Misa Requiem dan Ritual Adat Kematian Nyolat  Dayak Uut Danum untuk Albanus Mikail Abeng (2)

0
26 views
Upacara adat kematian Nyolat dalam tradisi masyarakat Dayak Uut Danum di Sintang untuk almarhum Albanus Mikail Abeng. (Victor Emanuel)

DAYAK Uut Danum merupakan salah satu rumpun etnik Suku Dayak di Pulau kalimantan. Masih dalam benak ingatan kita, tahun 1894 di Kampung Tumbang Anoi Kalteng -saat itu Indonesia belum merdeka dan masih menjadi daerah koloni Belanda- telah dilakukan peristiwa besar. Berupa sebuah Perjanjian Damai yang pelaksanaan acaranya dilakukan oleh salah seorang dari Suku Dayak Uut (Ot) Danum bernama Damang Bahtu.

Tradisi nenek moyang

Setiap suku di Indonesia -termasuk Suku Dayak Uut Danum di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat- hingga saat ini masih tetap memegang teguh tradisi para leluhur nenek moyang. Salah satunya adalah upacara adat.

Upacara adat merupakan salah satu bentuk identitas budaya lokal suatu masyarakat. Sebagai manifestasi ritual, adat jadi sangat penting bagi masyarakat. Dilaksanakan dalam periode dan peristiwa tertentu.

Upacara adat sebagai serangkaian keseharian aktivitas masyarakat lokal menjadi suatu kebutuhan. Tapi juga bisa hanya sekadar bentuk perayaan. Upacara adat juga merupakan perwujudan dari sistem kepercayaan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai universal, bernilai sakral, suci, religius. Dilakukan secara turun-menurun serta menjadi kekayaan kebudayaan nasional.

Unsur-unsur dalam upacara adat meliputi tempat upacara, waktu pelaksanaan, dan dengan berbagai benda-benda atau peralatan tertentu yang menandai simbol tertentu.

Upacara adat kematian Nyolat dalam tradisi budaya Dayak Uut Danum untuk mengantar kepergian jiwa Bapak Albanus Mikael Abeng menuju kedamaian abadi. (Victor Emanuel)

Tradisi adat Nyolat

Salah satu upacara yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Adat Dayak Uut Danum Sintang adalah upacara adat kematian yang di sebut Nyolat. Upacara adat Nyolat ini dilakukan oleh pihak keluarga besar almarhum Drs. Albanus Mikail Abeng MM bersama IKADUM (Ikatan Dayak Uut Danum) Kabupaten Sintang.

Mikail Abeng meninggal dunia Senin 8 April 2024 lalu dan jenazah telah dimakamkan hari Kamis 11 April 2024 di Pemakaman Katolik Tiang Sandung Desa Jerora 1 Jl. Sintang-Putussibau.  

Requiem

Sebelum dimakamkan, jenazah Drs. Albanus Mikael Abeng dibawa ke Gereja Katedral Kristus Raja Sintang untuk diadakan requeim. Misa requiem dipimpin Vikjen Keuskupan Sintang Pastor Leonardus Miau Pr bersama Pastor Sabinus Amir Pr, Pastor Florensius Abong Pr, Pastor Herman Yosef Pr, Pastor Yohanes Pranoto Pr, Pastor Juli Pr, Pastor Imanuel Faud Pr, dan Pastor Kolek CM.

Sebelum dibawa ke gereja, tampak hadir melayat kerumah duka dan ikut dalam misa Lasarus, Ketua Komisi V DPR RI. Misa berlangsung penuh rasa haru dan duka dihadiri keluarga besar, sahabat, dan kenalan almarhum serta umat Paroki Kristus Raja Katedral Sintang.

Sebelum misa dibacakan riwayat hidup singkat almarhum oleh Christoporus Try Suhariyanto, sepupu almarhum. Setelah misa, dengan pengawalan jajaran Polres Sintang, jenazah almarhum dibawa menuju ke Pemakaman Katolik Tiang Sandung Jerora 1 dan dilakukan ibadat pemakaman dipimpin Pastor Paroki Kristus Raja Katedral Pastor F. Abong Pr.

Atas: Upacara adat kematian Nyolat dalam tradisi masyarakat Dayak Uut Danum untuk mengantar kepergian jiwa Bapak Albanus Mikail Abeng di Gereja Katedral Sintang, Kalbar. Bawah: Ketua Komisi V DPR RI Lasarus datang memberikan penghormatan kepada almarhum di rumah duka dan memberi sambutan saat berlangsung misa requiem di Gereja Katedral Sintang. (Victor Emanuel)

Menantu almarhum Kompol Braiel A. Rondonuwu SIK, MH, dalam sambutannya mewakili keluarga, menyampaikan banyak terimakasih kepada semua umat yang hadir atas kepedulian dan ucapan duka yang diberikan kepada keluarga almarhum. Juga

menyampaikan permohonan maaf, jika selama hidup almarhum terdapat perbuatan salah. “Dalam kesempatan dan suasana duka ini, kami atas nama keluarga besar almarhum menyampaikan mohon maaf yang sebesar-besar atas kesalahan semasa hidup alamrhum,” ungkap Kompol Braiel yang saat ini bertugas  lingkungan Polda Kepulauan Riau.

Upacara adat kematian Dayak Uut Danum

Setelah seluruh selesai acara pemakaman untuk almarhum Albanus Mikail Abeng berlangsung menurut Gereja Katolik, selanjutnya di rumah duka dilanjutkan upacara adat kematian Nyolat menurut tradisi adat-istiadat dan budaya Dayak Uut Danum.

