Renungan Harian Jum’at 19 Maret 2021: Menghilang

0
1,057 views
Ilustrasi- Pengantin pria menghilang. (Ist)


Hari Raya St. Yusuf, Suami SP Maria
 
Bacaan I: 2Sam. 7: 4-5a. 12-14a. 16
Bacaan II: Rom. 4: 13. 16-18.22
Injil: Mat. 1: 16. 18-21. 24a.
 
BEBERAPA tahun yang lalu, ada kehebohan di kota kecil kami. Kehebohan ini terjadi karena adanya perkawinan yang tinggal menghitung hari tiba-tiba saja lalu dibatalkan oleh pihak mempelai pria. Lalu sesudahnya, calon mempelai pria “menghilang”.

Semua orang langsung menghakimi calon mempelai pria ini sebagai laki-laki yang tidak bertanggungjawab, pengecut dan segala sumpah serapah jelek. Semua orang melihat pihak mempelai perempuan sebagai korban kejahatan dari calon mempelai pria.

Terlebih keluarga mempelai perempuan selalu menceritakan bagaimana anak perempuannya sebagai perempuan yang baik dan setia.
 
Keluarga mempelai perempuan datang menemui saya, menumpahkan segala kemarahan dan kekesalannya.

Mereka semua marah besar. Bahkan muncul kalimat-kalimat ancaman untuk calon mempelai pria. Mereka merasa dipermalukan yang amat sangat, merasakan kepercayaan yang selama ini diberikan dilukai.

Mereka menyebut mempelai pria sebagai iblis berwajah malaikat.
 
Setelah melalui berbagai usaha, saya bisa bertemu dengan calon mempelai pria di kota lain. Dalam perjumpaan itu, hal pertama yang saya tanyakan adalah sebenarnya ada masalah apa menurut pandangan mempelai pria ini.
 
“Romo, kalau saya bukan sumber masalahnya, maka akan mempermalukan keluarga calon isteri saya, dan  calon isteri saya. Keputusan saya menghilang karena saya mencintai dan menghormati calon isteri saya dan menghormati serta menjaga nama baik keluarga besarnya. Saya tahu Romo, dan saya mendengar semua caci maki dan sumpah serapah bahkan ancaman-ancaman yang dialamatkan ke saya.

Semua itu amat menyakitkan bagi saya, tetapi saya mau menanggung semua itu. Dengan semua itu membuat keluarga calon isteri saya dan calon isteri saya ada di pihak yang benar dan terhormat.
 
Romo, karena saya menghargai perjuangan Romo untuk menemui saya dan Romo tidak menghakimi saya, maka saya akan bercerita hanya kepada Romo. Tidak kepada siapa pun; juga pada keluarga saya.
 
Romo, saya amat mencintai dia, dan saya merasakan dia juga mencintai saya sehingga kami memutuskan untuk menikah. Sejak 6 bulan sebelum menikah, saya agak curiga dengan calon isetri saya. tentang adanya orang ketiga diantara kami.

Tetapi saya berusaha buang jauh-jauh kecurigaan saya itu. Sampai terbukti saya melihat sendiri dia ternyata berselingkuh. Dan dia mengakui bahwa dia sebenarnya mau menikah dengan saya; hanya untuk menyelamatkan nama baik keluarganya.
 
Romo, dia berselingkuh tidak dengan pria lain, tetapi dengan seorang perempuan, sahabatnya sejak kecil.

Dia mengakui bahwa dia sebenarnya sudah lama menjalin hubungan dengan sahabatnya ini, karena kedua mempunyai orientasi seksual yang berbeda.

Jadi sebenarnya keputusan menikah adalah sebuah penderitaan baginya. Dia sesungguhnya tidak ingin menikah.
 
Romo mendengar pengakuannya itu, maka saya memutuskan membatalkan perkawinan ini dan “menghilang” demi kebahagiaan dia, demi kehormatan dia dan keluarganya.”
 
Saya terkejut dan ada rasa luka yang mendalam muncul dalam diri saya.

Ini seorang pria yang luar biasa. Saya bisa merasakan betapa sulit dan menderita luar biasa menjadi seperti dia.

Maka saya memutuskan untuk menemui calon mempelai perempuan dan meminta dia berani jujur dengan keluarganya agar semua menjadi jelas dan demi kebaikan semua.
 
Pengalaman cinta dan hormat yang luar biasa yang ditunjukkan oleh calon mempelai pria ini.

Pengalaman ini membantu saya untuk melihat sosok luar biasa dalam diri St. Yusuf, yang memutuskan untuk meninggalkan Maria tunangannya.

Pergulatan dan kerelaan menanggung luka yang luar biasa dari sebuah keputusan demi cinta dan kehormatan untuk orang yang dicintainya.

Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan St. Matius: “Karena Yusuf suaminya seorang yang tulus hati, dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.”
 
Bagaimana dengan aku?

Adakah aku berani membuat keputusan tidak hanya untuk menguntungkan diriku sendiri?
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here