Paus Johannes XXIII, Relevansi Spiritualitasnya bagi Pembinaan Para Frater Calon Imam Diosesan

0
138 views
Mencari relevansi pemikiran, hidup dan spiritualitas Paus Johannes XIII bagi pembinaan para frater calon imam diosesan di Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII Malang. (Ist)

SEMINARI Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII adalah rumah bersama bagi para frater calon imam diosesan (praja) dari 10 keuskupan.

Delapan di antaranya keuskupan-keuskupan di seluruh Kalimantan. Dua sisanya adalah Keuskupan Malang dan Keuskupan Denpasar.

Paus Johannes XXIII

San Giovanni XXIII tidak lain adalah Paus Johannes XXIII yang menggulirkan Konsili Vatikan II.

Karya dan hidup Paus San Giovanni XXIII serta relevansinya bagi pembinaan ongoing formation imam atau pembinaan calon imam menjadi dasar dipilihnya nama paus ini  sebagai pelindung seminari tinggi interdiosesan di Malang.

Kita memiliki seorang pastor bonus yang dapat dijadikan teladan, panutan, dari setiap frater calon imam diosesan.

Setiap kali mempelajari hidup seorang kudus, khususnya gembala umat, kita mengkonfrontasikannya dengan harapan dan idealisme Gereja mengenai imam dan calon imam.

Moderator webinar Fr. Alfredo Kevin.

Dokumen tentang formatio

Ada banyak sekali dokumen Gereja mengenai imam dan pembinaan calon imam seperti Optatam Totius dari Konsili Vatikan II, Pastores dabo Vobis dari Yohanes Paulus II, kemudian dari Kongregasi untuk Klerikus Ratio Fundamentalis Institutionis Sacerdotalis.

Dokumen-dokumen tersebut menjadi rujukan utama. Sementara itu, dari Orang Kudus -khususnya gembala umat diosesan/praja- kami melihat hidup doa, spiritualitas, kebiasaan, pandangan, kata-kata, pengajaran, gaya dialog, dan gaya berkomunikasinya yang kami anggap selaras dengan harapan dan idealisme Gereja.

Memang pasti selaras, tetapi apakah kehidupan, karya hidup orang kudus itu cocok untuk ditiru?

Alasannya bahwa tidak setiap santo bisa direproduksi kembali ke dalam diri. Setiap orang tidak mungkin mereproduksi berbagai macam santo-santa yang diidolakan oleh karena situasinya berbeda, kepribadian yang berbeda, latar belakang, pendidikan, mentalitas, kulturnya pasti berbeda.

Paus Johanes XXIII sendiri mengalami sikapnya yang berganti-ganti santo yang ingin beliau teladani hingga pada akhirnya menemukan santo yang paling cocok untuknya.

Itulah dasar mengapa calon imam praja di Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII dan juga para imam alumni perlu mengenal lebih dalam sang pelindung untuk menghayati panggilannya masing-masing melalui teladannya.

Program webinar untuk menggali spiritualitas hidup Paus Johannes XXIII dan relevansinya bagi formatio para frater calon imam diosesan.

Buku tentang Paus Johannes XXIII

Buku Pernak-Pernik Ajaran dan Keutamaan San Giovanni XXIII membahas jejak-jejak atau perjalanan pelayanan.

Mulai dari kelahirannya  tanggal 28 November 1881 di desa Sotto II Monte (Keuskupan Bergamo) sebagai anak keempat dari 13 orang bersaudara dari pasangan Giovanni Battista Roncalli dan Marianna Mazzola.

“Seandainya Paus Johanes XXIII ini orang Jawa dan kalau merupakan anak ke-4 dalam keluarga, bisa saja mungkin namanya Catur,” canda Romo Tjatur mencairkan suasana.

Pada umur 11 tahun, beliau masuk Seminari Menengah milik keuskupan setempat.

Itulah kali pertama ia melakukan perjalanan jauh dari rumahnya, di antara kedua orang tuanya dan pamannya.

Sementara kakak adiknya melepas di depan rumahnya.

Empat tahun setelah masuk Seminari, Giovanni mulai menulis buku harian yang dia beri judul Giornale dell’Anima (Journal of a Soul).”

Buku harian ini ditulis dengan tekun hingga tahun 1963 (4 tahun setelah menjadi Paus dan sebelum wafat).

