Mengasihi, Meski Terluka

0
352 views
Ilustrasi.

Sabtu, 14 Mei 2022

  • Kis.1:15-17.20-26.
  • Mzm. 113:1-2.3-4.5-6.7-8.
  • Yoh. 15:9-17

MENGASIHI itu terkait erat dengan konsep-konsep seperti kebaikan, perhatian, kasih sayang, dan cinta.

Orang yang berbelas kasih tidak hanya bertindak karena niat baik, ia merasakan cinta dan kepedulian terhadap kesejahteraan seseorang.

Mengasihi tanpa dorongan atau mau dan rela berkurban, sesungguhnya hanyalah kamuflase.

“Saya tidak mau terbenam dalam rasa marah, dendam karena kebencian pada suami saya,” kata seorang ibu.

“Cukup sudah saya terbenam dalam penderitaan karena perbuatannya,” lanjutnya.

“Lima belas tahun lalu, suamiku meninggalkan saya dengan tiga anak demi seorang perempuan lain,” ujarnya.

“Dia telah membuat pilihan, dan saya serta anak-anak harus melanjutkan hidup tanpa dia,” katanya.

“Hampir habis airmataku meratapi peristiwa yang terjadi, namun masalah tidak akan selesai hanya dengan duduk menangis, aku harus bangkit,” katanya lagi.

“Dalam sebuah retret saya diantar masuk dalam kesadaran bahwa mengasihi adalah sebuah pilihan hidup sebagai tanda iman,” kisahnya.

“Setelah lima belas tahun saya terbenam dalam kesusahan dan merasa diri sebagai korban, kini saya tidak lagi marah dengan suamiku. Namun saya belum bisa mengampuninya, apalagi mengasihinya,” ujarnya.

“Kenyataan ini lebih menyakitkan dan membuatku lebih menderita,” sambungnya.

“Baru kemudian dalam retret itu, saya diajak untuk menyadari kualitas iman saya. Saya selama ini hanya menghibur diri, tetapi belum mampu mengasihi secara konsisten,” sambungnya lagi.

“Saat itu, muncul kesadaran baru bahwa mengasihi bukan persoalan terhadap siapa saya berbuat kasih, melainkan persoalan hubungan saya dengan Allah,” jelasnya.

“Demikian juga saya temukan dalam proses penyembuhanku bahwa terluka adalah bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan untuk mengasihi Allah melalui sesama,” lanjutnya.

“Maka ketika saya masih sibuk memperjuangkan kehendak diriku sendiri, ketika saya masih memperjuangkan kepentingan dan kenyamanan perasaan diri sendiri, rasanya saya sulit untuk sampai pada titik mengasihi,” tegasnya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian.

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.

Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.”

Kita dipanggil hari ini untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama karena Tuhan telah lebih dahulu mengasihi kita.

Apapun yang terjadi dalam hidup ini, kita tetap harus saling mengasihi, dasarnya adalah sabda Tuhan hari ini. “Barang siapa tidak mengasihi ia tidak mengenal Allah sebab Allah adalah kasih.”

Bagaimana dengan diriku?

Apakah mau mengasihi orang yang telah melukaiku?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here