Renungan Harian 24 Februari 2021 – Bingung

0
510 views
Ilustrasi - Bingung. (Ist)


Bacaan I: Yun. 3: 1-10
Injil: Luk. 11: 29-32
 
SERING kali saya berhadapan dengan tamu yang menyampaikan berbagai macam kesulitan yang dialami dalam hidupnya. Mereka akan berbagi pengalaman pergulatan dalam menghadapi kesulitan yang dialami.

Tidak jarang mereka sungguh-sungguh tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.
 
Di saat mereka mengalami pergulatan hidup yang luar biasa itu, mereka telah mengusahakan berbagai macam cara. Juga telah berjuang dengan daya-daya sekuat kemampuan yang ada pada mereka.

Mereka juga tidak kurang dalam doa; bahkan bermatiraga, tetapi cahaya yang menuntun keluar dari kegelapan itu belum juga tampak.
 
Pertanyaan yang diajukan adalah apa tandanya bahwa Tuhan itu mendengarkan doa-doanya. Apa tandanya bahwa Tuhan itu hadir dalam kegelapan hidupnya dan menuntun keluar dari kegelapan hidupnya?
 
Pertanyaan yang amat sulit untuk dijawab dan membuat saya sendiri juga terdiam dalam kebingungan.

Tentu ada jawaban teologis spiritual yang bisa disampaikan berkaitan dengan pengalaman akan Tuhan dan kehadiran Tuhan. Akan tetapi, jawaban itu amat mudah “dimentahkan” karena mereka punya segudang pengalaman kesulitan menemukan Tuhan.
 
Suatu saat, ketika saya bersama seorang bapak mendampingi sebuah keluarga yang dalam kesulitan amat sangat, saya mengatakan bahwa seharusnya keluarga itu lebih berjuang dan semakin pasrah.

Bapak itu mengatakan kepada saya: “Romo, dalam situasi yang gelap seperti itu, semua pintu dan cara tertutup. Seluruh daya yang ada sudah habis untuk menemukan jalan keluar, serta bangun dari “kepentok-pentok.”

Kata-kata bapak itu amat membekas dalam diriku.
 
Pada saat saya berhadapan dengan umat dengan siatuasi yang amat rumit saya hanya bisa berdoa: “Tuhan berilah tanda belas kasih-Mu kepadanya.”

“Kenapa aku terjebak untuk meminta tanda juga?,” tanya saya dalam hati.

Saya sering menjadi bingung sendiri.

Apakah salah saya meminta tanda, ketika saya dihadapkan dengan orang-orang yang meminta tanda dan saya diminta menghantar mereka mengenali dan mengerti tanda itu.
 
Berhadapan dengan situasi seperti itu, saya hanya bisa menjawab bahwa apa yang telah diusahakan dan dilakukan itu luar biasa.

Saya yakin (meski selalu berjuang untuk semakin yakin) Tuhan pasti menolong dan memberi jalan keluar. Saya akan menemani berdoa dan tetap percaya pada harapan akan belas kasih Tuhan.
 
Ajaib, itu yang saya alami.

Dalam banyak pengalaman, mereka yang datang akhirnya bisa berbagi pengalaman bagaimana mereka menemukan jalan keluar, mereka merasakan bagaimana Allah hadir dan menolong meski tidak tahu tandanya seperti apa dan bagaimana.

Yng pasti mereka merasakan dituntun untuk keluar dari kegelapan hidup. Mereka merasakan bagaimana Allah dengan caranya mengirim “malaikat” bagi mereka.
 
Pengalaman mereka semakin meneguhkan saya, bahwa Tuhan mempunyai caranya sendiri untuk menuntun seseorang.

Tuhan menuntun seseorang dengan amat khas dan personal bagi setiap orang. Sering kali bagaimana tuntunan itu tidak disadari pada saat bergulat. Dan baru disadari, ketika sudah keluar dari kegelapan.

Ternyata bukan tanda yang dibutuhkan, tetapi kerelaan untuk dituntun.
 
Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Injil Lukas, Yesus mengkritik orang Yahudi yang selalu meminta tanda akan kuasa Allah.

“Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menuntut tanda, tetapi mereka tidak akan diberi tanda, selain tanda Nabi Yunus.”
 
Bagaimana dengan aku?

Apakah aku terjebak untuk meminta tanda kuasa Allah?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here