Mutiara Keluarga: Cerdas Memilih Makanan dan Minuman Sehat (1)

0
25 views
Ilustrasi: Makanan enak serba menu seafood di Shantou, China. (Mathias Hariyadi)

IDEALISME manusia moderen adalah menjadi produsen. Kalaupun belum mampu menjadi produsen, setidaknya jadilah konsumen yang cerdas. Bukan konsumen yang menganut konsumerisme. Yakni mengkonsumsi apa pun yang ditawarkan, diiklankan produsen. Cerdas artinya bisa dan biasa berpikir, biasa kritis terhadap produk-produk yang ditawarkan bahkan diiklankan.

Menjadi konsumen yang cerdas

Hari-hari yang baru saja berlalu, ketika seluruh bangsa berpesta merayakan Lebaran, kita ditawari begitu banyak produk makanan dan minuman. Maka, saat ini adalah saat yang tepat untuk belajar menjadi konsumen yang cerdas. Sekarang saat yang baik untuk mempertanyakan, minimal bertanya baik atau burukkah bagi anak-anak dan keluargaku untuk mengkonsumsi produk-produk yang ditawarkan tersebut?

Sebab di mana-mana sudah siap dan tersedia pelbagai produk makanan minuman, dengan seribu satu merk dan aneka warna serta pelbagai bentuk kemasannya. Semuanya itu amat sangat menarik, baik bagi orang dewasa, apalagi bagi anak-anak. Bertanyalah, setidaknya: seberapa sehatkah yang ingin kukonsumsi kali ini?

Bebas elemen 3P

Makanan dan atau minuman sehat, setidaknya adalah yang minim, atau bebas dari 3P (pemanis, perasa, pewarna). Mengapa? Gula adalah perusak organ tubuh yang paling nyata. Jika dikonsumsi secara berlebihan dan berkepanjangan, bahkan dampaknya sudah pasti mengganggu kesehatan kita. Bahkan tidak mustahil dapat mempengaruhi perilaku kita.

Di sinilah peran orangtua, kaum dewasa yang cerdas diperlukan. Artinya setiap orangtua dipanggil untuk membimbing, mengajari, membiasakan agar anaknya bisa dan biasa mengkonsumsi makanan dan minuman sehat.

Orangtua perlu mengarahkan, mengajari bahkan kalau perlu melarang anak, cucu untuk mengkonsumsi produk makanan atau minuman yang tidak atau kurang sehat. Meskipun mungkin anak senang mengkonsumsinya atau gemar sekali pun, orangtua harus cerdas dan tegas. Ketegasan orangtua dalam hal ini amat diperlukan demi kualitas generasi bangsa kita nanti.

Orangtua harus tahu bahwa ketika anak masih kecil, sebetulnya anak siap dan bisa makan minum, tanpa peduli rasa (enak) atau tidak. Ini yang mesti dibiasakan. Artinya, biasakan anak diberi makan-minum yang tawar atau plain saja. Yakni tanpa garam tanpa gula pun tetap akan disantap. Jadi jangan sampai anak dari kecil justru biasa mengkonsumsi 3P secara berlebihan.

Memilih dan mengkonsumsi jenis makan-minuman yang baik dan sehat

Sayangnya, banYak orangtua, termasuk anak-anaknya yang konsumtif. Tanpa inisiatif untuk sekedar bertanya, baik/burukkah, sehat tidakkah makanan/minuman yang digemari anak/cucuku itu?

Bukan hanya karena anak senang atau doyan mengkonsumsinya, makan anak dibiarkan. Karena anak doyan, lantas anak diikuti, dituruti saja kemauannya. Itu jelas berbahaya, untuk kesehatan tubuh anak tersebut, kini dan nanti.

Mengapa?

Bagi kebanyakan orang, terutama bagi anak-anak, yang menjadi pemicu adalah 3P.

  • Pemanis jelas terkait dengan kandungan gulanya.
  • Perasa atau penyedap rasa terkait dengan bahan-bahan yang berlawanan dengan kesehatan tubuh.
  • Pewarna, sudah ada banyak contoh bahwa pewarna itu sengaja ditambahkan, direkayasa demi membuat konsumen tertarik. Tak peduli apakah itu pewarna makanan-mimuman atau bukan. Ada juga yang diduga pewarnanya menggunakan bahan kimia untuk mengelabuhi konsumen. Ada semangka merah menyala, ternyata ditambahkan pemanis dan pewarna merah. Pisang dibuat tampak kuning indah, ternyata karena dicelupkan dalam larutan kimia tertentu. Dlsb.

Untuk menguji sehat tidaknya makan-minuman, sebenarnya tanda dan cirinya sederhana. Waspadai makana dan minuman yang warnanya mencolok, dan rasanya berlebihan alias tidak wajar. Misalnya “wah enak sekali” ini.

Sebab rasa enak tersebut biasanya diolah dengan kandungan gula, atau bahkan pemanis, perasa/penyedap, serta pewarna yang kurang -kalau bukan tidak- sehat ? Tidak sehat karena produk tersebut diproses dengan menggunakan bahan yang secara ilmu kesehatan tidak diijinkan. Bahasa awamnya, tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Ketika saya sedang menyiapkan tulisan ini, saya mendapat kiriman WA yang berisi cerita tentang seorang anak SMA -usia 18 tahun- sudah harus cuci darah seminggu 3x. Alias ginjalnya sudah tidak berfungsi lagi. Konon karena dari kecil, ia suka minuman-minuman manis dan tak pernah minum air putih karena ia tak suka air.

Mengkonsumsi makanan minuman yang kandungan gulanya tinggi sungguh perkara serius dan berbahaya bagi kesehatan generasi bangsa kita mendatang. Konon karena konsumsi gula/pemanis yang berlebihan wujud kokretnya dapat berupa antara lain sbb:

  • Di masa kanak-kanak wujudnya berupa anak cenderung hiper aktif atau malah ADHD, dll. Maka jika anak/cucu Anda berperilaku berlebihan, jangan bangga dulu, tolong dicek apa dia tidak mengkonsumsi gula berlebihan dan berkepanjangan?
  • Di masa dewasa, bentuknya ia berpotensi sakit jantung, ginjal, caries gigi, lemak hati, darting, dll
  • Di masa tua bentuknya bisa alzheimer, cepat pikun, dll.

Coba tengok sebentar ke tempat-tempat belanja di sekitar Anda, betapa banyak dus pembungkus makanan-minuman. Dan semua itu berapa kandungan gula yang akan kita atau anak-anak kita konsumsi?

Bayangin berapa jumlah gula yang kita, orang Indonesia konsumsi. Yang lebih memprihatinkan saya adalah bahwa makanan-minuman yang sama juga disajikan untuk amak-anak kita. Artinya, anak-anak generasi penerus penduduk negeri ini, sejak dini sudah menerima di dalam tubuhnya kandungan gula tinggi. Akibatnya, jangan heran kalau pada masa dewasa nanti, mereka sudah berpotensi menyimpan aneka penyakit.

Last but not least
Dalam bahasa Latin ada pepatah “Mens sana in corpore sano”. Jiwa yang sehat terdapat di dalam tubuh yang sehat. Artinya, tak mungkin kita dapat berpikir sehat, jernih dan mutu, jika tubuh kita tidak sehat. Kita pun sudah tidak dapat berpikir, ketika kita sedang sakit gigi. Maka kesehatan tubuh itu penting.

Pertama, mulailah beri makan minum yang sehat sejak anakmu masih bayi. Berilah anakmu ASI, bukan sufor pada anakmu. Sebab dalam ASI tak mungkin mengandung 3P.

Kedua, kurangi, batasi, setidaknya awasi apa yang gemar dikonsumsi anak cucumu.

Jika generasi babgsa kita tidak sehat, maka negeri ini akan dikuasai oleh siapa pun lebih sehat. Tanggungjawab kita orangtua adalah menyiapkan generasi yang lebih sehat demi kebaikan sesama dan dunia.

Jika Anda berkenan dengan tulisan ini, dan ingin membagikannya, monggo silakan. Terimakasih.
Jika Anda berkenan tergerak hati untuk menanggapi goresan ini, kami tunggu dengan senang hati. Terimakasih sebelumnya.
H 240408 AA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here