Lectio Divina 27.07.2023 – Jangan Tutup Telinga

0
302 views
Mengapa Engkau berbicara dalam perumpamaan by Pat Marrin.

Kamis. Hari Biasa. Pekan Biasa XVI (H)

  • Kel 19:1-2.9-11.16-20b
  • Dan. 3:52.53.54.55.56
  • Mat. 13:10-17

Lectio

10 Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?” 11 Jawab Yesus: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada mereka tidak. 12 Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.

13 Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. 14 Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap.

15 Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.

16 Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. 17 Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.

Meditatio-Exegese

Gunung Sinai ditutupi seluruhnya dengan asap

Peristiwa-peristiwa terpenting disajikan dalam Kel. 19:1-24:18 – perjumpaan dengan Allah dan penetapan Perjanjian dengan-Nya. Seluruh bab itu meringkas pesan teologis penting dari Perjanjian Lama.

Gereja mengajar, “Dalam waktu sesudah zaman para bapa, Tuhan menjadikan Israel bangsa-Nya. Ia membebaskannya dari perhambaan di Mesir, mengadakan perjanjian dengannya di Sinai, dan memberi kepadanya hukum-Nya melalui Musa, supaya mengakui diri-Nya sebagai satu-satunya Allah yang hidup dan benar, sebagai bapa penyelenggara dan sebagai hakim yang adil, dan untuk menantikan Juru Selamat terjanji.” (Katekismus Gereja Katolik, 62).

Maka, rangkaian peristiwa Sinai menunjukkan dengan jelas panggilan dan pengutusan umat terpilih. “Mulai dengan pemilihan Israel sebagai Umat Allah, Israel dipilih untuk menjadi tanda penghimpunan segala bangsa pada masa mendatang.” (Katekismus Gereja Katolik, 762).

Israel mempralambangkan umat Allah yang baru, Gereja-Nya.

Sejak pembebasan dari Mesir umat Israel menempuh perjalanan selama 7 minggu untuk sampai ke kaki Gunung Sinai. Sebelumnya mereka berkemah sebentar di Rafidim dan menyaksikan tanda heran saat Allah menyediakan air (Kel. 17:1-7) serta kekalahan orang Amalek (Kel. 17:8-16).

Di gunung itu, yang secara tradisional dikenal sebagai Jebel Musa, tempat Yitro, mertuanya berkemah dan menantinya (Kel. 18:5), umat diminta mempersiapkan diri untuk menyongsong peristiwa kedatangan-Nya.

Proses pentahiran atau membuat masing-masing suci diatur sangat rinci: upacara penyucian beberapa hari sebelumnya, tiap orang harus mandi dan segala hal dipersiapkan agar tiap pribadi memiliki sikap batin yang benar di hadapan Allah, bahkan relasi intim suami-isteri pun dilarang (bdk. Im. 15:16-33).

Seluruh ketentuan harus dilaksanakan dengan benar. Tiap pribadi umat harus memusatkan seluruh jiwa, raga, dan budi untuk menyongsong kedatangan Allah. Namun, kelak, ketika Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia, datang seluruh peraturan tidak diperlukan lagi.

Pada hari ketiga, guruh, kilat, awan padat, semua tanda alamiah mengiringi Allah saat Ia menampakkan Diri-Nya. Bunyi sangkakala yang sangat keras dan derap kaki umat melangkah ke kaki gunung dan berdiri dengan sikap hormat bakti pada-Nya.

Lalu Gunung Sinai ditutupi dengan asap, karena Allah turun dalam api. Asapnya membubung tinggi dan membuat seluruh gunung gentar dan gemetar. Allah hadir dan tanda kehadiran-Nya tak penah diulang kembali.

Umat Israel tak pernah melupakan peristiwa penampakan Diri-Nya. Para pemazmur melukiskan kehadiran-Nya: Mzm. 18:8-9; 29:3-4; 77:17-18; 97:2-12.

Perjanjian Baru juga menggemakan penampakan Diri Allah yang luar biasa. Saat Yesus wafat, kegelapan, gempa bumi, terbelahnya tirai Bait Allah, terbelahnya bukit-bukit batu, kuburan terbuka, kebangkitan orang kudus, semua mengiringi kehadiran-Nya (bdk. Mat. 27:45-53).

Kedatangan Roh Kudus juga diiringi tanda-tanda alami yang dahsyat (bdk. Kis. 2:2-4).

Namun, kini, kedatangan-Nya sering tersembunyi di antara mereka yang kecil, para saudara-saudari-Nya (Mat. 25:40).  

Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?

Dalam Injil Markus, para murid menanyakan makna perumpamaan tentang penabur (Mrk. 4:10). Sedangkan dalam Matius, mereka bertanya tentang mengapa Yesus berbicara dengan orang Yahudi dalam perumpamaan, “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?” 

Yesus menjawab, “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.”

Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus ditolak, karena orang Yahudi pada waktu itu terpaku pada paham yang sangat sempit, dan duniawi. Kerajaan Allah adalah pemerintahan Allah yang akan menggantikan pemerintahan penjajah Romawi.

Yang diwartakan Yesus sama sekali berbeda dengan keyakinan orang sebangsa-Nya. Maka, Ia mengajarkan tentang hakikat Kerajaan Allah melalui perumpamaan, persamaan, atau kiasan, sesuai dengan cara pikir para pendengar-Nya, seperti pada perumpamaan tentang penabur ini.

