Lectio Divina 19.11.2020 – Ia Menangisi Kota dan Kita

0
230 views
Air mata untuk Yerusalem, by chucklarson

Kamis (H) 

  • Why. 5:1-10
  • Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a,9b
  • Luk. 19:41-44

Lectio

41 Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, 42  kata-Nya: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.

43 Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, 44 dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau.”

Meditatio-Exegese

Yesus telah dekat dan melihat kota itu

Orang banyak bersorak sorai dan mengiringi Yesus memasuki kota Yerusalem. Mereka berseru-seru, “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!” (Luk. 19: 38). Mereka juga menghamparkan pakaian dan daun palma di muka keledai yang ditunggangiNya.

Saat sorak-sorai itu reda di Bukit Zaitun, Yesus memandang kota Yerusalem. Inilah saat ia memasuki puncak karya pelayanan di jantung agama Yahudi. Tradisi alkitabiah melukiskan Yerusalem sebagai kota suci, tahta Tuhan (Yer. 3:17); tempat yang dipilih sebagai tempat Allah bersemayam (1Raj. 11:13; 2Raj. 21:4; 2Raj. 23:27); dan gunung yang suci tempat Allah melantik raja-Nya (Mzm 2:6).

Dalam Septuaginta, Alkitab berbahasa Yunani dan digunakan pada masa Yesus, Kota Yerusalem ditulis dalam dua versi.  Ιερουσαλήμ Hierousalēm, Ierousalēm, Yerusalem, digunakan ketika ketika kota itu menjadi kota damai sejahtera. Dan di Bait Suci, Allah bersemayam. Ia hadir di tengah umat-Nya.

Tetapi, menjadi Ιεροσόλυμα Hierosolyma, Ierosolyma, kota yang penuh kezaliman, ketika menumpahkan darah Yesus. Saat itu pasti kota damai sejahtera berubah menjadi lautan dendam, amarah dan kejahatan. Kehadiran-Nya ditolak.

Ia menangisinya, civitatem flevit

Yesus meratapi Yerusalem, para pemimpin dan penduduk kota itu, karena mereka tidak mau “mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu.” (Luk. 19:42). Ia meratapi penolakan mereka atas uluran tangan-Nya yang penuh belas kasih dan kerahiman. Damai sejahtera, salim, segera akan berubah menjadi zalim, kekejaman tak terperikan.

Kini Yesus mencucurkan air mata, Dominus flevit, dan, hanya dalam hitungan hari, berubah menjadi cucuran darah. Sepanjang sejarah, banyak pemimpin dan penduduk kota itu, karena kesombongan dan kehilangan iman, menolak dan membunuh para nabi yang berbicara atas nama Allah.

Yesus menyebut kaum Farisi sebagai ‘pemimpin buta’ (Mat. 23:24; Luk. 6:39). Memang ada kesan seolah Allah membutakan mereka (Yoh. 12:40). Namun, nyatalah, kebenaran bahwa mereka dengan kesadaran penuh menolak apa yang diajarkan Yesus, bahkan menolak kehadiran-Nya.

 Sekarang mereka menolak Yesus, yang datang  sebagai Mesias, yang diangkat Allah sebagai:  Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai (Yes. 9:6). Ia tidak datang dengan kuda yang gagah, sebagai panglima perang. Tetapi, Ia datang menunggang keledai, memasuki jantung agama Yahudi dengan damai sejahtera.

Tetapi hati mereka tertutup, terus menerus menolak Kabar Suka Cita. Yesus tidak diterima sebagai Ia yang “mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat” kepada Sion (Yes. 52:7).

Musuhmu akan mengelilingi engkau

Kelak Yerusalen, 70 M, luluh lantak dihancurkan Jenderal Titus. Mereka menolak tawaran Allah akan damai sejahtera.  Yosephus, sejarawan Yahudi, dalam War of the Jews, bersaksi, tentang keadaan di dalam kota, “Tiada lagi harapan untuk bagi orang Yahudi untuk lari dari Yerusalem.

Kemerdekaan mereka telah dirampas dari kota itu. Lalu, kelaparan meluas, dan melahap seluruh penduduk dari rumah ke rumah dan keluarga ke keluarga; jalanan kota itu dipenuhi mayat bergelimpangan, terutama kaum tua. …

Para pemimpin Yahudi pertama-tama memerintahkan supaya yang mati dikuburkan di tanah milik umum, karena tidak tahan atas bau mayat itu. Tetapi, segera, ketika mereka tidak mampu mengatasinya, mereka membuang mayat itu ke lembah-lembah dari dinding kota.”

Di balik semua itu, Yesus terus menggemakan nubuat Nabi Yeremia dalam Kitab Ratapan, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu… Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan. Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya” (Rat. 3:21-22;31-32).

Katekese

Yesus memenuhi mereka yang menangis dengan kebahagiaan. Origenes dari Alexandria, 185-254:

“Ketika Tuhan dan Juruselamat kita mendekati Yerusalem, Ia memandang kota itu dan menangis… Melalui teladan-Nya, Yesus membenarkan seluruh Sabda Bahagia yang difirmankan-Nya dalam Injil.  Melalui kesaksian-Nya sendiri, Ia membenarkan apa yang diajarkan-Nya. “Berbahagialah mereka yang lemah lembut,” sabda-Nya.

Ia bersabda tentang apa yang serupa dialami oleh Diri-Nya sendiri: “belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati”. “Berbahagialah orang yang membawa damai”. Betapa tiada manusia yang membawa damai sejahtera seperti Tuhan Yesusku, yang adalah “damai-sejahtera kita”, yang “telah merubuhkan perseteruan” dan “melenyapkan perseteruan pada salib itu” (Ef. 2:14-15).

“Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran.”

“Tiada seorangpun menderita penganiayaan karena kebenaran seperti dialami Tuhan Yesus, yang disalib demi dosa-dosa kita. Maka, Tuhan menunjukkan kepenuhan seluruh Sabda Bahagia dalam Diri-Nya. Karena serupa dengan Sabda Bahagia, Ia menangis. Karena sabda-Nya, “Berbahagialah mereka yang menangis”, untuk meletakkan landasan bagi sabda ini juga.

Ia menangis bagi Yerusalem dan bersabda, “Jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu”, dan seterusnya, hingga pada saat Ia bersabda, “karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau” (dikutip dari Homily On The Gospel Of Luke 38.1–2)

Oratio-Missio

  • Tuhan, Engkau telah mengunjungi dan menebus umat-Mu. Semoga aku tak luput memperhatikan kunjungan-Mu hari ini, saat Engkau mengantar umat-Mu menuju kesucian dan kebenaran. Murnikanlah hati dan budiku agar aku mampu mengetahui jalanMu dan hidup selaras dengan kehendak-Mu. Amin.
  • Apa yang perlu aku lakukan untuk ‘menyeka’ air mata Yesus?

Et ut adpropinquavit, videns civitatem flevit super illam -Lucam 19:41

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here