Renungan Harian 29 September 2020: Malaikat Pelindung

0
454 views
Ilustrasi - Malaikat Pelindung. (Ist)

Pesta S. Mikhael, Gabriel, Rafael Malaikat Agung
Bacaan I: Dan. 7: 9-10. 13-14
Injil: Yoh. 1: 47-51
 
HARI itu saya mendapat kejutan, kedatangan tamu. Tamu itu sahabat lama yang mungkin sudah 20 tahun tidak pernah bertemu dan tidak pernah mendengar kabarnya. Hari itu sebenarnya bukan juga sebuah niat yang disengaja oleh sahabat saya untuk mengunjungi dan bertemu dengan saya.
 
Perjumpaan yang sungguh amat menyenangkan. Karena begitu senangnya kami bisa berjumpa sehingga kami tidak sadar bahwa ada orang lain yang juga ikut dengan dia.

Saya melihat perempuan cantik yang bersama dia, spontan saya bertanya: “Ini isterimu? Akhirnya ada juga perempuan cantik yang bisa menaklukan dirimu.“

Sahabat saya tertawa mendengar pertanyaan saya, dan perempuan di sebelahnya tersenyum tersipu.

“Eh iya, kenalin Wan,” katanya. “Sori sampai lupa kalau bawa gandengan,” tambahnya.

“Dia bukan istri saya Wan, dia malaikat pelindung saya,” jawabnya.

“Ha… ha, bisa romantis juga kamu ya, keren, mantap.”

“Serius Wan, dia bukan istriku, saya masih sendiri.”

“Oh, sori. Tapi beliau calon isterimu?,” tanyaku penasaran karena mereka tampak amat mesra.

“Ehmmmm belum tahu. Kami baru bertemu lagi, setelah sekian puluh tahun”
 
“Wan, dia sungguh malaikat saya.” Katanya mencoba menjelaskan.

“Saya kenal dengan dia, 27 tahun yang lalu, ketika kami sama-sama kerja. Mungkin 6 bulan kemudian kami saling jatuh cinta. Dia cinta pertama saya, dan saya betul-betul jatuh cinta padanya. Kami bermimpi untuk membangun keluarga. Pernah saya mengajak dia menikah, tetapi sulit untuk mewujudkan karena ada perbedaan martabat antara keluargaku dan keluarganya yang menjadi penghalang. Saya pernah mengajak nekad, tetapi dia amat bijak, mengatakan tidak bisa dan mengingatkan saya tentang rasa hormat pada orangtua dan keluarga.”
 
“Setahun kemudian kami berpisah dan lost contact. Tapi Wan, rasanya cinta saya dengan dia tidak bisa hilang. Pengalaman cinta saya pada dia membuat saya mengatur hidup saya lebih baik. Satu hal yang inginkan agar lewat hidup saya dia bangga dengan saya  dan kebanggaan itu membuat dirinya bahagia.”
 
“Mungkin bagi banyak orang kedengaran sinting, tapi pengalaman cintanya dan cintaku kurasakan menjagaku agar aku hidup lebih baik, tidak neko-neko. Saya tidak tahu dia di mana dan bagaimana, tapi aku berharap kalau dia dengar tentang aku, dia tahu bahwa aku hidup baik. Aku selalu berharap bisa menemukan dia lagi, entah dia sudah berkeluarga atau belum, hanya untuk memastikan bahwa dia bahagia, dan untuk berterima kasih atas cintanya yang selalu menjaga hidupku.”
 
“Wan, aku sejak kecil diajarkan tentang malaikat pamomong (malaikat pelindung), aku selalu membayangkan malaikat itu bersayap dan melindungi aku dengan sayapnya. Setelah besar aku juga tidak tahu malaikat itu seperti apa, tetapi sekarang aku tahu, dia malaikat pelindung saya yang melindungi saya dengan cintanya. Jadi kalau aku menyebut dia itu malaikat saya, bukan soal pujian dan romantisme gombal-gombalan, tapi aku sungguh mengalami dan merasakan kalau dia malaikatku.”

Dia mengakhiri cerita dengan berseri-seri.
 
Saya ingat waktu kecil diajari ibu setiap doa malam dan mau pergi menyisipkan doa “Malaikating Allah ingkang dados pamomong kulo, kulo aturi njagi kulo amin.” (Malaikat Allah yang menjadi pelindungku, aku mohon perlindunganmu amin.)

Seperti apa malaikat itu?

Kiranya orang-orang yang mencintaiku dan dengan cintanya menuntun hidupku itulah malaikat-malaikat yang Tuhan berikan bagiku.
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here