Dalam tradisi budaya Dayak Uut Danum, terhadap anggota keluarga yang sudah meninggal dunia maka ada tiga tingkatan upacara adat kematian, yaitu: Nosang, Nyolat, dan Dalok. Terhadap tiga upacara adat kematian ini, pilihan pelaksaksanaannya diserahkan sepenuhnya kepada pihak keluarga almarhum. 

Dalam masyarakat adat Dayak Uut Danum, upacara adat Nyolat adalah wujud atau simbol adat pembersihan dari kematian. Upacara adat Nyolat untuk almarhum Albanus Mikail Abeng dipandu oleh Pak Agen SH – pemangku adat Forum Ketemenggungan Adat Dayak Kabupaten Sintang. Ia didampingi Pak Sopian SSos, MSi – Ketua IKADUM Kabupaten Sintang beserta keluarga besar IKADUM Sintang.

Prosesi dimulai dengan membunyikan tetabuhan Hotebah darin Gong dan Selekanung.

Hotebah adalah bunyian gong yang khusus untuk arwah orang yang sudah meninggal dunia. Rombongan peserta Nyolat dengan menggunakan pakaian khusus dan atribut yang ada memasuki ruang utama rumah almarhum, kemudian bersama anggota keluar rumah yang diawali suara Hedeleuw -suara pekikan sebagai tanda dimulainya acara- menuju ke lokasi tepat di depan rumah almarhum untuk melaksanakan Nyolat.

Peserta Nyolat dengan iringan musik melakukan tarian Nganjan mengelilingi secara berualang-ulang terhadap semua peralatan  yang digunakan dalam Nyolat.

Dalam upacara Nyolat ini, terdapat hewan-hewan kurban berupa seekor babi, ayam, terus, beras kuning. Juga terdapat sebuah Torash yang terbuat dari kayu tebelian (ulin) yang telah dibentuk sedemikian rupa dengan ujung bagian atas membulat runcing sampai ke bagian bawah  yang menyentuh tanah dibaut bulat.

Dalam Nyolat ini diadakan Marung Ngitot Liou oleh Pak Rabab.

  • Ngitot artinya mengantar.
  • Liou sebutan untuk arwah anggota yang sudah meninggal dunia.

Marung adalah ungkapan betutur secara lisan dengan syair dan nada khas Dayak Uut Danum yang isinya sebagai wujud mengantar arwah (liou) keluarga yang sudah meninggal dunia ke alam kematian. Dengan marung ini dan menurut kepercayaan dan tradisi Dayak Uut Danum, maka seseorang yang sudah meninggal dunia tersebut tahu bahwa dirinya sudah meninggal dunia dan tidak lagi bersama di dunia, dan supaya perjalanan roh almarhum tidak tersesat menuju Khayangan (nirwana) tempat kediaman Jahtak Hotalak (Tuhan Yang Mahaesa). Demikian diungkapkan oleh Pak Agen SH.

Sebagai rangkaian Nyolat atas arwah Mikail Abeng saat itu dilakukan juga Munu Urak (membunuh seorang babi) sebagai hewan kurban. Acara ini dipandu oleh Kompol Braiel A. Rondonuwu yang mewakili pihak keluarga almarhum. Hewan kurban itu dimatikan dengan cara ditusuk dengan “Lunjuk” (Kujur).

Semua anggota keluarga inti almarhum ikut serta memegang tangkai “Lunjuk” (Kujur) tersebut. Lalu, kemudian dilanjutkan dengan acara Hopohpash yaitu ritual untuk membuang segala pengaruh buruk yang tidak baik dan memohon kepada Jahta Mohotala (Tuhan Yang Mahaesa). Yang maknanya, semua anggota keluarga almarhum dan semua yang hadir  dalam upacara adat Nyolat tetap mendapat ketenangan dalam hidup di dunia.

Puncak acara ini adalah pemasangan Torash kayu Tebelian di samping kanan depan rumah almarhum Albinus Mikail Abeng.

Khusus bagi masyarakat Adat Dayak Uut Danum, penghormatan terhadap leluhur yang sudah meninggal merupakan kewajiban dan keharusan oleh pihak anggota keluarga. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian antropolog Pascal Couderc asal Perancis yang selama 10 tahun yang melakukan riset terhadap Uut Danum di Kalimantan Barat.

Hasil penelitian itu tersaji dalam artikelnya berjudul Separated Dead and Transformed Ancestors: Two Facets of Ancestorship among the Uut Danum of West Kalimantan.

Kepergian Bapak Drs. Albanus Mikail Abeng MM meninggalkan seorang isteri bernama Ny. Yustina SAg, MAP. Juga empat orang anak yakni Henny Hiasintha SH, drg. Viviana Silvia MARS, Resi Roswita, Bipda Pol Chrysantha Jessica Rhenden serta orang menantu yakni Josef Dewo Prakoso dan Kompol Braiel A. Rondonuwu.

Plus lima cucu yakni Lionell Xavier Rambang Prakoso, Treviell Logan Anyang Prakoso, Hannela Manyang Rondonuwu, Nathania Sharin Rondonuwu, Dominic Barigas Rondonuwu.

Baca juga: In Memoriam Albanus Mikael Abeng, tokoh Dayak Uut Danum dari Sintang, Kalbar (1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here