Perumpamaan, sama seperti persamamaan atau analogi, digunakan untuk menyingkapkan atau menerangkan sesuatu yang tidak mudah untuk dipahami, yakni: kebenaran Kerajaan Allah.

Bagi mereka yang membuka mata dan hati untuk mendengarkan suara-Nya, Ia melimpahi dengan anugerah yang membantu memaknai sabda-Nya. 

Sedangkan bagi yang menolak-Nya, tergenapilah nubuat Nabi Yesaya,  “Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap.

Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.” (Yes 6:9-10).

Gema sabda Allah melalui Nabi Yesaya bermakna bahwa Yesus mengasihi tiap orang, termasuk penduduk Kapernaum, tempat-Nya berdomisili. Ia memberikan hidup-Nya agar semua manusia selamat. Selanjutnya, perumpamaan dimaksudkan untuk mencerahkan pikiran, mengajarkan tentang kebenaran ilahi, bukan untuk menyesatkan.

Akhirnya, pelecehan pada kebenaran ilahi, memang, layak dihukum. Tetapi Yesus tidak langsung menghukum mereka yang melecehkan-Nya. Ia selalu merentangkan tangan dan menyambut mereka yang bertobat. Ia menghendaki semua selamat. 

Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar

Yesus menyebut para murid berbahagia, μακαριοι, makarioi. Kata ini berakar dari μακαριος, makarios, dan mendeskripsikan seorang beriman yang memiliki sikap batin bahagia karena merasa bahwa Allah berkenan memberinya anugerah, rahmat.

Para murid disebut berbahagia sebab Yesus menganugerahkan pengetahuan tentang rahasia Kerajaan Surga.

Sabda-Nya, “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada mereka tidak.” (Mat 13: 11).

Allah berkehendak menganugerahkan pengetahuan itu, karena hati mereka terbuka menerima penyingkapan misteri Kerajaan Allah. Santo Matius menggunakan ungkapan ‘mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar’ yang sejajar dengan kata kunci: mengimani.

Maka, yang berbahagaia adalah siapa pun yang mengimani Yesus dan menjadikan-Nya pusat hidupnya. Padanya, Ia bersabda (Mat. 13:16), “Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.”, Beati oculi, quia vident, et aures vestrae, quia audiunt.

Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat

Para nabi dan orang-orang benar dari masa Perjanjian Lama rindu untuk melihat damai sejahtera yang dianugerahkan Sang Mesias. Tetapi mereka meninggal dalam ketidak beruntungan. Simeon, pada akhir masa hidupnya, dipenuhi suka cita ketika ia melihat dan menatang Bayi Yesus, yang dipersembahkan di Bait Allah.

“Ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya, “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu.”  (Luk 2:28-30).

Para rasul merasa bahagia karena mereka bisa menyaksikan hidup, karya dan pelayanan Yesus. Mereka sangat dekat dengan-Nya.

Rahmat yang tak terbayangkan ini kemudian diungkapkan oleh salah seorang murid-Nya, yang menulis surat kepada jemaatnya dengan pembukaan: “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup  […] 

Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna.” (1Yoh. 1:1-4).

Dan dalam setiap peristiwa, Allah memberi kesempatan kepda tiap jiwa untuk berjupa dengan-Nya. Maka masing-masing dari anda dan saya harus memiliki mata yang peka untuk memandang wajah-Nya dan telinga yang peka untuk mendengarkan suara-Nya.

Dengan cara inilah benih iman akan bebuah berlipat-lipat: tiga puluh kali, enam puluh kali atau sertatus kali lipat (Mat. 13:23). Dan bagi mereka yang tidak pernah berjumpa dengan Yesus saat Ia hidup, bekerja dan melayani di Palestina, serta tidak melihat tanda-tanda penyaliban-Nya, Ia bersabda, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh. 20:29).   

Katekese

Telinga yang menolak untuk mendengarkan Tuhan. Santo Hilarius dari Poitiers, 315-367:

“Iman memahami misteri Kerajaan Surga. Seseorang akan membuat kemajuan dalam hal-hal yang telah dalaminya dan akan membuat kemajuan besar dalam bidang itu. Tetapi tidak akan mendapatkan apa pun saat ia tak pernah mau terlibat mendalaminy, bahkan, segala sesuatunya akan dicampakkan darinya. 

Dengan kata lain, ia menderita karena mengalami penghukuman atas kehilangan imannya. Karena kehilangan iman, orang-orang yang menghayati Hukum Taurat telah kehilangan daya dan kuasa hukum itu.

Oleh karena itu, yang mengimani Injil menerima anugerah yang sempurna, karena Injil  memperkaya apa yang telah dihayati dengan buah-buah baru. Tetapi begitu ditolak, seluruh bantuan yang berasal dari seluruh umat terdahulu pasti diambil.” (A Commentary On Matthew 13.2)

Oratio-Missio

Tuhan, utuslah Roh Kudus untuk menjadi guru dan pembimbingku. Bukalah telingaku untuk mendengarkan sabda-Mu dan bukalah mata hatiku untuk memahami karya-Mu dalam hidup. Buatlah hatiku tidak tumpul dan telingaku tidak Lelah mendengarkan suara Putera-Mu, Yesus Kristus. Amin. 

  • Apa yang perlu aku lakukan untuk membuat mataku dan telingaku peka akan kehadiran Allah? 

Beati oculi quia vident et aures vestrae quia audiunt -Matthaeum 13:16

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here