Home BERITA Allah Orang Hidup

Allah Orang Hidup

0
250 views
Yesus Raja Semesta Alam. (Komkat KWI)

Sabtu, 22 November 2025

1Mak. 6:1-13.
Mzm. 9:2-3,4,6,16b,19.
Luk. 20:27-40.

KEHIDUPAN, kematian, dan kebangkitan bukanlah sekadar rangkaian peristiwa biologis atau dinamika alamiah manusia.

Dalam iman Kristiani, seluruh perjalanan itu adalah soal relasi kasih dengan Allah, relasi yang membingkai seluruh keberadaan kita.

Relasi kasih dengan Allah memang dapat dibahas dengan kata-kata, direnungkan dalam teologi, atau dipahami lewat ajaran.

Kita bisa memikirkannya, merenungkan maknanya, atau berupaya merasakannya lewat doa dan pengalaman batin. Namun pengalaman kasih ilahi tidak pernah berhenti pada level kata, pikiran, atau rasa.

Lebih dalam dari itu, relasi kasih selalu menuntut iman dan kepercayaan.

Iman berarti berani memandang jauh melampaui apa yang tampak, melihat kehadiran Allah dalam situasi hidup yang kadang terang, kadang gelap. Iman membuat kita bisa berkata: “Tuhan hadir juga di sini.”

Kepercayaan berarti menyerahkan diri, membuka seluruh hidup hanya kepada Dia yang mengasihi kita tanpa syarat.

Kepercayaan itulah yang membuat kita berani hidup sepenuhnya, berani menghadapi kematian tanpa ketakutan, dan berani berharap pada kebangkitan.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian, “Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.”

Firman Tuhan ini membawa kita pada satu kebenaran mendalam yang sering luput kita sadari: Allah tidak pernah berelasi dengan apa yang hampa, kosong, atau berakhir.

Allah selalu berelasi dengan kehidupan. Bahkan ketika manusia memandang kematian sebagai titik terakhir, Allah justru melihatnya sebagai pintu menuju kehidupan yang lebih utuh.

Di hadapan manusia, kematian adalah pemisah. Di hadapan Allah, kematian bukan pemutus relasi.

Bagi Allah, kasih selalu lebih kuat daripada kefanaan, dan relasi yang telah dimulai oleh-Nya tidak berhenti hanya karena jasad tidak lagi bernapas.

Kasih Allah melampaui batas waktu, sehingga mereka yang telah meninggalkan dunia tetap hidup dalam hadirat-Nya. Itulah sebabnya Yesus menegaskan bahwa Abraham, Ishak, dan Yakub hidup di hadapan Allah, bukan karena mereka masih ada di dunia, melainkan karena mereka tetap berada dalam genggaman kasih-Nya.

Ketika kita menghadapi kehilangan, dukacita, atau ketakutan akan masa depan, kita diingatkan bahwa Allah yang menyertai kita adalah Allah yang hidup dan menghidupkan.

Dia mengajak kita untuk tidak terjebak pada rasa takut, tetapi melangkah dalam harapan. Sebab di hadapan Allah, yang kita anggap berakhir, ternyata justru dilanjutkan oleh kasih-Nya.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah selama ini saya benar-benar memandang Allah sebagai Allah yang hidup, ataukah saya lebih sering terjebak dalam rasa takut seolah hidup saya tanpa arah?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo