Romo Agustinus Wahyobawono Pr, Imam Diosesan Pertama Keuskupan Purwokerto

0
151 views
Romo Agustinus Wahyobawono Pr, Imam Diosesan Pertama Keuskupan Purwokerto

ROMO Agustinus Wahyobawono Pr adalah imam praja (diosesan) pertama Keuskupan Purwokerto.

Ia lahir di Prembun, Kabupaten Kebumen, 4 Januari 1919. Meninggal sebagai imam di Purbalingga tanggal 22 Januari 1998; dimakamkan di Mausoleum Kaliori.

Nama baptisnya Agustinus dipakai sebagai identitas nama Seminari Tahun Orientasi Rohani Keuskupan Purwokerto.

Wilayah Keuskupan Purwokerto

Wilayah Keuskupan Purwokerto meliputi Karisidenan Kedu Bagian Selatan, Pekalongan, dan Banyumas.

Corak budaya pesisiran, Yogya Mataram, dan Banyumasan dengan logat ngapak-nya mewarnai keuskupan ini.

Pada awalnya, wilayah ini menjadi karya misi Serikat Jesus. Kemudian, mulai tanggal 27 Oktober 1927, wilayah cukup luas ini diserahkan kepada Tarekat MSC hingga kemudian menjadi keuskupan tahun 1961.

Merintis kemandirian

Romo Wahyo menerima Sakramen Imamat dan ditahbiskan menjadi imam tahun 1948 oleh Mgr. Albertus Soegijapranata SJ. Ia ikut serta merintis kemandirian Keuskupan Purwokerto.

Hal itu terasa ketika para misionaris Belanda diinternir oleh Jepang. Peran imam pribumi saat itu begitu diperlukan bagi perkembangan iman umat.

Romo Wahyo kecil hidup dengan kesejahteraan yang cukup memprihatinkan lantaran dampak praktik politik Cultuur Stelsel.

Meskipun demikian, ia merasa terpanggil  menjadi imam. Dari syering keluarganya, terungkap keinginan Romo Wahyo ingin bisa memajukan masyarakat baik secara rohani maupun jasmani.

Keinginan itu pun terwujud melalui jalan hidupnya sebagai imam.

Seorang frater calon imam diosesan Keuskupan Purwokerto tengah menjalani studi teologi di Fakultas Teologi Wedabakti Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ia bernama Fr. Aat.

Karyanya tidak terbatas pada wilayah Keuskupan Purwokerto.

Romo Wahyo pernah berkarya di Keuskupan Ketapang, Surabaya, dan pernah menjadi pastor militer di Jakarta.

Ia juga merintis iman umat di beberapa tempat pelosok Keuskupan Purwokerto seperti Kapencar, Kroya, dan stasi-stasi dari Paroki Pekalongan.

Kedekatan Romo Wahyo dengan umat setempat sangat mewarnai karya pastoralnya.

Selain itu, Romo Wahyo begitu tergerak hatinya untuk memperbaiki perekonomian umat.

Banyak gagasan yang dia lontarkan bahkan tidak jarang uang pribadinya pun dijadikan modal untuk membuka beberapa usaha demi umat.

Itulah wujud cinta Romo Wahyo bagi umat yang dilayaninya.

Bagi banyak orang, Romo Wahyo meninggalkan banyak warisan berharga: keteladanan hidup, kesederhanaan, dan kesetiaan pada panggilan.

Warisan inilah yang menjadi modal besar bagi terwujudnya Gereja Partikular yang dewasa dan mandiri.

Apa yang beliau miliki selalu diusahakan sedemikian rupa demi kepentingan umat.

Semoga, semangat Romo Wahyobawono tetap hidup dalam Gereja Keuskupan Purwokerto melalui diri umat, imam dan calon imam.

Berkah Dalem

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here