Penggagas dan pelaksana hasil-hasil Konsili Vatikan II: Paus Johannes XXIII dan Paus Paulus VI. (Ist)

Pada awal tahun 1901, Giovanni dikirim ke Roma untuk menjadi seminaris dan mahasiswa di Seminari Roma untuk mengambil kuliah teologi. 

Tahun 1904, Giovanni ditahbiskan sebagai imam pada usia 23 tahun.

Hukum Gereja saat itu menetapkan 24 tahun minimal sehingga kemungkinan Giovanni diusahakan mendapat dispensasi satu tahun dari usia minimal.

Karena pada usia 20 tahun, ia sudah menyelesaikan studi filsafat dan teologi sehingga sudah layak ditahbiskan, namun terlalu jauh jarak antara umur untuk memenuhi usia minimal itu, sehingga ada masa tunggu.

Pada masa tunggu itulah, Giovanni disuruh belajar lanjut di Roma. Itu juga masih membutuhkan satu tahun dispensasi.

Hal ini mau memberitahukan bahwa seminaris zaman dahulu memang fokus pada imamat berbeda dengan situasi sekarang, banyak panggilan terlambat, itu pun menikmati masa pembinaan calon imam berlama-lama.

Sehingga saat ini belum ada permohonan dispensasi karena belum memenuhi umur minimal untuk ditahbiskan. Karena saat ini umur bisa melampaui angka minimal untuk ditahbisan.

Itulah alasannya, mengapa dahulu orang sangat mencintai panggilannya dan sangat fokus.

Dalam refleksinya 10 tahun setelah menjadi imam, Paus yang bernama kecil Roncalli ini sangat mensyukuri tahbisan imamatnya.

Tetapi ia menyesali bahwa dirinya merasa belum berbuat apa-apa untuk Gereja.

Ia mengatakan bahwa banyak orang lain seperti saya, dengan segala anugerah, bakat, keterampilan, kemampuan yang ada pada saya mungkin sudah banyak. Tetapi ia merasa belum melakukan banyak hal untuk gereja.

Kalau Roncalli yang ditahbiskan pada usia 23 tahun sudah merasa menyesal dan merasa tidak berbuat banyak untuk Gereja, bagaimana dengan para calon imam yang berlama-lama di seminari dan tidak fokus dengan pembinaan, tidak ingin segera ditahbiskan kebanyakan karena kesalahan sendiri?

Apa yang didoakan kepada Tuhan, sesudah menjadi imam nanti?

Pasti doa penyesalannya jauh lebih hebat dari Paus Johanes XXIII, karena kalau sudah tua jadi imam dan belum berkarya banyak, mungkin sudah pensiun kelak. Maka dari itu, jangan membuang-buang waktu untuk mempersembahkan diri bagi Tuhan dengan cara studi yang baik dan serius.

Karir sebagai diplomat

Roncalli sangat digadang-gadang oleh keuskupannya maka ia diangkat menjadi sekretaris uskup karena pendidikan tingginya sudah lengkap, doktor teologi, dan memiliki ijazah yudisprudensi Gereja.

Ia juga merangkap sebagai dosen di Seminari Tinggi Bergamo mengajar Sejarah Gereja, Partologi dan Apologetika, dan juga sebagai direktur spiritual.

22 Agustus 1914, Uskup Bergamo, Mgr. Giacomo Maria Radini Tedeschi wafat dalam pelukan Don Angelo (panggilan Giovanni saat menjadi imam). Saat itu ia mendampingi uskupnya sebagai sekretaris hingga sang uskup meninggal dunia.

Pada 18 Januari 1921, ia dipercayai untuk tugas pelayanan di Kongregasi untuk Evangelisasi Bangsa-Bangsa di Roma, sebagai Ketua “Dewan Pusat untuk Italia dari Karya Misi Kepausan”.

Kemudian ia juga merangkap sebagai dosen Patristik di Pont. Ateneo Lateranense.

Pada 3 Maret 1925, Roncalli memulai kiprahnya demi ketaatan terhadap Paus di Roma, ia memulai pelayanannya sebagai Diplomat Vatikan.

Ini bukan pekerjaan yang mudah, karena menjadi diplomat bagi itu, suasana relasi antaranegara sedang panas dingin pada Perang Dunia I.

Pada 19 Maret 1925, ia menerima tahbisan Uskup dari tangan Kardinal Giovanni Tacci (Prefek Kongregasi untuk Gereja Ritus Timur).

