Home BERITA Mari Kenal FABC, Konferensi Para Uskup Asia (4)

Mari Kenal FABC, Konferensi Para Uskup Asia (4)

0
55 views
Konferensi Pers hari Senin 20 Juli 2026 Sidang Pleno ke-12 di Hotel Mulia Senayan Jakarta 20-26 Juli 2026. Ki-ka Jubir Sidang Pleno ke-12 FABC di Jakarta Mgr. Marcelino Antonio "Junie" Malabanan Maralit Jr, Kardinal Pablo Virgilio David, Kardinal Filipe Neri Ferrão, Kardinal Tarcisio Isao Kikuchi SVD, Mgr. Sunarko OFM, dan Romo Thomas Ulun Ismoyo Pr sebagai penerjemah. . (Mathias Hariyadi)

PAPARAN mengenai apa dan bagaimana FABC – Konferensi Para Uskup Asia- disampaikan oleh Uskup Mgr. Marcelino Antonio “Junie” Malabanan Maralit Jr – Uskup Keuskupan San Pablo, Filipina, kepada media yang menghadiri forum Konferensi Pers Sidang Pleno ke-12 FABC di Hotel Mulia Senayan Jakarta, Senin 20 Juli 2026.

Mgr. Junie Malaban Maralit Jr adalah Juru Bicara Sidang Pleno XII Federasi Konferensi Waligereja Asia (FABC) Jakarta. Berikut ini naskah paparannya.

Dengan penuh sukacita, saya menyambut Anda dalam Sidang Pleno XII Federasi Konferensi Waligereja Asia (Federation of Asian Bishops’ Conferences – FABC) yang diselenggarakan di Jakarta, Indonesia, 20–26 Juli 2026. Kami berterima kasih atas kehadiran dan perhatian Anda terhadap pertemuan penting Gereja Katolik di Asia ini.

Apa itu FABC?

Federasi Konferensi Waligereja Asia (FABC) merupakan sebuah perhimpunan sukarela yang menghimpun Konferensi-konferensi Waligereja dan Yurisdiksi Gerejawi Katolik di Asia Selatan, Asia Tenggara, Asia Timur, dan Asia Tengah.

FABC didirikan setelah pertemuan bersejarah para Uskup Asia pada saat kunjungan Paus Santo Paulus VI ke Manila tahun 1970, yang terinspirasi oleh semangat Konsili Vatikan II. Statuta konferensi FABC ini disahkan oleh Takhta Suci Vatikan pada tahun 1972.

Selama lebih dari lima dekade, FABC menjadi wadah bagi para Uskup Asia untuk bersama-sama merefleksikan misi Gereja di salah satu kawasan paling beragam di dunia.

FABC mendorong solidaritas dan kerjasama antar Gereja Lokal, sekaligus memajukan evangelisasi, dialog antar agama, refleksi teologis, keterlibatan sosial, pembangunan manusia, serta komunikasi sosial.

Selain itu, FABC menjadi forum untuk membahas berbagai tantangan pastoral yang dihadapi bersama di kawasan Asia.

Perjalanan Sidang Pleno FABC

Sidang Pleno merupakan Badan Pengambil Keputusan Tertinggi dalam FABC dan pada umumnya diselenggarakan setiap empat tahun sekali.

Sejak sidang pleno pertama di Taipei, Taiwan, tahun 1974, para Uskup Asia secara berkala berkumpul untuk melakukan diskresi mengenai bagaimana Gereja harus menanggapi perubahan-perubahan yang terjadi di Benua Asia.

Selama bertahun-tahun, sidang-sidang pleno membahas berbagai tema, antara lain evangelisasi, doa, perutusan kaum awam, kemuridan Kristiani, keluarga Asia, Ekaristi, evangelisasi baru, dan keluarga sebagai Gereja Rumahtangga (Domestic Church). Sidang pleno terakhir diselenggarakan di Kolombo, Sri Lanka, tahun 2016 dengan tema: “Keluarga Katolik di Asia: Gereja Rumahtangga Kaum Miskin dalam Perutusan Belas Kasih.”

Sidang Pleno XII

Sidang tahun ini berlangsung dalam konteks kehidupan Gereja yang sangat penting. Sidang ini dilaksanakan setelah Konferensi Umum FABC ke-50, Dokumen Bangkok (2023), Dokumen Akhir Sinode tentang Sinodalitas (2024), Tahun Yubileum Pengharapan (2025), serta dimulainya masa pontifikat Paus Leo XIV.

Seluruh tonggak penting tersebut memperbarui komitmen Gereja terhadap sinodalitas dan pembaruan misioner.

Tema Sidang Pleno XII di Jakarta 20-26 Juli 2026 adalah: “Panggilan kepada Pertobatan Sinodal dan Pengutusan Menjadi Jembatan serta Pembangun Jembatan di Asia.” Tema ini menyoroti dua dimensi yang saling berkaitan erat.

  • Pertama adalah pertobatan sinodal, yaitu pertobatan pribadi dan bersama yang terus-menerus agar Gereja semakin partisipatif, misioner, transparan, dan semakin peka terhadap bimbingan Roh Kudus.
  • Kedua adalah pengutusan Gereja untuk menjadi jembatan dan pembangun jembatan di Asia—sebuah benua yang ditandai oleh keberagaman budaya, agama, bahasa, dan etnis yang luar biasa, namun juga menghadapi kemiskinan, konflik, migrasi, tantangan lingkungan hidup, serta perubahan sosial yang sangat cepat.

Para uskup akan merefleksikan bagaimana Gereja dapat memajukan dialog, rekonsiliasi, perdamaian, dan martabat manusia dengan membangun jembatan, baik di dalam Gereja maupun dengan masyarakat luas.

Cara Sidang Berlangsung

Sidang ini dirancang bukan sekadar sebagai sebuah konferensi, melainkan sebagai pengalaman sinodal yang sejati. Sepanjang pekan, para peserta akan mengikuti doa bersama, Perayaan Ekaristi, refleksi rohani, diskresi, Conversations in the Spirit (Percakapan dalam Roh), sidang pleno, pertemuan regional, dan diskusi meja bundar.

Penekanannya adalah saling mendengarkan dan bersama-sama melakukan diskresi mengenai panggilan Roh Kudus bagi Gereja di Asia.

Alih-alih hanya membahas sinodalitas secara teoritis, sidang ini akan berfokus pada langkah-langkah praktis untuk menerapkan sinodalitas dalam kehidupan dan misi Gereja di seluruh Asia.

Hasil yang Diharapkan

Sidang ini diharapkan menghasilkan dua dokumen utama.

  • Dokumen pertama adalah Dokumen Akhir, yang dirancang sebagai sebuah Vademecum tentang Sinodalitas di Asia, berisi pedoman pastoral praktis bagi Gereja-Gereja lokal di seluruh Asia.
  • Dokumen kedua adalah Pesan kepada Gereja di Asia, yang merangkum hasil-hasil refleksi sidang serta mengajak umat Katolik di seluruh kawasan untuk terus melanjutkan perjalanan pembaruan sinodal.

Peserta

Sidang Pleno XII diikuti oleh lebih dari 120 Kardinal dan Uskup dari seluruh Asia, mewakili 22 Konferensi Waligereja dan Yurisdiksi Gerejawi anggota FABC di Asia Tengah, Asia Timur, Asia Selatan, dan Asia Tenggara.

Mereka berasal dari Konferensi-konferensi Waligereja Bangladesh, India, Pakistan, Sri Lanka, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Myanmar, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Vietnam, Timor Leste, Indonesia, Laos dan Kamboja, serta Hong Kong, Makau, Nepal, Asia Tengah, dan Gereja-gereja Siro-Malabar serta Siro-Malankara.

Selain para Uskup, sidang ini juga dihadiri oleh perwakilan Takhta Suci Vatikan, para teolog, pakar, fasilitator, moderator, pengamat, dan anggota Sekretariat FABC yang akan mendukung proses diskresi selama berlangsungnya sidang.

Agenda Khusus

Paus Leo XIV telah menunjuk:

  • Kardinal Oswald Gracias, Uskup Agung Emeritus Bombay, India, sebagai Utusan Khusus Paus untuk Sidang Pleno ini.
  • Kardinal Luis Antonio Tagle, Pro-Prefek Dikasteri Evangelisasi, akan memimpin hari rekoleksi pada awal sidang.
  • Kardinal Mario Grech, Sekretaris Jenderal Sekretariat Umum Sinode, akan menyampaikan pidato utama bertajuk: “Jalan-Jalan Implementasi Sinode.”

Para peserta juga akan menerima pesan video dari Paus Leo XIV yang akan diperdengarkan selama sidang berlangsung.

Perayaan Ekaristi penutupan akan dilaksanakan di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Jakarta, dilanjutkan dengan kunjungan ke Masjid Istiqlal, masjid terbesar di Asia Tenggara.

Para peserta akan berjalan melalui Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan langsung masjid dengan Gereja Katedral sebagai simbol komitmen Indonesia dalam memelihara kerukunan antarumat beragama.

Penutup

Sidang Pleno XII FABC bukan sekadar pertemuan para uskup. Sidang ini merupakan momentum penting bagi Gereja di Asia untuk berdoa bersama, saling mendengarkan, membaca tanda-tanda zaman, dan mencari cara-cara baru mewartakan Injil di salah satu kawasan paling dinamis dan paling beragam di dunia.

Kami berharap pertemuan ini semakin memperkuat kesaksian Gereja tentang persekutuan, partisipasi, dan misi, sekaligus menginspirasi umat Katolik di seluruh Asia untuk menjadi jembatan dan pembangun jembatan di dalam keluarga, komunitas, bangsa, serta di antara masyarakat yang berbeda budaya dan agama.

Terima kasih atas kehadiran Anda. Kami menantikan kesempatan untuk bekerjasama dengan Anda selama berlangsungnya sidang ini dan membagikan perjalanan penting ini kepada Gereja yang lebih luas serta seluruh masyarakat Asia.

English versionPress release 20 July 2026

Bishop Marcelino Antonio “Junie” Malabanan Maralit, Jr.
Bishop of San Pablo, Philippines
Spokesperson of the 12th FABC Plenary Assembly, Jakarta

It is my pleasure to welcome you to the XII Plenary Assembly of the Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC), taking place in Jakarta, Indonesia, from July 20 to 26, 2026.

We are grateful for your presence and your interest in this important gathering of the Catholic Church in Asia.

What is the FABC?

The Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) is a voluntary association of the Catholic bishops’ conferences and ecclesiastical jurisdictions across South, Southeast, East, and Central Asia. It was established following the historic meeting of Asian bishops during the visit of Pope St. Paul VI to Manila in 1970, inspired by the spirit of the Second Vatican Council. The statutes of the federation were approved by the Holy See in 1972.

For more than five decades, the FABC has served as a platform for the bishops of Asia to reflect together on the Church’s mission in one of the world’s most diverse continents. It promotes solidarity and collaboration among the local Churches while fostering evangelization, dialogue with other religions, theological reflection, social engagement, human development, and social communications. It also provides a forum for addressing pastoral challenges common to the region.

A Journey of Plenary Assemblies

The Plenary Assembly is the highest decision-making body of the FABC and is ordinarily convened every four years.

Since the first assembly in Taipei, Taiwan, in 1974, the bishops of Asia have gathered periodically to discern how the Church should respond to the changing realities of the continent.

Over the years, the assemblies have addressed themes including evangelization, prayer, the mission of the laity, Christian discipleship, the Asian family, the Eucharist, new evangelization, and the family as the domestic Church.

The most recent plenary assembly was held in Colombo, Sri Lanka, in 2016, under the theme “The Catholic Family in Asia: Domestic Church of the Poor on a Mission of Mercy.”

The XII Plenary Assembly

This year’s assembly takes place within an important ecclesial context. It follows the FABC 50 General Conference, the Bangkok Document (2023), the Final Document of the Synod on Synodality (2024), the Jubilee Year of Hope (2025), and the beginning of the pontificate of Pope Leo XIV. Together, these milestones have renewed the Church’s commitment to synodality and missionary renewal.

