Masa Tua dengan Bahagia

2
714 views
Ilustrasi - Menjadi tua dan siap mati. (Ist)

BAPERAN-BAcaan PERmenungan hariAN.

Sabtu, 20 November 2021.

Tema: Penantian akhir.

  • 1 Mak. 6: 1-13.
  • Luk. 20: 27-40.

KESADARAN tidak pernah datang terlambat. Kesadaran adalah suatu kekuatan jiwa.

Kadang muncul dengan lembut menyapa tepat. Kadang juga jelas dan lugas. 

Ia bagai “sirine” kehidupan pribadi untuk tetap berjalan dalam keistimewaannya sebagai pribadi manusia. Ia menyadarkan akan keterbatasan hidup ini.

  • Tak jarang, kesadaran mendorong pribadi untuk dengan berani mengatakan “tidak”.
  • Tidak terhadap segala sesuatu yang dapat mengurangi martabatnya sebagai pribadi yang luhur.
  • Tidak pada sesuatu yang dapat mengotori perjalanan hidupnya.
  • Tidak pula terhadap apa saja yang mendatangkan derita, pencemaran dirinya dan noda.

Kesadaran mengobarkan suara hati untuk lantang berbicara. Dengarkan dan ikutilah.

Suara hati selalu mendorong dan menggerakkan seseorang akan adanya Yang Tak Terbatas.

Ia menyadarkan orang untuk kembali pada jalan kodratnya.

Ia menggemakan suara hati akan kehidupan nanti setelah kematian.

“Waduh rumahnya bersih, tertata, dan harum. Mama di mana?” tanyaku dalam sebuah kunjungan.

“Ada di teras belakang, Mo. Sedang santai sendiri. Tuh… Mama…. Kok nggak ngabarin sih sehingga kami bisa menyiapkan sesuatunya,” jawab umat paroki.

“Duh kayak tamu agung aja; harus dipersiapkan segala,” jawabku rileks.

“Ya nggak apa-apalah Romo. Kan lebih baik. Itu pesan Mama lo,” jawab anaknya.

Saat kutemui, ibu ini sudah berumur 73 tahun. Ia duduk di kursi roda. Ia sedang minum teh panas dan makan sedikit roti.

Yang menarik bagi saya, saat itu juga disetelkan lagu-lagu rohani. Kebetulan lagu Ave Maria yang kudengar.

“Mama, apa kabar? Lagi santai ya. Hmm…asyik banget Mam,” sapaku.

“Iya Romo. Setiap hari saya duduk di teras ini… Saya menghirup udara yang segar. Memanjakan mata memandang tanaman,” jawab ibu sepuh.

“Gimana keadaannya, Mam?” sapaku ramah.

“Ya begitulah ngomong. Baik, sehat. Hanya kadang badan terasa capek. Yah… begitulah… namanya aja orang tua. Dibawa santai aja Romo,” terang anaknya.

“Saya sekarang tidak mau berpikir macam-macam. Saya pun tidak lagi campur tangan kehidupan anak-mantu dan cucu-cucu saya.

Bukan tidak sayang, tetapi biarlah mereka belajar mandiri. Saya lebih banyak berdoa untuk mereka. Biarlah mereka belajar mengelola keluarga mereka.

Mereka sering datang mengunjungi; bercerita dan makan bersama. Cucu-cucu, lebih banyak menggembirakan,” jawab ibu sepuh ini.

Sekitar setengah jam, kami bicara di teras. Waktunya si ibu beralih ke kamar. Ia mengajak saya untuk bicara lebih lanjut.

Saya kaget melihat kamarnya.

“Ini Romo, kamar saya sekarang. Dan saya memang minta diatur demikian,” terangnya.

Kamarnya terletak di depan. Besar dan bersih.

Kalau gorden di depan dibuka, dapat melihat taman depan yang asri. Ada ada kolam ikan koi dan air terjun. Ujung kolam ikan menempel pada dinding kamar. Ikan ikan koki yang bagus dapat dilihat dari kamar dan diberi pelet.

Kamar sangat bersih dan wangi. Tak terkesan bau pesing.

Dari posisi tidur dapat memandang ke depan sedikit ke atas: salib Yesus.

Sebelah kiri, samping tempat tidur ada benda rohani Ibu Maria dan sebuah radio kecil. Dengan USB bisa mendengarkan lagu-lagu rohani.

Tidak banyak barang yang ada. Semua tertata rapi; ada alat penyaring udara. Pokoknya seperti sebuah kamar di hotel yang luks banget.

“Mam, siapa yang menata kamar?”

“Romo, umur saya sudah senja. Saya menyiapkan diri untuk tidak merepotkan anak-anak. Ada seorang perawat yang menjadi di sahabat saya. Ia menolong semua keperluan saya. Anak puteriku yang mengatur semuanya,” jelasnya.

“Saya memakai waktu saya untuk lebih banyak berdoa. Saya tidak mau menonton TV. Saya hanya mendengarkan lagu-lagu rohani. Saya tidak mau mengikuti hiruk-pikuk kejadian di luar lewat TV. Saya hanya berdoa,  mendengarkan lagu-lagu rohani. Suster perawat membacakan Injil sesuai dengan bacaan harian.

Saya hanya ingin meninggal dengan tenang dan damai, Mo. Saya belajar berserah. Apa yang terbaik untuk hidup iman, saya lakukan,” jelasnya.

Saya terdiam.

Saya disadarkan akan makna hidup. Saat segalanya sudah dilakukan, pada akhirnya,tibalah saat penantian penuh harap.

Kata Yesus, “Allah adalah Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” ay  38.

Tuhan, syukurku atas hidup ini. Amin.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here