Pada 26 September 1931, ia ditunjuk menjadi delegatus apostolik di Bulgaria dan tiga tahun kemudian dipindahkan ke delegasi apostolik di Turki dan Yunani, dan dipilih menjadi Administrator Apostolik Konstatinopel.

Tahun 1943 saat Perang Dunia II, saat sebagai diplomat Vatikan, ia pergi ke kedutaan Uni Soviet di Istambul untuk mencari kabar mengenai tawanan perang.

Dengan menggunakan visa transit dari delegasi apostolik, pada 22 Mei 1943, ia berhasil menyelamatkan banyak orang Yahudi yang akan dikirim ke kamp-kamp konsentrasi.

Januari 1945 ia mulai bertugas sebagai Nuntio Apostolik di Paris (Perancis). Memberi ceramah di UNESCO sebagai observer Tahta Suci pada 11 Juli 1951.

Ia diangkat menjadi Kardinal oleh Paus Pius XII pada 12 Januari 1953, dan 15 Januari 1953 kemudian diangkat sebagai Batrik Venezia.

Pada 9 Oktober 1958, Paus Pius XII wafat.

Santo Paus Johannes XXIIII.

Jadi Paus berumur 77 tahun

Berangkat dari Venezia menuju Roma, pada 12 Oktober 1958, ia mengikuti konklaf dalam rangka memilih seorang Paus baru. Di saat ini juga, ibunya meninggal dunia sementara itu ia harus mengikuti konklaf.

Kemudian ia terpilih sebagai Paus pada 28 Oktober 1958 dengan menggunakan nama Yohanes XXIII (Giovanni XXIII).

Pada usia 77 tahun, orang-orang mengira bahwa ia hanya menjalankan administrasi harian karena usia yang sudah tua dan kesehatan yang tidak cukup bagus.

Tetapi selama 5 tahun itu, ia ternyata menjadi aktor pembaru gereja melalui Konsili Vatikan II kelak.

Tiga program

Setelah menjadi Paus, Giovanni XXIII mengumumkan tiga program besar:

  • Mengadakan sinode pertama Keuskupan Roma.
  • Menggelar Konsili ke-21 untuk Gereja Universal.
  • Memperbaharui Hukum Gereja edisi terbit 1917.

Ini adalah langkah awal untuk memperbarui gereja secara doktrinal, teologis pastoral lewat Konsili Vatikan II dan pembaruan secara yuridis dengan membaharui Hukum Gereja.

Dokumen-dokumen konsili yang terbit setelah tahun 1965 setelah ditutup, sementara revisi Hukum Gereja masih membutuhkan waktu hampir 20 tahun (1983).

Sambil berencana membuka konsili, Paus juga disibukkan oleh Perang Dingin dan Perang Panas setelah Perang Dunia I dan II, situasi dunia masih belum sungguh damai.

Maka, selain mempersiapkan tiga proyek besar tersebut, ia juga sibuk menyuarakan pesan-pesan damai untuk pemimpin-pemimpin bangsa yang sedang perang dingin terutama blok Uni Soviet dan blok Amerika Serikat.

Ensiklik pertama berjudul Ad Petri Cathedram tentang program kepausannya.

Santo Yohanes Maria Vianney

Pada 1 Agustus 1959, ia mengeluarkan Ensilkik Sacerdotii Nostri Primordia dalam rangka 100 tahun wafatnya St. Yohanes Maria Vianney, santo yang sangat dikagumi Yohanes XXIII.

Paus mempromosikan santo ini sebagai teladan hidup para imam Gereja Katolik di seluruh dunia; baik imam-imam diosesan dan imam-imam religius yang melakukan reksa jiwa-jiwa umat.

Ia juga mengeluarkan Ensiklik Grata Recordatio mengenai devosi Rosario dan Ensiklik misioner yaitu Princeps Pastorum dalam rangka memperingati 40 tahun diterbitkannya Ensiklik Maximum Illud oleh pendahulunya, Paus Benediktus XV.

Program-program tersebut dirilis pada awal tahun 1960 yaitu perayaan Sinode pertama Keuskupan Roma.

Mater et Magistra dan Rerum Novarum

Pada 15 Mei 1961, ada ensiklik sosial yaitu Mater et Magistra (tonggak sejarah dokumen (Ajaran Sosial Gereja) dalam rangka ulang tahun ke-70 Rerum Novarum dari Paus Leo XIII.

Di hari Natal, pada 25 Desember 1961 pukul 11 siang waktu Roma, Paus Yohanes XXIII mempromulgasikan Surat Apostolik Humanae Salutis.

