Home BERITA Mak, Mengapa Cepat Pergi? (2)

Mak, Mengapa Cepat Pergi? (2)

0
1,087 views
Ilustrasi: (Ist)

MAK, kenapa cepat-cepat pergi, sebelum surat ini sempat terkirim?

Perjalanan panggilan hidupku tidak selalu mudah.

Tahun Kanonik di Pati, Jateng

Setelah melewati Masa Aspiran dan Postulat, tibalah saat memasuki tahap novisiat tahun pertama – masa yang disebut Tahun Kanonik.

Ini sudah menginjak tahun kedua aku telah meninggalkan keluargaku… meninggalkan ibu yang selalu kurindukan. Masa Tahun Kanonik adalah masa pembentukan diri yang mendalam: belajar setia pada doa, menghayati keheningan, dan menata diri dalam disiplin hidup membiara.

Masa ini sungguh sulit bagiku, karena harus kujalani di Kota Pati – kota yang jauh dari desa kelahiranku, kota yang belum kukenal sama sekali, dengan budaya yang berbeda. Namun, semua proses pembinaan itu kucoba jalani dengan setia dan tekun.

Namun tak ada yang benar-benar mempersiapkan hatiku untuk kabar yang datang di tengah perjalanan itu – kabar yang mengguncang batinku, mencabik hatiku, dan meninggalkan luka yang tak kunjung sembuh.

Jantungku berdegup kencang

Sore itu, telepon di refter (ruang makan komunitas) berdering. Salah satu suster pembimbing memanggilku; wajahnya tampak berubah.

“Ada telepon untukmu,” katanya singkat.

Aku berjalan pelan menghampirinya. Jantungku berdebar tak karuan, tubuhku bergetar. Ada kabar apa, ya Tuhan? Apakah ini kabar yang paling kutakuti?

“Ibumu… sudah pergi.”

Dunia seketika berhenti berputar. Pandanganku gelap.

Aku pingsan.

Ketika sadar, aimata sudah membasahi pipiku. Aku menjerit… teriak sekencang-kencangnya,

“Tuhan… kenapa? Mengapa Engkau ambil ibuku secepat ini? Aku belum sempat membalas kasihnya… Mengapa Kau tega? Mengapa Kau sejahat ini padaku?”

Tak boleh pulang

Aku memohon pada pembimbingku dengan suara gemetar,

“Bolehkah aku pulang, Suster? Hanya sebentar… untuk melihat Ibu?”

Namun suara pembimbingku terdengar pelan tapi tegas, menusuk hatiku lebih dalam dari apa pun: “Maaf… kamu masih novis Tahun Kanonik. Sesuai aturan, kamu belum diizinkan pulang.”

Aku tertunduk. Napas terasa sesak.

Di balik jubah putih ini, aku hanyalah seorang anak yang baru saja kehilangan ibunya. Aku hanya bisa menangis, meratapi semuanya.

Malam itu aku menangis sepanjang waktu. Aku mengenang semua tentang Ibu: suara Ibu memanggilku di pagi hari, cara dia menyisir rambutku, mengusap kepalaku, pelukannya yang hangat, cara dia memanjakanku, dan yang terakhir – tatapan matanya yang penuh harap saat aku berpamitan masuk biara.

“Mak… mengapa kamu pergi? Mengapa kamu meninggalkan aku secepat ini? Mak… mengapa kamu tidak menungguku?”

Aku ingin pulang, melihat wajahnya untuk terakhir kali, mencium wajahnya, memeluknya, dan mengucapkan selamat jalan – meski dengan hati yang hancur.

Aku bahkan sempat berdoa agar Tuhan membebaskanku dari panggilan ini – karena rasanya aku tak kuat lagi menanggung kehilangan ini.

Mulai bimbang

Hari-hari setelahnya berjalan lambat.

Tak ada lagi tawa di meja makan. Nafsu makan hilang, tubuh semakin kurus. Aku menarik diri dari teman-teman, bukan karena ingin menjauh, tetapi karena sedang berjuang menahan luka. Rasanya seperti ada bagian dari diriku yang ikut mati bersama kepergian Ibu. (Berlanjut)

Baca juga: Maafkan aku Mak (1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo