Program Dukung Panggilan (DuPang) untuk SeminariS: Dua Tahun Berjalan, Makin Banyak Umat Terlibat Berdonasi (1)

0
408 views
Ilustrasi: Para seminariS dari Seminari Mertoyudan dalam sesi naik pentas kelompok paduan suara bernama Canis Choir di Gereja Katedral Jakarta, Juni 2018. (Dok. Panitia Canis Choir)

INI diluncurkan dua tahun lalu. Intensinya adalah respons keprihatinan atas fakta sejumlah orangtua seminariS yang tidak mampu memenuhi kewajibannya membayar SPP da  Uang Asrama kepada Seminari di mana anaknya bersekolah dan tinggal di asrama.

Merespon kenyataan tersebut sekaligus komitmen bisa melahirkan sebuah prakarsa mendukung panggilan imam di kalangan remaja lelaki, maka kemudian muncullah Program Dukung Panggilan alias DuPang.

Besutan mantan Jesuit Indonesia

Program DuPang ini digagas dan dirintis oleh sejumlah inisiator, para alumni Novisiat SJ Girisonta. Para mantan Jesuit Indonesia yang sejak awal melibatkan diri dan serius berkomitmen membidani Program DuPang ini adalah Mathias Hariyadi, Irwan Setiabudi, Aloysius Wiratmo, MC Sunarto, Bambang Andianto, plus dua orang ibu yang punya kepedulian sama yakni Ping dan Bernadeth.

Inisisasi program ini secara kebetulan dilontarkan penulis pada kesempatan sebuah family gathering beranggotakan empat orang di kawasan Bintaro, Tangsel. Beberapa waktu kemudian, gagasan ini dilontarkan ke forum pertemanan antara alumni Novisiat SJ Girisonta melalui Paguyuban Sesawi.

Responsnya baik, sehingga prakarsa ini semakin mendapat dukungan lebih luas dari anggota Paguyuban Sesawi. Maka, mulai terlibatlah Bambang Andianto dan Aloysius Wiratmo.

Nama yang terakhir itu kemudian didapuk untuk segera merumuskan lebih jelas lagi prosedural pemberian donasi dan besaran donasi, sementara penulis mencari peluang melakukan crowded  fund raising melalui Sesawi.Net.

Merumuskan konsep dan prosedur

Waktu bergulir cepat dan akhirnya lagi-lagi dalam sebuah pertemuan informal di kawasan Slipi, Jakarta Pusat, gagasan menggulirkan Program DuPang semakin riil untuk bisa segera diwujudkan.

Dalam pertemuan di bawah rindang pepohonan dan temaramnya lampu kolam, para penggagas itu merumuskan konsep, prosedur, dan target audiensnya.

Ikut bergabung dalam pertemuan informal ini adalah Irwan Setiabudi, Bambang Andianto, MC Sunarto, Aloysius Wiratmo, Ping, dan penulis.

Salah satu keputusan penting yang dilontarkan dalam pertemuan di Slipi ini adalah besaran nominal yang bisa diberikan kepada sejumlah orangtua seminaris. Kriterianya adalah mereka  yang mengalami kesulitan finansial untuk melakukan kewajiban bayarnya kepada pihak Seminari: melunasi SPP dan Uang Asrama anaknya (baca: SeminariS).

Program Dukung Panggilan (Dupang) untuk SeminariS, Sejauh Mana Perlu? (3)

Rapat itu juga memutuskan, Program DuPang hanya akan membantu maksimal 50% dari kewajiban yang mesti ditanggung orangtua dalam pembayaran SPP dan Uang Asrama kepada pihak Seminari.

Sebagai pilot project Program DuPang ini, kami juga memutuskan mantap memilih dua seminari menengah sebagai target audiens penerima bantuan keuangan.

Format bantuan kami dapatkan setelah kami mengontak Rektor dan Minister (pastor yang bertanggugjawab soal keuangan dan urusan rumah tangga Seminari) untuk mendapatkan data aktual tentang siapa saja yang layak mendapat bantuan.

Dari mana donasi amal itu didapat?

Data lengkap sudah didapatkan, lalu muncullah persoalan penting lainnya: Dari mana dana donasi amal itu bisa kami dapatkan?

Untunglah, beberapa alumni Novisiat SJ Girisonta dalam Paguyuban Sesawi akhirnya merespon cepat mengisi kebutuhan ini.

Niat baik itu muncul dalam sebuah pertemuan informal di Kampus Unika Atma Jaya di Jakarta Selatan di mana hadir Wiratmo, Bambang Andianto, Sunarto, Ping, Winoto Doeriat, dan penulis.

Pertemuan para inisiator itu akhirnya menyodorkan solusi positif. Sejumlah mantan Jesuit dengan senang hati bersedia mengisi “kas awal” gerakan donasi agar  Program DuPang ini  bisa berjalan. Mereka merogok kocek dari kantong pribadi masing-masing.

Makin tersruktur

Kini dan seiring dengan berjalannya waktu, prosedur crowded fund raising dan jangkauan target audiens penerima Program DuPang ini semakin mapan dan meluas. Hal ini terjadi, setelah public campaign dan personal approach yang mulai dilakukan oleh Asmi Arijanto.

Alumnus Seminari Mertoyudan tahun 1981 ini sejak pertengahan 2017 mulai  ikut melibatkan diri mengurus Program DuPang.

Hasilnya membaik. Kini, donasi amal hasil crowded fund raising ini semakin berjalan dengan lebih stabil dan kian mapan dengan tingkat kepercayaan publik yang besar kepada para anggota penggagas dan pengelolanya.

Guna memenuhi kriteria transparansi publik dan pengelolaan keuangan yang lebih mandiri, maka “pekerjaan” administrasi Program DuPang ini kemudian dilakukan oleh Yayasan Sesawi, lembaga nirlaba bentukan para mantan Jesuit ini.

Di sini kemudian masuk Yayang dan Tika yang mengampu tugas membuat laporan berkala rekap penerimaan donasi dan laporan diseminari penyaluran dananya.

Laporan keuangan perolehan donasi dan diseminari bantuan amal dari umat Katolik itu kami rilis dalam lanjutan berita ini. (Berlanjut)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here