Suasana sidang Konsili Vatikan II (Ist)

Konsili Vatikan II

Lalu pada tahun 1962, Paus menetapkan awal dilangsungkannya Konsili Vatikan II.

Sementara pada 6 Januari 1962, Paus mengerluarkan seruan apostolik Sacrae Laudis yang ditujukan kepada para klerikus untuk mendaraskan ofisi ilahi dengan intensi khusus bagi kelancaran persiapan dan pelakasnaan Konsili.

Paus kemudian mengeluarkan motu proprio berjudul Consilium dan menetapkan tanggal 11 Oktober sebagai awal Konsili pada 3 Februari 1962.

Dalam mempersiapkan konsili, Paus mengajak seluruh Gereja untuk berdoa dan bermatiraga yang kuat demi keberhasilan konsili melalui Ensiklik Poenitentiam Agere pada 1 Juli 1962.

Tidak hanya itu, ia juga mengeluarkan surat kepada kaum religius Gereja Katolik di seluruh dunia untuk memanjatkan doa istimewa bagi konsili.

Selain itu, Paus juga melakukan beaneka ziarah seperti berdoa di depan makan para Paus pendahulunya di ruang bawah tanah Basilika Vatikan (23 September 1962), berziarah ke Loreto dan Assisi (4 Oktober 1962), dan pada 7 Oktober 1962, Paus Yohanes XXIII menutup serangkaian penitensi yang dilakukan umat Roma dalam rangka mendukung penyelenggaraan konsili di Basilika Lateran.

Selanjutnya, pada 11 Oktober 1962, Konsili Vatikan II resmi dibuka. Paus menyambut para wartawan yang datang dari seluruh dunia ke Roma untuk meliput sidang konsili.

Ia juga menyambut para pengamat dari komunitas-komunitas non-Katolik dan para tamu dari Sekretariat untuk Persatuan Umat Kristen pada 13 Oktober 1962.

 Pada 25 Oktober 1962, Paus mendesak pemimpin dunia untuk melakukan tindakan yang bijak demi perdamaian dunia di mana saat itu terjadi krisis Karibia.

Pacem in Terris untuk redam Perang Dingin

Usaha-usaha Paus Yohanes XXIII bagi perdamaian dunia mendapatkan penghargaan dari banyak pihak salah satunya penghargaan internasional untuk perdamaian dari Eugenio Balzan Foundation pada 1 Maret 1963.

Ia juga mengeluarkan Ensiklik Pacem in Terris untuk meredam Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet yang mengancam munculnya Perang Dunia III pada 11 April 1963. I

a juga memimpin upacara adorasi salib pada Jumat Agung, 12 April 1963 di Basilika Santo Petrus.

Mulai sakit

Saat itu ia tengah mengalami sakit keras, namun masih tetap melayani dengan penuh cinta. Sehingga, untuk terakhir kalinya ia turun ke Piazza San Pietro untuk melakukan audiensi publik pada 15 Mei 1963. Meskipun tampak pucat, ia tetap tampil dengan gembira dan penuh semangat.

Pada 17 Mei 1963, Paus Yohanes XXIII terakhir kali memimpin misa dan selanjutnya hanya mengikuti misa dari tempat tidur, sementara misa dipimpin oleh sekretarisnya.

Pada puncaknya, tepatnya 30 Mei 1963, Paus Yohanes XXIII mengalami rasa sakit yang luar biasa. Umat mulai memadati Piazza San Pietro untuk mengikuti misa yang dipimpin oleh Kardinal Traglia untuk memohon pertolongan ilahi bagi Paus yang sedang sakit keras.

Misa itu dilaksanakan pada 3 Juni 1963 pada pukul 17.00 waktu Roma. Di antara yang hadir, banyak dari kalangan non-Katolik, namun semuanya bersatu hati dan ingin berpartisipasi dalam rasa sakit yang diderita oleh Paus.

Ketika misa berakhir dengan kata-kata Ite Missa est, Paus Yohanes XXIII pun wafat. Jenazah disemayamkan di dalam Basilika San Pietro pada 4 Juni 1963 dan dimakankan di kompleks makan Paus di bawah Basilika Vatikan pada 6 Juni 1963.

Dalam proses yang panjang, Paus Johanes Paulus II memberi gelar beato kepada Paus Johanes XXIII pada 3 September 2000. Dan pada 27 April 2014, Paus Fransiskus memberi gelar Santo pada Paus Yohanes XXIII dan juga untuk Paus Johanes Paulus II.

