Lectio Divina 04.02.2024 – Sang Pendoa Mengalahkan Penyakit dan Setan 

0
309 views
Ayub ditimpa segala mala, tetapi tak mengutuk Allah, by Jacob Jordaens.

Minggu. Hari Minggu Biasa V (H)

  • Ayb. 7:1-4,6-7
  • Mzm. 147:1-2,3-4,5-6
  • 1Kor. 9:16-19,22-23
  • Mrk. 1:29-39

Lectio

29 Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. 30 Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. 31 Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka.

32 Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. 33 Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. 34 Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

35 Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. 36 Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; 37 waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.”

38 Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” 39 Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.

Meditatio-Exegese

Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan?

Menggunakan simbolisasi angka sempurna, penulis kitab, mendeskripsikan Ayub, yang tinggal di tanah Us, sebagai sosok yang sempurna di hadapan manusia dan Allah. Ia dianggap orang yang bahagia, karena hidup saleh dan jujur,  takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.

Di samping itu, ia memiliki tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur (Ayb. 1:1-3).

Tetapi, kisah sukses hidup Ayub berbalik dalam sekejap mata, saat seluruh yang dia miliki lenyap seketika. Seluruh harta kekayaannya musnah. Anak-anaknya mati.

Istrinya pun mengutukinya. Terlebih, padanya ditimpakan barah busuk dari telapak kaki sampai batu kepalanya.

Namun, Ayub justru mengambil beling untuk menggaruk luka-lukanya. Dalam seluruh penderitaannya, ia tidak berbuat dosa dengan bibirnya (Ayb. 2:7-10).

Pengalaman Ayub menyingkapkan sisi kelam pengalaman manusia, sebagai konsekuensi sebagai anak turun Adam: derita tiada henti (bdk. Kej. 3:17-19).

Penderitaan manusia digambarkan seperti tak hanya seorang upahan yang bekerja berat tanpa henti di terik matahari atau guyuran hujan badai. Tetapi juga seorang budak yang merasa sia-sia mendapatkan tempat bernaung dan upah yang diterimanya tidak seberapa, mungkin tak cukup untuk hidup.

Terlebih, Ayub sadar akan hidup yang singkat, bahkan, lebih cepat dari torak, tabung kecil berisi kumparan benang dalam alat tenun (Ayb. 1:1-4). Beratnya penderitaan dan singkatnya hidup membuat Ayub yakin ia tidak akan mengalami kebahagiaan.

Katanya (Ayb. 7:6-7), “Hari-hariku berlalu lebih cepat dari pada torak, dan berakhir tanpa harapan. Ingatlah, bahwa hidupku hanya hembusan nafas; mataku tidak akan lagi melihat yang baik.”, Dies mei velocius transierunt quam navicula texentis et consumpti sunt deficiente filo. Memento quia ventus est vita mea, et non revertetur oculus meus, ut videat bona.

Inilah gambaran dunia yang rusak karena dosa asal (bdk. Katekismus Gereja Katolik, 215, 390, 397-98, 404, 412) dan dosa pribadi (bdk. Katekismus Gereja Katolik, 1852, 1868). Setiap orang harus berjuang untuk terus berperang melawan dosa.

Bapa Konsili Vatikan II mengajar, “Sebab seluruh sejarah manusia sarat dengan perjuangan sengit melawan kekuasaan kegelapan. Pergulatan itu mulai sejak awal dunia, dan menurut amanat Tuhan akan tetap berlangsung hingga hari kiamat.

Terjebak dalam pergumulan itu, manusia tiada hentinya harus berjuang untuk tetap berpegang pada yang baik. Dan hanya melalui banyak jerih-payah, berkat bantuan rahmat Allah, ia mampu mencapai kesatuan dalam dirinya.” (Konstitusi Pastoral Tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini, Gaudium et Spes, 37; Katekismus Gereja Katolik, 409).

