Menjenakan Kegagalan

0
120 views
Ilustrasi: Berangkat berburu di pedalaman hutan. (Sr. Kresentia Yati SMFA)

Kiong Koe Berkicau
Apau kayan, 3-12-2021

Mat 9:35-10.1-6-8

DUA hari yang lalu, Pak Ding, umat Stasi St. Maria Goreti, Agung Baru, pergi berburu dan “menyuar malam” di hulu Sungai Boh. Dia ke sana dengan beberapa temannya.

Mereka membawa jala ikan dan anjing untuk berburu. Dua malam mereka menginap di hulu untuk menjala ikan sambil berburu babi dan payau (rusa).

Dan pagi tadi, mereka pulang dan ke Pastoran melapor, “Pastor kita tidak ada sayur ini, kami pulang berburu dan menjala ikan di hulu, tetapi tidak ada satu pun binatang yang lewat.

Sepertinya, babi, rusa dan ikan sekarang pada pintar-pintar Pastor”.

“Mereka tahu kami lewat membawa anjing dan jala. Mereka semua pada mengumpet entah ke mana.”

Mendengar mereka berkata begitu, saya jadi rada aneh bengong dan berdiam diri sambil di benak bertanya, memang sejak kapan binatang-binatang ini, mengenal sekolah dan pengetahuan?

Masa binatang dibilang pintar-pintar.

Demikianlah umat Allah di pedalaman, bila mereka mendiskripsikan kegagalan dalam berburu babi, rusa dan menjala ikan di sungai. Mereka bisa jenaka membuat lelucon demi menghibur diri yang lagi apes pulang berburu dengan tangan hampa.

Jadi, teringat kata-kata Simon Petrus, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa….” (Luk 5:5).

Benar sekali bila tidak selamanya orang bekerja keras dan berharap selalu berakhir dengan kesuksesan. Ada kalanya perjuangan dan kerja keras yang disertai harapan itu, malah berujung apes.

Ini adalah bagian paling menyakitkan di dalam hidup manusia.

Hal yang sama dalam setiap pewartaan Injil.

Para imam jangan pernah membayangkan bahwa semua kerja keras dan usahanya dalam menabur benih-benih Injil akan berakhir dengan keberhasilan. Terkadang suntikan semangat yang mengebu-ngebu dan berkobar-berkobar dalam mewartakan Injil, malah kita siap menerima hasil dengan dua kemungkinan.

Pertama, kita ikhlas siap menerima kegagalan sebagai kekonyolan. Dan kedua, siap hepi apresiasi dan bersyukur bila menerima keberhasilan.

Bila demikan halnya, apa yang perlu dihidupi dalam mengeluti hidup ini?

Kesetiaan.

Demikan yang dikatakan oleh Nabi Yesaya (bdk. 30:19-21.23-26). Kita mesti tekun dan setia dengan pekerjaan-pekerjaan itu.

Kadang kegagalan mengajarkan kita tentang kesabaran dan lebih dari itu, dia akan mengajarkan kita tentang jalan hidup seperti, pentingnya hidup doa, kerendahan hati dan penyerahan seluruh hidup kepada Allah.

Betul juga yang di imani oleh Pak Ding dan teman-temanya di atas, “Kegagalan mesti disuntik dengan vaksin jenaka dan lelucon biar otot-otot tubuh jadi lentur. Jiwa dan pikiran tidak ikut tertekan”.

Bagaimana sikapku bila berhadapan dengan usaha yang gagal?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here