Materi paparan tentang sejarah hidup Paus Johannes XXIII.

Relevansinya untuk para frater calon imam diosesan

Selanjutnya, Romo Tjatur memberi simpulan atau semacam benang merah pembinaan intelektual yang perlu dimiliki oleh para calon imam dalam meneladani Santo Yohanes XXIII atau San Giovanni XXIII.

Dilihat dari latar belakang panggilan, Paus Johanes XXIII masuk seminari menengah dengan moda pendidikan dasar yang kurang bagus, namun ia mengejar ketertinggalan terutama matematika, pelajaran yang sangat tidak disukainya.

Bahkan saat di seminari menengah, Paus Yohanes XXIII mengenang masa lalunya: “Betapa aku dulu belajar dengan keras dan displin yang tidak umum dan tidak biasa”.

Berkat kerja kerasnya dalam studi, setelah dua tahun di seminari menengah, ia sudah masuk dalam kelompok juara kelas dan sering menikmati diskon ujian akhir.

Selain itu, ia pulang kampung hanya selama liburan panjang saja dan lebih banyak mengisi waktu dengan membaca buku dan menulis sembari membantu orang tua bekerja di ladang.

Selama di seminari, biaya studinya dibantu oleh tuan tanah di mana kedua orang tua Roncalli bekerja sebagai buruh tani.

Atas hasil studinya yang cemerlang, formator menghadiahinya ziarah ke Roma, Assisi dan Loreto.

Ia sangat tekun dalam mempelajari banyak, selain cerdas ia juga kritis.

Pada usia 20 tahun, Roncalli sudah menyelesaikan semua studi filsafat dan teologi. Sebenarnya ia sudah layak untuk ditahbiskan, karena usianya belum mencapai 24 tahun, tahbisannya diundur kemudian ia diutus ke Roma untuk studi doktoral.

Maka dari itu, kata Rektor Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXII Malang Romo Tjatur, starting point calon imam mirip sekali dengan Roncalli.

Ia berasal dari keluarga miskin kurang gizi, pendidikan dasar jauh di bawah rata-rata. Pada ending point dan output bisa terjadi hal yang berbeda.

Semua itu disebabkan oleh motivasi dan cinta yang kuat akan panggilan imamatnya.

Maka dari itu sangatlah tepat bahwa Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII memilih Paus yang baik hati ini sebagai pelindung. Lantaran  spiritualitas yang luar biasa; terutama dalam pelayanan penuh sukacita, rasa cinta kasih pastoral serta mewartakan iman secara aktual dan kontekstual.

Maka dari itu, para calon imam diosesan diharapkan untuk meneladani San Giovanni XXIII dengan kesungguhan hati terutama dalam semangat belajar, cinta pada imamat, dan semangat pastoral yang penuh kasih.

Romo Alphonsus Tjatur Raharso Pr, dosen Hukum Gereja STFT Widya Sasana Malang.

Pemateri webinar.

Mengambil tema “Spiritualitas San Giovanni XXIII bagi Para Frater dan Imam Diosesan”, program ini dipaparkan oleh Romo Alphonsus Tjatur Raharso Pr.

Lahir: Lawang, 30 Desember 1962.

Pendidikan:

  1. 1974: Lulus SDK St. Fransiskus Lawang.
  2. 1977: Lulus SMPK St. Yosef Malang.
  3. 1989: Tamat STFT Widya Sasana Malang.
  4. 5 Oktober 1989: Tahbisan imamat sebagai imam diosesan Keuskupan Malang.
  5. 1993: Lulus Licensiat Hukum Gereja dari Univ. Kepausan Urbaniana Roma.
  6. 2001: Lulus Doktoral Hukum Gereja dari Univ. Kepausan Urbaniana Roma.

Karya:

  1. 1989-1991: Pastor Pembantu Paroki St. Maria Diangkat ke Surga Malang.
  2. 1995-1998: Wakil Rektor Collegio Intern. San Paolo Apostolo Roma.
  3. 2001-2019: Rektor dan formator Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII Malang.
  4. Sejak 2019: Vikaris Jenderal Keuskupan Malang.
  5. Sejak 2002: Dosen Hukum Gereja di STFT Widya Sasana Malang dan di STP-IPI Malang
  6. Sejak 2002: Vikaris Yudisial Keuskupan Malang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here