Pengalaman rohani Ayub menyingkapkan kondisi miris hidup manusia sebelum kedatangan Kristus. Harapan akan kebahagiaan dan hidup abadi seolah tertutup.

Setelah kejatuhan Adam, sejarah hidup manusia sepertinya hanya berakhir  di kediaman orang mati, Sheol, dalam ungkapan Ibrani (bdk. Katekismus Gereja Katolik, 536, 633).

Santo Markus menggambarkan keterpisahan antara Allah dan manusia sebagai surga yang terkoyak (Mrk. 1:10; Katekismus Gereja Katolik, 1026). Tetapi, semua kondisi itu berubah melalui karya penebusan Yesus Kristus.

Di dalam Dia, umat manusia menerima pengharapan akan hidup yang kekal dan janji bahwa mereka yang menderita karena ketidakadilan di dunia akan menerima belas kasihan dan keadilan Allah.

Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam

Simon dan Adreas, yang berasal dari Betsaida (Yoh. 1:44), telah pindah ke Kepernaum setelah perkawinan Simon. Simon tinggal bersama istri dan ibu mertuanya; sedangkan Andreas mungkin menyewa rumah. 

Penulis Injil belum menyebut pergantian nama Simon menjadi Petrus. Ia belum dimasukkan atau dipanggil menjadi kelompok dua belas rasul (Mrk. 3:16-19).

Mendengar kabar kalau mertua Simon terbaring sakit demam, Yesus segera menjumpainya. Santo Lukas, bahkan, menggambarkan mertua Simon menderita demam keras.

Digunakan kata πυρεσσουσα, puressousa, yang berasal dari kata πυρα, pura, bermakna: api. Kata ini juga berpadanan makna dengan kata ‘mati’. Maka demam bermakna keadaan dalam tubuh yang panas atau membara seperti terbakar oleh api.

Pandangan orang pada jaman itu, sakit demam adalah penghukuman atau kutukan yang ditimpakan Allah karena umat tidak setia pada perjanjian denganNya (bdk. Ul. 28:22). Perjanjian Lama mengajarkan bahwa orang yang menderita sakit harus menangisi dosa dan memohon kesembuhan kepada Allah, sumber pengampunan dan penyembuan (Kel. 15:26; 23:25). 

Santo Markus menggambarkan penyembuhan ibu mertua Simon di hari Sabat dengan sangat ringkas. Ia masuk ke tempat perempuan itu berbaring, memegang tangan dan membangunkannya. Maka lenyaplah demam itu. 

Santo Markus menggunakan kata kunci, ηγειρεν, egeiren, dari ηγειρo, egeiro,  membangunkan. Kata ini digunakan juga untuk melukiskan kisah kebangkitan Yesus. Sepertinya, Santo Markus menempatkan kisah ini di awal karya Yesus sebagai pra-kisah tentang kebangkitan-Nya kelak.

Di samping itu, kisah ini juga mengungkapkan iman Gereja Perdana bahwa Yesus telah mematahkan segala macam kutuk.

Dan setelah sembuh kembali seperti sedia kala, si ibu melayani para tetamu di rumah. Pelayanannya bertentangan dengan tradisi Yahudi yang melarang kaum perempuan melayani meja pada saat kaum lelaki sedang makan.

Maka, melalui pelayanan ibu mertua Petrus, Gereja mematahkan tradisi lama ini. Pembaharuan merebak saat persaudaraan dijalin di antara anggota jemaat Gereja Perdana, yang tidak membeda-bedakan orang.

Santo Paulus menulis, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Gal. 3:28).

Perjanjian Baru juga tidak menceritakan kematian mertua Simon. Tetapi, kelak, setelah peristiwa Pentekosta, istri Simon menyertainya melayani jemaat yang didirikan Tuhan (1Kor. 9:5).

Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara

Di samping ibu mertua Simon, Yesus menyembuhkan banyak orang lain yang datang ke rumah itu. Ia juga mengusir setan dari mereka yang kerasukan. Setan-setan itu dibungkam-Nya, karena selalu mereka mengganggu karya-Nya.

Ia tidak menghendaki mereka menyingkapkan siapa diri Yesus, sebab mereka mengena-lNya sebagai Mesias (Mrk. 1:24). Ia waspada  bahwa setan selalu akan menyeret-Nya dengan segala cara untuk tunduk padanya.

Sebaliknya, Yesus menghendaki supaya manusia memandang bahwa Allah telah hadir dan tinggal di tengah umat-Nya.

Berdoa dan memberitakan Injil

Yesus selalu menyediakan waktu untuk tinggal sendirian dengan Bapa dalam doa. Biasanya, Ia bangun pagi-pagi benar dan pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa.

Kepergian-Nya pada saat gelap mengingatkan akan karya penciptaan. Alam semesta seperti samudera raya yang dikuasai kegelapan. Maka, hadirlah Terang untuk mengusir kegelapan pada hari pertama, dan kegelapan tidak pernah mengalahkan Terang (bdk. Kej. 1:3; Yoh. 1:5).

Yesus perlu berdoa pada Bapa untuk menimba kembali kekuatan dan kedamaian batin. Ia juga sadar akan tugas perutusan dari Bapa, maka Ia membutuhkan bimbingan-Nya.

Di samping itu, Ia harus memutuskan apakan akan melanjutkan karya di Kapernaum atau melanjutkannya di tempat lain. Ia perlu saat hening untuk menentukan pilihan yang tepat di bawah bimbingan Roh Kudus.

Maka, Ia berdoa untuk menegaskan arah dan tujuan tugas perutusan agar sesuai dengan kehendak Dia, yang mengutus-Nya. Dan Kabar Sukacita, Injil, harus diwartakan dalam suasana doa di mana-mana. Tanpa doa, pewartaan Injil Kerajaan Allah adalah hampa.

Injil, Kabar Sukacita tentang keselamatan yang dianugerahkan Allah, harus diwartakan dari daerah satu ke daerah lain.

Sabda-Nya (Mrk 1:38), “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”, Eamus alibi in proximos vicos, ut et ibi praedicem: ad hoc enim veni.

Katekese

Kebiasaan Berdoa. Origenes dari Alexandria, 185-254:

“Yesus berdoa dan tidak pernah sia-sia doa-Nya, karena Ia menerima apa yang dimohon-Nya dalam doa ketika Ia mungkin melakukan kehendak-Nya tanpa doa. Jika demikian, siapa di antara kita mengabaikan doa?

Markus menulis, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” (Mrk. 1:35). Dan Lukas menulis juga, “Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya, “Tuhan, ajarlah kami berdoa.” (Luk. 11:1).

Dan di tempat lain ditulis, “Pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.” (Luk. 6:12).

Yohanes juga menulis tentang doa Yesus, “Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata, “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.” (Yoh. 17:1).

Penginjil yang sama menulis bahwa Tuhan sadar dan tahu bahwa, Bapa, “Engkau selalu mendengarkan Aku.” (Yoh. 11:42). Semua ini menunjukkan bahwa orang yang selalu berdoa selalu didengarkan Allah.” (On Prayer 13.1).

Oratio-Missio

Tuhan, Engkau berkuasa menyembuhkan dan membebaskan aku dari bahaya. Tak ada kesulitan atau pun tali pengikat yang tak dapat Engkau lepaskan. Bebaskanlah aku dari segala ikatan agar aku mampu melayani-Mu dan sesama dengan merdeka dan murah hati. Amin.

  • Mengapa aku tidak berdoa? Atau mengapa aku tidak berpaling pada-Nya ketika menderita?

Eamus alibi in proximos vicos, ut et ibi praedicem: ad hoc enim veni – Marcum 1:38

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here