Pelita Hati: 31.07.2020 – Belajar Menghargai

0
766 views

Bacaan Matius 13:54-58

Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.

Sahabat pelita hati,

AKHIR hidup Yesus diwarnai dengan penolakan yang sangat hebat dan dahsyat yang berujung pada hukuman salib dan kematian-Nya. Namun jauh sebelum itu sejatinya Yesus telah mengalami penolakan bahkan di kampungnya sendiri yakni Nasaret, sebagaimana dikisahkan dalam pelita sabda hari ini. Dan karena penolakan serta ketidakpercayaan mereka Tuhan tidak banyak mengerjakan banyak mujizat di Nazaret.

Sahabat terkasih,

Salah satu prasarat terjadinya karya mujizat Tuhan adalah iman atau percaya. Sikap orang-orang Nazaret yang menolak Yesus karena tahu bahwa Dia hanyalah anak Yusup si tukang kayu ini hendaknya menjadi bahan permenungan bagi kita. Setidaknya ada dua hal yang bisa kita renungkan:

Pertama, percaya kepada Tuhan seutuhnya adalah segalanya. Beriman berarti menyandarkan hidup dan harapan kita seutuhnya kepada-Nya. 

Kedua, kita diajarkan untuk menghargai dan menghormati sesama. Kita tak boleh mengecilkan sesama, merendahkan apalagi menghinanya hanya karena latar belakang hidupnya. Tabiat buruk orang Nazaret ini juga mengingatkan kita agar memiliki rasa hormat terhadap kelebihan dan kemampuan orang atau sesama. Kita menghormati dan menghargai orang bukan karena kedudukan atau asal muasal tetapi karena kemampuan dan integritasnya. Belajarlah untuk menghargai agar kita  juga dihargai. 

Jogjakarta kota pariwisata,
kota pelajar dan kota budaya.
Mujizat-Nya sungguh nyata,
bagi yang setia dan percaya.

dari Banyutemumpang, Sawangan, Magelang,

Berkah Dalem Rm.Istoto

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here