Renungan Harian 06 Juni 2020: Shopping

0
124 views
Ilustrasi - Kapak by ist
  • Bacaan I: 2Tim. 4: 1-8
  • Injil: Mrk. 12: 38-44 

DI suatu senja, di desa Karang Kadempel tempat tinggal Semar Bodronoyo tampak meriah. Ki Lurah Semar sedang menerima tamu ketiga anaknya, Gareng, Petruk dan Bagong.

Setelah saling berkabar satu sama lain, Semar bertanya kepada Bagong yang akhir-akhir ini sering kali menghilang tidak ketahuan rimbanya. Belum sempat Bagong menjawab, Petruk sudah menyeletuk:

Petruk: “Pak, sekarang Bagong luar biasa, pengetahuannya tentang kehidupan amat luas. Pengetahuan tentang Kitab Suci hebat, Pengetahuan tentang spiritualitas keren, pengetahuan tentang olah batin dan olah rasa mantap, pengetahuan tentang ajaran-ajaran leluhur joss

Semar: “Heeeeh elok tenan. Apakah itu sebabnya kamu sering menghilang ngger?”

Bagong dengan sikap malu-malu pongah menjawab.

Bagong: “Betul Pak. Saya meguru, saya ikut kumpulan-kumpulan. Saya banyak mendengarkan khotbah-khobah dan pengajaran para pandita yang hebat dan menarik. Saya banyak belajar dari guru-guru spiritual yang mumpuni. Saya ikut seminar-seminar tentang olah batin dan olah rasa dari guru-guru meditasi yang hebat. Pokoknya mereka keren-keren dan menarik”

Semar: “Weh, weh, weh kok ya hebat tenan kamu ngger. Berapa lama kamu ikut orang-orang hebat itu?”

Bagong: “Wah ya tergantung Pak. Kalau menurut saya menarik ya lama, tapi kalau tidak menarik ya saya tinggal dan pindah ke tempat lain.”

Semar: “Heeeeh begitu. Terus yang kamu jadikan ukuran menarik dan tidaknya apa ngger?”

Bagong: “Ya yang memenuhi keinginan saya, yang menghibur saya, yang membuat saya gembira.”

Semar: “Dengan semua itu mengubah hidupmu tidak ngger?”

Bagong: “Ehmmmmm……” Bagong garuk-garuk kepala

Semar: “Wah, wah ngger, kamu ini sekarang tersesat dalam pusaran ngelmu. Ilmu kehidupan itu bukan perkara menarik, menyenangkan dan menghibur. Ilmu itu berguna untuk menerangi hidup agar hidupmu tidak tersesat. Ilmu harus menuntunmu mengarahkan hidup pada Yang Maha Kuasa dan menjadikan kamu semakin welas asih ke sesamamu. jangan bangga dengan banyaknya guru, dan seminar yang kamu ikuti, dan juga jangan bangga dengan lamanya kamu belajar. Yang penting mendalamnya ilmu itu kamu pelajari dan daya ubah dari ilmu itu untuk hidupmu. Kamu itu ibarat orang yang mengumpulkan banyak gaman (senjata) tetapi semua gaman itu tumpul jadi tidak berguna atau gamannya hebat tetapi kamu tidak bisa menggunakan. Ketika saat berperang kamu mati ditumpukan senjata yang heba-hebat itu ngger.”
 
Dalam kehidupan nyata banyak Bagong-Bagong yang bangga dengan pengetahuan hanya untuk kepuasan diri. Seperti kata St. Paulus kepada Timotus: “Sebab akan datang waktunya, orang tidak dapat  lagi menerima ajaran sehat, tetapi akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran.”
 
Jangan-jangan selama ini aku bersikap seperti Bagong, memuaskan diri dengan banyak ilmu dan spritualitas untuk lari dari kebenaran diri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here