Meski Hidup Berkekurangan, tapi Mengalami Bahagia

0
972 views
Kebahagiaan by Romo Suhud SX

BAPERAN-BAcaan PERmenungan hariAN.

Kamis, 17 Maret 2022.

Tema: Orientasi hidup.

Bacaan.

  • Yer. 17; 5-10.
  • Lk. 16; 19-31.

KADANG pemilikan itu menggoda seseorang untuk bersikap serakah.

Apalagi ada bibit iri hati. Merasa diri kurang, merasa membutuhkan pertolongan.

Materi itulah yang penting dalam hidupnya. Ingin menikmati hidup, tetapi tidak mempertimbangkan kekuatan ekonomi. Mereka cenderung ingin hidup enak untuk menunjukkan bahwa mereka termasuk orang berkecukupan.

Namun, ada juga orang yang jujur. Hidup apa adanya. Tidak menunjukkan bahwa mereka kekurangan; bisa mengatur hidup dengan tetap mengukir kebaikan. Kendati tidak banyak membantu dalam segi materi.

Namun hidupnya tenang. Bersahaja. mengesankan banyak orang. Bergaul, berjumpa dan berbicara bersama dalam banyak kebaikan.

Kebaikan.

Keluarga ini menjadi daya tarik; menjadi tempat bertanya bagaimana mengatur hidup dengan bersahaja.

Bukan karena punya kelebihan. Mereka menunjukan sebuah harapan, kegembiraan, sopan santun.

Terkesan, mereka adalah pribadi-pribadi terberkati, anak-anak mereka mengundang tanya, bagaimana dididik, bertumbuh dalam suasana akrab,

“Romo, di komunitas saya ada sebuah keluarga yang kalau kami perhatikan, sangat membutuhkan perhatian. Kalau Romo ada kesempatan mengunjungi rumah mereka, saya bersedia menemani,” kata ketua komunitas.

“Apa yang membuat mereka menarik untuk dikunjungi?”

“Dari segi hidup bertetangga mereka lebih menunjukkan persahabatan bahkan yang saya lihat mereka tidak bermasalah dengan tetangga mereka yang non kristiani.

Diterima. Satu-satunya di blok itu.

Ia terlibat aktif dalam lingkungan. Di paroki pun, kendati tidak tercatat di kepengurusan dia selalu siap tenaga. Seperti pribadi yang suka bekerja behind the scene.”

“Menarik sekali kesaksianmu.”

“Dari segi ekonomi, mungkin lebih baik bila mendapat perhatian, Romo.”

“Tapi mereka tidak pernah mengeluh dalam pertemuan lingkungan. Mereka hanya menyuguhkan air teh hangat dan beberapa makanan berupa gorengan sederhana. Dan mereka tidak merasa malu.”

Beberapa pekan kemudian.

“Halo apa kabar, selamat sore?”

“Waduh Romo sudi mampir di gubuk kami.”

“Welah… ada juga Pak Boy to. Silahkan masuk.”

“Wah saya mimpi apa ini? Romo sampai datang berkunjung. Istimewa lo. Apalagi Romo Paroki dan Ketua Komunitas.“

“Mudah-mudahan saya tidak salah ya.”

“Kok bilang gitu?”

“Iya Romo. Kami takut, kalau kami salah. Atau, iman kami kurang berkembang. Mohon bimbingannya. Kami memang diajarkan oleh orangtua. Hiduplah dengan baik. Jangan pernah meracuni hidup dan imanmu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.”

“Oh ya. Bapak-ibu mengajarkan demikiankah?”

“Iya Romo. Semenjak kecil, kami selalu diajarkan untuk hidup tidak menjadi beban bagi saudara yang lain. Hiduplah sekuatmu.

Usahakan jangan terlampau memikirkan hal-hal yang lebih di luar kemampuan. Apalagi hanya keinginan.

Nikmati saja hidupmu tanpa iri kepada orang lain. Didik anak-anak bangga dengan apa yang ada.”

“Hebat sekali bapak ibumu. Di mana mereka tinggal?”

“Di kampung, Mo. Kami merantau sudah 25 tahun. Kami bersyukur. Kami bisa pulang setiap tahun. Kadang membawa bapak ibu ke rumah untuk berapa pekan lamanya.”

Bagus sekali. Mengusahakan kegembiraan bersama.

Kami pun bercakap-cakap dengan santai. Dan betul. Tiba-tiba si ibu berkata, “Aduh ada Romo dan Pak Boy, kenapa tidak info dulu kalau mau berkunjung. Kami tidak siap.”

“Kami berkunjung mau mengenal keluarga lebih jauh. Romo dengar anak-anak pintar dan aktif di Gereja. Para guru juga memberi kesaksian yang sama.”

“Makasih. Bagaimana kalian bisa menumbuhkan iman dalam keluargamu?”

“Iya biasa aja Mo. Kami bersyukur saja. Menikmati berkat yang diberi Tuhan. Tak iri. Tak mengingini yang tak mungkin. Tidak menggerutu.

Injil mengingatkan, “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekali pun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.” ay 31.

Tuhan, ajari aku hanya bersandar pada-Mu. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here