjalah untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal

Yesus menunjukkan bahwa manusia tidak hanya makan roti yang mengenyangkan perut dan meredakan rasa lapar saja. Tetapi, ia membutuhkan makanan yang lebih penting, yaitu sesuatu jenis makanan yang mampu bertahan untuk hidup kekal.

Yesus mengingatkan kebenaran nubuat Nabi Yesaya, “Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat.” (Yes 55:2).

Mengikuti nubuat nabi besar itu, Yesus menyingkapkan dua macam makanan, yaitu: makanan yang hanya bertahan sementara dan menyeret menusi kesia-siaan dan makanan yang menghantar pada kehidupkan kekal.

Yesus, seperti Nabi Yesaya, menyingkapkan wajah belas kasih Allah, misericordiae vultus,  dengan menuntun manusia untuk memilih makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal (Yoh. 6: 27). Makanan itu, βρωσιν, brosin, dari kata brosis, diberikan oleh Anak Manusia.

Apakah yang harus kami perbuat?

Beberapa orang mulai mengerti makna sabda Yesus. Yesus menawarkan jenis makanan lain yang bertahan kepada hidup kekal. Maka mereka bertanya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?”

Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:28-29).

Mereka tidak mengerti bahwa jawaban atas pertanyaan itu adalah Yesus sendiri.

Mereka harus meninggalkan ketaatan pada hukum dan beralih kepada iman akan Sang Sabda, Putera Allah. Ia tidak menghendaki persembahan dan korban bakaran, tetapi belas kasih, misericordia.

Tanda apakah yang Engkau perbuat?

Orang-orang yang mengikuti Yesus dan telah dipuaskan dengan dengan roti ternyata masih menuntut tanda dari Yesus. Tanda,  σημειον, semeion, merupakan benda atau tindakan yang menunjuk bahwa seseorang, termasuk Yesus, berasal dan memiliki kuasa dari Allah.

Yesus membuat tanda ketika Ia menggandakan 5 roti dan 2 ikan untuk memberi makan 5000 orang laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak. Sayang, mereka gagal memahami tanda yang dilakukan Yesus.

Yang mereka rindukan adalah tokoh besar di Perjanjian Lama, Musa. Musa mendatangkan sepupuh tulah kepada seluruh Mesir, istana dan rakyat.

Mereka mengira Musa memberi makan leluhur mereka dengan manna. Mereka mengira bahwa manna adalah ‘roti dari surga’.

Mungkin mereka mengutip kalimat pembenaran dari Neh. 9:15 atau Mzm. 78:24 atau Keb. 16: 20, “Telah Kuberikan kepada mereka roti dari langit untuk menghilangkan lapar…”  Maka, mereka bertanya, “Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?”

Roti yang dari Allah turun dari surga dan memberi hidup kepada dunia

Yesus menjawab pertanyaan mereka dengan cara unik. Pribadi yang memberi roti bukan Musa, melainkan Allah, Bapa-Nya. Roti itu diberikan di masa lalu dan yang makan semuanya mati (Yoh. 6: 49). Yesus memusatkan perhatian pada masa kini.

Yesus bermain-main dengan kata ‘memberi’ – untuk Musa diberi penanda bentuk masa lalu; sedangkan untuk Bapa-Nya diberi penanda masa sekarang – yang berarti dimulai dari dulu-kini-akan datang. Sabda-Nya dalam Latin Vulgata (Yoh 6:30), “Non Moyses dedit vobis panem de caelo, sed Pater meus dat vobis panem de caelo verum.”

Kata dasar memberi dalam bahasa Latin: dare.

Kata yang digunakan untuk Musa adalah dedit, dengan makna memberi di masa lalu.

Sedangkan untuk Bapa-Ku digunakan kata dat, menunjukkan memberi di masa kini. Maka yang diberikan sekarang adalah Roti yang benar, karena Ia tidak hanya berasal, tetapi diutus atau turun dari surga untuk menyelamatkan dunia.

Maka, setiap makhluk memperoleh hidup. Hidup berasal dari Roti yang benar, Yesus sendiri.

Akulah roti hidup

Kata mereka kepada-Nya, “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” (Yoh. 6:34). Sekali lagi,orang banyak gagal paham akan sabda-Nya. Sama seperti perempuan Samaria yang meminta air hidup pada Yesus (Yoh. 4:15), mereka mengira roti yang diberikan Yesus adalah makanan yang mengenyangkan perut.

Mereka hanya berpikir tentang bagaimana bertahan hidup sementara, bukan bagaimana cara memperoleh hidup jauh lebih mulia dan abadi.

Sama seperti saat dalam perjumpaan dengan perempuan Samaria, Yesus menyingkapkan diri-Nya. Ia bersabda (Yoh 6:35), “Akulah roti hidup.” εγω ειμι ο αρτος της ζωης, ego eimi ho artos tes zoes, Ego sum panis vitae.

Maka,  Makan Roti dari surga berarti percaya kepada-Nya, melakukan ajaran-Nya dan mengikuti jalan-Nya hingga kebangkitan-Nya.

Ia bersabda, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh 4:34). Inilah roti yang memberi hidup sejati, mengubah dan memberi hidup baru.

Katekese

Allah adalah Majikan kita.  Santo Augustinus, Uskup Hippo, 354-430:

“Kamu tahu  keinginan manusia adalah memperoleh hidup kekal. Kita menghendaki untuk tinggal di tempat di mana tak seorang pun mati. Dan bila mungkin, kita tidak ingin pergi ke sana melalui jalan kematian.

Kita ingin dihantar ke sana sementara kita masih hidup. Kita ingin memandang tubuh kita diubah, saat ini saat kita hidup, menjadi tubuh rohani seperti yang akan diubah saat kita dibangkitkan kembali.

Siapa yang tidak menghendaki hal demikian? Bukankah hal ini dikehendaki setiap orang? Tetapi, saat kamu menghendaki semua itu, kamu diminta Tuhan, “Tinggalkan.”

Ingatlah apa yang dimadahkan pemazmur, “Sebab aku menumpang pada-Mu, aku pendatang seperti semua nenek moyangku.” (Mzm 39:13). Kalau kamu menumpang, kamu pasti tinggal di rumah orang lain.

Kalau kamu tinggal di rumah orang lain, kamu pergi ketika tuan rumah menyuruhmu. Dan tuan rumah itu pasti akan menyuruhmu pergi cepat atau lambat. Ia pasti tidak akan menjamin kamu tinggal di rumahnya untuk jangka lama.

Terlebih, ia tidak menandatangani surat perjanjian denganmu. Mempertimbangkan bahwa kamu menumpang pada tanpa bayar, kamu harus pergi ketika ia menyuruhmu.

Dan hal ini juga harus kamu pertimbangkan juga. Kamu harus mendahulukan kesabaran.” (dikutip dari Sermon 359A,8)

Oratio-Missio

Tuhan, Engkaulah Roti Hidup. Hanya Engkau yang dapat memuaskan kerinduan hatiku. Semoga aku selalu menjadikanMu pusat hidupku dan selalu setia padaMu sepanjang peziarahanku ke tanah yang Engkau janjikan, Firdaus. Amin.

  • Apa yang perlu kulakukan untuk selalu merindukan Ekaristi dan sabda-Nya?

Ego sum panis vitae. Qui venit ad me, non esuriet; et, qui credit in me, non sitiet umquam – Ioannem 6: 35  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here