Melepaskan Kelekatan

0
387 views
Ilustrasi (Ist)

Selasa, 16 Agustus 2022

  • Yeh. 28:1-10.
  • Mzm Ul. 32:26-27ab,27cd-28,30.35cd-36d;
  • Mat. 19:23-30.

BACAAN Injil hari ini masih kelanjutan bacaan kemarin; tentang kekayaan dan bahayanya bagi keselamatan kita.

Slogan “kekayaan untuk hidup, bukan hidup untuk kekayaan” kiranya dapat menjadi rambu-rambu. Untuk bersikap hati-hati terhadap perangkap kekayaan.

Lebih baik menumpuk harta surgawi dengan perbuatan baik melalui kekayaan yang kita miliki. Daripada menumpuk harta duniawi yang terkadang malah membuat kita buta terhadap penderitaan dan kesulitan sesama di sekitar kita.

Semakin kita berani melepaskan diri dari harta kekayaan, semakin kita memiliki ruang untuk menerima dan menumpuk harta surgawi.

Kelekatan itulah yang membuat kita tidak bisa mengutamakan yang baik, indah sesuai dengan harapan dan kehendak Allah.

Seorang ibu menceritakan anaknya yang sudah kelas enam SD tidak mau ikut retret sekolah. Terjadi demikian, karena teman-temannya mengejek dia karena membawa gulingnya yang sejak bayi selalu dipeluk waktu tidur.

Ia ditertawakan dan dijadikan bahan candaan teman-temannya hingga merasa malu.

Memang ia selalu membawa guling itu kemana pun pergi khususnya; jika ada rencana bermalam dan menginap.

Jika tidak membawa guling itu, ia akan gelisah sepanjang malam dan tidak bisa tidur.

Maka ketika teman-temannya mengolok-oloknya, ia merasa sangat tidak nyaman dan tidak dimengerti.

Awalnya ia tidak tersinggung; namun ketika gulingnya itu diambil salah satu temannya dan kemudian dilempar ke sana kemari, ia jadi marah dan merasa dipermainkan.

Ia lebih baik tidak bersama dengan teman-temannya dan tidak ikut retret daripada dibuat mainan.

Ia sangat sedih karena barang yang paling dekat dengannya dan paling disayangi dibuat mainan bahkan dibuang oleh teman-temannya.

Keindahan dan faedah ikut retret terasa tidak ada nilainya dibanding dengan memeluk guling yang sangat berharga baginya, yang melekat dengan hidupnya sejak bayi.

Kelekatan membuat anak itu menutup kemungkinan menemukan kebaikan baru dalam hidup.

Hati dan perasaannya hanya tertuju pada barang yang menurutnya sangat berharga baginya dan membuatnya nyaman.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian,

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Yesus menawarkan kepada kita harta yang tiada bandingnya yang tidak bisa dibeli dengan uang dan tidak ada pencuri yang bisa mencuri.

Kekayaan materi akan membelenggu kita, seperti anak yang terikat dengan guling kecilnya yang dia peluk sejak bayi.

Anak itu terikat dengan gulingnya dan merasa satu-satunya kenyamanan dan keamanan saat tidur, ditemani dengan guling mugilnya.

Dalam hidup ini bukan hanya orang kaya namun semua orang yang terikat pada nilai duniawi akan sulit masuk Kerajaan Surga.

Seorang kaya pun kalau dia tidak terikat akan dunia, dan mau berusaha mengikuti Yesus maka akan masuk Kerajaan Surga.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku berani melepaskan kelekatan yang ada dalam hidupku?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here