Home BERITA Lectio Divina 10.06.2023 – Seluruh Hidup Diberikan pada Allah

Lectio Divina 10.06.2023 – Seluruh Hidup Diberikan pada Allah

0
Persembahan janda miskin, by Gustave Doré, 1832–1883.

Sabtu. Pekan Biasa IX (H).  

  • Tob. 12:1.5-15.20
  • Mzm. Tanggapan Tob. 13:2.6.7.8
  • Mrk. 12:38-44

Lectio

38 Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, 39 yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan,  40 yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.”

41 Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. 42 Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.

43 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. 44 Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Meditatio-Exegese

Hati-hatilah

Sepanjang jalan ke Yerusalem Yesus mengajar para para tentang sengsara, wafat dan kebangkitan sebagai konsekuensi menjadi murid-Nya. Pengajaran dimulai sejak penyembuhan orang buta (Mrk. 8:22-26) hingga penyembuhan si buta, Bartimeus di Yeriko (Mrk. 10:46-52). Dan perikop ini menjadi bagian penutup. 

Ketika mereka sampai di Yerusalem, mereka menyaksikan adu pendapat antara Yesus dengan pedagang di Bait Allah (Mrk. 11:15-19), dengan imam-mam kepala, ahli Taurat dan tua-tua (Mrk. 11:27a-12:12), dengan kaum Farisi, Herodian dan Saduki (Mrk. 12:13-27), dengan ahli Taurat (Mrk. 12:28-37).

Sekarang, setelah mengecam ahli Taurat (Mrk. 12:38-40), Yesus mengajar para murid. Ia duduk menghadap peti persembahan dan tertarik pada sikap janda miskin saat memberi  derma. Sikap batinnya dalam memberi derma menjadi teladan dalam mewujud nyatakan kehendak Allah (Mrk. 12:41-44).

Orang munafik menjadikan agama sebagai alat untuk meninggikan diri sendiri. Mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang saat merampas rumah janda-janda. 

Pada mereka yang menyalah-gunakan agama demi kehormatan diri sendiri, Yesus bersabda (Mrk. 12:40), “Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.”, Hi accipient amplius iudicium.

Pesan Yesus sangan jelas dan tegas. Tiap murid-Nya bertindak apa adanya. Tidak munafik.

Sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak

Yesus dan para murid memperhatikan peti persembahan dan para penderma. Tiap orang memasukkan derma untuk menopang peribadatan, hidup para imam dan pengurus Bait Allah dan pemeliharaan gedung.

Sebagian kecil hasil derma itu digunakan untuk membantu kaum miskin, karena saat itu belum tersedia sistem jaminan sosial. Orang miskin sangat tergantung dari kegiatan amal kasih itu.

Saat itu, kelompok para janda dan anak yatim piatu sangat membutuhkan bantuan. Mereka sungguh melarat, tidak punya apa-apa, dan tergantung pada kebaikan hati orang lain.

Namun, walaupun hampir-hampir tidak punya apa-apa, janda ini berusaha untuk berderma. Ia memasukkan seluruh uang yang dimiliki untuk hidup hari itu ke peti persembahan. Ia memberikan seluruh hidupnya.

Bagi para murid, uang berjumlah banyak jauh lebih berharga dari pada pemberian janda itu yang hanya berjumlah beberapa sen. Mereka mengira uang menjadi satu-satunya kunci penyelesaian masalah.

Mereka lupa dengan apa yang mereka pada Yesus saat Ia menggandakan roti, “Kamu harus memberi mereka makan.”

Kata mereka kepada-Nya, “Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?”(Mk 6: 37). 

Jumlah yang banyak itu tidak mencukupi untuk memberi makan lima ribu orang laki-laki saja, belum termasuk perempuan dan anak-anak. Yesus memiliki tolok ukur lain. Ia meminta para murid memberi perhatian pada kehendak Allah: dalam diri kaum miskin dan dalam berderma.

Katekese

Belas kasih dan amal kasih tak pernah sia-sia. Santo Leo Agung,  400-461

“Walau beberapa orang mengecam karena hanya menghasilkan karya yang sia-sia, karya amal kasih tidak pernah tidak berhasil. Kebaikan hati tidak akan kehilangan maknanya saat diberikan kepada yang tak tahu terima kasih.

Saudara-saudari yang terkasih, semoga tidak ada seorang pun yang menjadikan diri sendiri asing terhadap karya amal kasih. Semoga tidak ada orang yang menyuarakan dirinya sendiri miskin dan tidak dapat membantu sesamanya.

Apa yang dipersembahkan dari mereka yang kecil selalu agung, sebab timbangan Allah yang maha adil adalah jumlah pemberian tidak pernah diperhitungkan, tetapi kerelaan jiwa. ‘Ibu janda’ dalam Injil membersembahkan dua keping dalam kotak derma, dan pemberiannya mengatasi seluruh pemberian seluruh orang kaya.

Tiada belas kasih yang tidak berharga di hadapan Allah. Tiada belarasa yang sia-sia. Ia telah menganugerahkan pelbagai macam sumber daya untuk manusia, tetapi Ia tidak menuntut balik.” (Sermon 20.3.1.6).

Oratio-Missio

Tuhan, seluruh yang ada padaku adalah milik-Mu. Semoga aku mampu menggunakan seluruh hidup, harta yang sementara, kemampuan, waktu dan apa yang ada padaku untuk memuliakan Engkau. Amin. 

  • Pada kita ada tantangan: “Apa yang harus aku lakukan untuk saudaraKu yang paling hina?”

haec vero de penuria sua omnia, quae habuit, misit, totum victum suum -Marcum 12:44

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version