Lentera Keluarga – Dengarkanlah Dia

0
151 views

Tahun A-2. Minggu Biasa XVIII

Pesta Yesus Menampakkan kemuliaanNya

Kamis,  6 Agustus 2020. 

Bacaan: Dan 7:9-10.13-14; 2 Ptr 1:16-19; Mat 17:1-9.

Renungan: 

PERISTIWA transfigurasi merupakan lanjutan jawaban Yesus tentang “Siapakah Aku ini?” Setting peristiwa transfigurasi mengingatkan orang yang mengenal tradisi Yahudi akan pengalaman yang dialami oleh Musa  bersama Harun, Nadab dan Abihud di Gunung Sinai ketika berjumpa dengan Allah (Kel 24). Musa dan Elia hadir sebagai tokoh akhir jaman; Musa menjadi pembawa hukum dan Elia mewakili para nabi. 

Matius mengungkapkan kembali figur Petrus, yang sebelumnya dalam Mat 16 ditegur Yesus karena membuat rencana sendiri, menjauhkan diri dari penderitaan. Dengan cara lain,  Petrus spontan mengungkapkan “ Tuhan betapa bahagianya kami berada di tempat ini. ….”  Petrus mengambil alih rencana dan mengatur. Maka suara Allah yang ditujukan kepada Petrus dan kedua murid lain ini menggarisbawahi bahwa sikap mereka  “Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNya lah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” 

Menghindari penderitaan dan menikmati kemuliaan adalah kencederungan dasar kita. Namun bukan itu panggilan kemuridan. Perjuangan kita di dunia ini bukan berhenti untuk menikmati ketenangan dan kemuliaan duniawi, tetapi untuk terlibat dalam pergumulan dan pergulatan orang-orang lain yang di sekitar kita. Dengan apa yang kita miliki, kita dapat membeli apapun yang menyenangkan kita, tetapi kita akan masuk ke kekosongan hidup. Makna dan kebahagiaan hidup yang lebih menggembirakan dan memberi makna adalah ketika kita mau terlibat dan menemani perjalanan saudara-saudara kita, terutama di dalam penderitaan mereka. 

Kontemplasi:

Gambarkanlah makna yang terkandung dari Sabda Allah kepada ketiga murid. 

Refleksi:

Apakah aku merasa puas dengan kemuliaan / kenyamanan yang kualami sekarang? Apakah aku mau terlibat dan ambil bagian dalam jalan kemuridan dengan terlibat dan menenamin saudara-saudara yang menderita. 

Doa:

Ya Bapa, semoga jalan kemuridan untuk menjadi saudara bagi saudara yang lain menjadi pilihan kami. 

Perutusan:

Jangan berhenti pada rasa aman dan cukup diri sendiri, tetapi berjalanlah dengan teman-teman anda di dalam pergumulan hidupnya. 

(Morist MSF)

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here