The theme of this assembly is: “The Call to Synodal Conversion and the Mission to Be Bridges and Bridge-Builders in Asia.”

The theme highlights two closely connected dimensions.

  • The first is synodal conversion—the ongoing personal and communal conversion that enables the Church to become more participatory, missionary, transparent, and responsive to the guidance of the Holy Spirit.
  • The second is the Church’s mission to become bridges and bridge-builders in Asia—a continent marked by extraordinary cultural, religious, linguistic, and ethnic diversity, but also by poverty, conflict, migration, environmental challenges, and rapid social change. The bishops will reflect on how the Church can promote dialogue, reconciliation, peace, and human dignity by building bridges both within the Church and with society.

How the Assembly Will Work

The assembly is designed to be much more than a conference. It is intended to be a genuine synodal experience.

Throughout the week, participants will engage in prayer, Eucharistic celebrations, spiritual reflection, discernment, Conversations in the Spirit, plenary sessions, regional sessions, and table conversations. The emphasis is on listening to one another and discerning together what the Holy Spirit is calling the Church in Asia to become.

Rather than discussing synodality in theory, the assembly will focus on practical ways of implementing it in the life and mission of the Church throughout Asia.

Expected Outcomes

The assembly is expected to produce two principal documents.

  1. The first is the Final Document, envisioned as a practical Vademecum on Synodality in Asia, offering pastoral guidance for the local Churches across the continent.
  2. The second is a Message to the Church in Asia, summarizing the assembly’s reflections and encouraging Catholics throughout the region to continue the journey of synodal renewal.

Participants

The XII Plenary Assembly brings together more than 120 cardinals and bishops from across Asia, representing the 22 member episcopal conferences and ecclesiastical jurisdictions of the FABC across Central, East, South, and Southeast Asia.

These include the bishops’ conferences of Bangladesh, India, Pakistan, Sri Lanka, Japan, South Korea, Taiwan, Myanmar, Malaysia, Singapore, Brunei, the Philippines, Thailand, Vietnam, Timor-Leste, Indonesia, Laos and Cambodia, together with Hong Kong, Macau, Nepal, Central Asia, and the Syro-Malabar and Syro-Malankara Churches.

In addition to the bishops, the assembly includes representatives of the Holy See, theologians, experts, facilitators, moderators, observers, and members of the FABC Secretariat who will assist in the discernment process.

Special Highlights

Pope Leo XIV has appointed:

  • Cardinal Oswald Gracias, Archbishop Emeritus of Bombay, India, as his Special Envoy to the assembly.
  • Cardinal Luis Antonio Tagle, Pro-Prefect of the Dicastery for Evangelization, will lead participants in a day of recollection at the beginning of the assembly.
  • Cardinal Mario Grech, Secretary General of the General Secretariat of the Synod, will deliver a keynote presentation on “Pathways for the Implementation of the Synod.”

The participants will also receive a video message from Pope Leo XIV, which will be shared during the assembly.

The closing Eucharistic celebration will be held at the Cathedral of Our Lady of the Assumption in Jakarta, followed by a visit to Istiqlal Mosque, Southeast Asia’s largest mosque. Participants will walk through the “Terowongan Silaturahmi” (Friendship Tunnel), which physically links the mosque with the neighboring Cathedral of Our Lady of the Assumption, symbolizing Indonesia’s longstanding commitment to interreligious harmony.

Closing

The XII FABC Plenary Assembly is more than a meeting of bishops. It is a significant moment for the Church in Asia to pray together, listen to one another, discern the signs of the times, and seek new ways of proclaiming the Gospel in one of the world’s most dynamic and diverse regions.

We hope this gathering will strengthen the Church’s witness to communion, participation, and mission, while inspiring Catholics across Asia to become bridges and bridge-builders within their families, communities, nations, and among people of different cultures and religions.

Thank you for your presence. We look forward to working with you throughout the assembly and sharing this important journey with the wider Church and the people of Asia.

Sumber: Konferensi Pers FABC di Hotel Mulia Senayan, Senin petang tanggal 20 Juli 2026

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

google-site-verification=jpln5xVmufbwJmayIrbtlWORBr1tB6si7D2up9wsjmo